kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.857.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.020   -18,00   -0,11%
  • IDX 7.027   -157,66   -2,19%
  • KOMPAS100 971   -21,90   -2,21%
  • LQ45 715   -12,21   -1,68%
  • ISSI 251   -5,90   -2,30%
  • IDX30 389   -4,63   -1,18%
  • IDXHIDIV20 483   -4,52   -0,93%
  • IDX80 109   -2,25   -2,01%
  • IDXV30 133   -1,42   -1,05%
  • IDXQ30 127   -1,23   -0,96%

Crossing saham ketika pasar bullish


Senin, 09 Oktober 2017 / 07:11 WIB
Crossing saham ketika pasar bullish


Reporter: Dityasa H Forddanta | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Transaksi tutup sendiri atau crossing saham turut meramaikan bursa saham belakangan ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang beberapa kali memperbarui rekor ditengarai menjadi pemicunya.

KONTAN mencatat, setidaknya ada crossing saham senilai total Rp 9,86 triliun sepanjang kuartal III-2017. Terbaru, crossing saham Bayan Resources (BYAN) senilai Rp 1,15 triliun. 

Enel Investment Holding BV menjadi pihak yang menjual 333,33 juta saham BYAN di harga Rp 3.463 per saham. Sementara, Low Tuck Kwong, yang tak lain pemilik BYAN, menjadi pihak pembeli.

Awal bulan ini juga terjadi crossing saham Summarecon Agung (SMRA). Nilainya mencapai Rp 1,38 triliun. Crossing terjadi atas 6,68% dari seluruh total saham SMRA, yakni 14,44 miliar saham. Sebelumnya, crossing sempat terjadi di sejumlah saham, seperti Nusantara Infrastructure (META), Lippo Karawaci (LPKR) dan emiten lainnya.

Analis OSO Sekuritas Riska Afriani menilai, pemicu ramainya crossing saham adalah capital gain yang diincar dari pemegang saham tertentu. "Seperti diketahui IHSG beberapa kali mencetak rekor sepanjang tahun ini," ujar dia, Minggu (8/10). Sehingga investor dengan kepemilikan saham besar memiliki alasan untuk meraup untung dari investasi yang diendapkan selama beberapa tahun itu.

Contoh, hal ini terjadi pada crossing saham LPKR. Pacific Asia Holding Ltd menjual LPKR seharga Rp 1,2 triliun melalui crossing atas 4,88% saham. Pada 2011, Pacific Asia Holding masuk LPKR dengan harga lebih murah, yakni Rp 957 miliar.

Meski demikian, ada sejumlah crossing saham bukan pada harga premium, bahkan di harga lebih murah dibandingkan harga pertama pembeliannya. Contohnya Enel Investment. Perusahaan asal Italia ini masuk BYAN pada initial public offering (IPO) di 2008 silam. Kala itu Enel, membeli 10% saham BYAN senilai Rp 1,93 triliun. Sementara penjualannya kemarin melalui crossing Rp 1,15 triliun.

Kendati lebih murah, setidaknya Enel sudah banyak meraup untung, salah satunya dari dividen yang dibayarkan BYAN. "Investor sudah memiliki target tertentu soal gain, dan jual beli seperti ini biasa," kata Riska.

Selain itu, untung atau belum, crossing saham ada kaitannya dengan rencana ekspansi. Ada calon pemegang saham baru yang bersedia mendukung ekspansi emiten, sehingga terjadi perubahan kepemilikan setelah crossing. Oleh sebab itu, kata Riska, setelah crossing, kemungkinan ada aksi korporasi demi mendukung ekspansi.

Crossing saham tak mempengaruhi harga di pasar reguler. Tapi, investor, terutama ritel, bisa masuk memanfaatkan peluang aksi ini. "Dengan crossing, ada ekspektasi setidaknya soal prospek kinerja," tutur Riska.

Seperti crossing BBCA beberapa waktu lalu. Ada ekspektasi kinerja alebih positif, sehingga saham BBCA menjadi makin menarik. Namun harganya saat ini sudah tinggi, sehingga Riska merekomendasikan hold.

Meski demikian, tak semua crossing saham berjalan mulus. Hal ini terjadi pada crossing saham META yang masih menjadi sorotan.

Budi Untung, pakar hukum bisnis yang juga dosen Universitas Pelita Harapan dan Universitas Janabadra Yogyakarta, turut mencermati proses crossing saham META dari awal. Menurut dia, tetap perlu ada tender offer setelah crossing itu.

Hal ini mengacu pada perubahan kepemilikan saham META. Sebelum crossing, pengendalinya Eagle Infrastructure Fund Limited (EI) sebanyak 3,4 miliar (22,3%) dan PT Hijau Makmur Sejahtera (HMS) 3,2 miliar (21%). Setelah crossing, PT Matahari Kapital Indonesia (MKI)  menguasai 6,6 miliar saham atau 43%. "Dengan membeli saham dari HMS, sifat pengendalian MKI sekarang jauh lebih kuat, ini kan perubahan pengendalian," ujar Budi.

Otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) sempat menyoroti transaksi crossing saham META tersebut. Tapi, manajemen META melalui klarifikasinya ke Bursa Efek Indonesia memastikan tak ada perubahan pengendali perusahaan. "Namun, klarifikasi itu saja tidak cukup, perlu dokumen legal sampai pemegang saham akhir (ultimate shareholder)," ungkap Budi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×