Reporter: Vivit Dewi | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Koreksi pasar saham mendorong investor untuk lebih cermat dalam mengelola portofolio investasi. Di tengah kondisi tersebut, diversifikasi ke instrumen lain seperti reksadana dapat menjadi alternatif untuk menjaga keseimbangan risiko investasi.
Berdasarkan data Infovesta per 30 Oktober 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 41,52% secara year to date (YTD) dan 16,70% secara bulanan atau month on month (MoM).
Di tengah koreksi tersebut, indeks reksadana pasar uang masih mencatatkan kinerja positif dengan kenaikan 3,59% YTD dan 0,42% MoM. Sementara itu, indeks reksadana pendapatan tetap turun 0,84% YTD, meski naik 0,91% MoM.
Baca Juga: Wall St Jumat (6/11): Nasdaq Naik 1,23%, Saham Semikonduktor Bangkit Usai Aksi Jual
Adapun indeks reksadana campuran terkoreksi 12,78% YTD dan 5,83% MoM. Indeks reksadana saham juga melemah 25,31% YTD dan 10,62% MoM.
Sejalan dengan itu, Ketua Panitia Sosialisasi dan Edukasi (Sosedu) APRDI 2026 Gresia Kusyanto mengatakan, bahwa pengalaman berinvestasi di pasar saham tidak lantas membuat investor bisa mengabaikan instrumen lain.
"Reksadana itu bukan cuma buat investor pemula. Buat investor se-advanced atau secanggih apa pun atau sudah trader sejati, menurut saya kombinasi investasi di reksadana itu perlu dilakukan," ujar Gresia dalam seminar Capital Market Summit & Expo di Bursa Efek Indonesia, Jumat (6/11/2026).
Salah satu pilihan yang dapat dipertimbangkan adalah reksadana pasar uang, terutama bagi investor yang memiliki dana menganggur di Rekening Dana Nasabah (RDN). Dana tersebut dapat ditempatkan sementara pada reksadana pasar uang sembari menunggu momentum untuk kembali masuk ke pasar saham.
Terlebih, sejumlah perusahaan sekuritas juga telah menjadi agen penjual reksadana. Dengan begitu, investor dapat memanfaatkan produk tersebut sebagai alternatif penempatan dana sebelum kembali membeli saham.
"Kalau kondisi lagi turun, mendingan sekarang di reksadana pasar uang karena volatilitasnya paling kecil. Nanti ketika sudah merasa nyaman, pengen beli saham lagi, reksadana pasar uang kan bisa dicairkan sewaktu-waktu," kata Gresia.
Baca Juga: Transaksi Derivatif Kripto di Indonesia Tembus Rp 5,8 Triliun pada September 2026
Gresia bilang, setiap jenis reksadana memiliki karakteristik dan tingkat risiko yang berbeda sehingga perlu disesuaikan dengan tujuan investasi serta jangka waktu penggunaan dana.
Reksadana pasar uang, misalnya, mayoritas menempatkan dana pada instrumen pasar uang dan efek bersifat utang dengan jatuh tempo relatif pendek. Karena itu, jenis ini cenderung memiliki fluktuasi lebih rendah dan dapat dipertimbangkan untuk kebutuhan jangka pendek maupun dana darurat.
Sementara itu, reksadana pendapatan tetap lebih banyak berinvestasi pada obligasi. Gresia menyebut, produk ini dapat dipertimbangkan untuk investor dengan jangka waktu investasi sekitar satu hingga tiga tahun.
Adapun reksadana saham dapat menjadi alternatif bagi investor yang ingin memperoleh eksposur ke pasar saham, tetapi belum yakin menentukan saham yang akan dibeli. Dalam produk ini, manajer investasi (MI) melakukan seleksi dan mengelola portofolio saham sesuai strategi investasi.
"Kalau merasa tidak yakin mau pilih saham apa, sudah, beli lewat reksadana. Karena manajer investasi itu memang punya kriteria penyaringan yang sangat ketat," jelasnya.
Meski demikian, Gresia mengingatkan investor agar tidak mengambil keputusan hanya karena harga saham sedang turun atau terlihat murah. Investor tetap perlu memperhatikan kondisi fundamental dan prospek perusahaan sebelum masuk ke pasar saham.
Baca Juga: Bitcoin dan Ethereum Melemah, Sentimen Kripto Ini Wajib Dicermati November 2026
Selain memilih instrumen yang sesuai, kedisiplinan berinvestasi juga menjadi hal penting. Investor dengan penghasilan terbatas dapat menerapkan strategi dollar cost averaging (DCA), yakni berinvestasi secara berkala dengan nominal yang telah ditentukan tanpa harus menunggu momentum pasar yang dianggap paling tepat.
Sementara itu, investor yang memperoleh dana dalam jumlah besar, seperti bonus atau hasil penjualan aset, dapat mempertimbangkan investasi sekaligus atau lump sum dengan tetap memperhatikan profil risiko dan tujuan keuangan.
Gresia juga mengingatkan masyarakat agar mulai menyisihkan dana untuk investasi secara rutin. Menurutnya, investasi tidak harus dimulai dengan nominal besar karena pembelian reksadana dapat dilakukan dengan modal yang relatif terjangkau, bergantung pada ketentuan produk dan platform yang digunakan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_23102611123400.jpeg)
