Reporter: Nadya Zahira | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah berencana mulai memungut cukai minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK) pada tahun ini.
CEO Edvisor Praska Putrantyo menilai penerapan cukai minuman berpemanis dalam kemasan bisa menurunkan daya beli konsumen karena mendorong peningkatan harga jual produk.
“Jika harga produk MBDK naik, maka kemungkinan besar daya beli masyarakat juga akan turun, terlebih jika kenaikan cukainya relatif signifikan,” ujar Praska saat dihubungi Kontan.co.id, Jumat (30/12).
Praska mengatakan, sebelum rencana penerapan cukai tersebut, tren pertumbuhan pos penjualan beberapa emiten produsen MBDK memang sudah melambat. Contohnya PT Ultra Jaya Milk Industri & Trading Comp Tbk. (ULTJ) dan PT Cisarua Mountain Dairy Tbk. (CMRY).
“Penjualan kedua emiten tersebut tampak relatif melambat dalam 4 kuartal terakhir. Meskipun demikian, kinerja pertumbuhan laba dari kedua emiten itu masih mampu mencetak perbaikan pertumbuhan pos laba bersih pada kuartal II dan III tahun 2023 ini,” kata dia.
Baca Juga: Performa PTBA Terbebani Jebloknya Harga Batubara, Bagaimana Rekomendasi Sahamnya?
Praska menambahkan, pengenaan cukai MBDK tersebut dapat menghambat laju pertumbuhan penjualan. Terlebih mayoritas atau lebih dari 90% penjualan ULTJ dikontrbusi oleh produk minuman. Sementara CMRY sekitar lebih dari 40% terhadap penjualan.
“Karena itu, jika pertumbuhan pos pendapatan melambat, maka juga dapat mempengaruhi perlambatan pertumbuhan di pos laba di sepanjang tahun 2024, terlebih jika margin biaya cenderung meningkat,” kata dia.
Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi juga mengatakan, kebijakan cukai MBDK akan berdampak pada emiten yang menyandarkan penjualannya pada produk minuman manis.
Pasalnya, pengenaan cukai pada minuman berpemanis dalam kemasan akan menaikkan harga jual barang, sehingga penjualan berpotensi menurun. “Terlebih jika wacana pengenaan cukai ini lebih besar dari 10%,” ujar Audi kepada Kontan.co.id, Kamis (28/12).
Baca Juga: Ada Skandal Daihatsu, Cek Rekomendasi Saham Astra International (ASII)
Audi menyampaikan, jika asumsi pengenaan cukai sebesar 10%, maka jelas akan menggerus laba emiten karena dikhawatirkan penjualan akan lebih lambat.
Meski begitu, Audi masih melihat adanya potensi pertumbuhan laba ULTJ dan CMRY untuk tahun ini. Pasalnya, kedua emiten tersebut merupakan pemimpin terbesar di pasar susu Indonesia.
Alhasil, dia masih merekomendasikan buy saham CMRY dengan target harga Rp 5.025 per saham, dan buy saham ULTJ dengan target harga Rp 1.640 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_23102611123400.jpeg)
