kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.954.000   50.000   1,72%
  • USD/IDR 16.853   10,00   0,06%
  • IDX 8.212   -53,08   -0,64%
  • KOMPAS100 1.158   -9,98   -0,85%
  • LQ45 830   -9,73   -1,16%
  • ISSI 295   -1,25   -0,42%
  • IDX30 432   -3,95   -0,91%
  • IDXHIDIV20 516   -4,82   -0,92%
  • IDX80 129   -1,21   -0,93%
  • IDXV30 142   -0,67   -0,47%
  • IDXQ30 139   -1,75   -1,24%

Cita Mineral (CITA) bakal rights issue untuk bayar utang, ini kata analis


Kamis, 30 Januari 2020 / 19:29 WIB
Cita Mineral (CITA) bakal rights issue untuk bayar utang, ini kata analis
ILUSTRASI. Karyawan melintas di depan papan pancatatan saham di Bursa Efek Indonesia Jakarta, Senin (13/1). Cita Mineral Investindo (CITA) akhirnya menetapkan harga pelaksanaan rights issue sebesar Rp 2.022 per saham./pho KONTAN/Carolus Agus Waluyo/13/01/2020


Reporter: Akhmad Suryahadi | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA) akhirnya menetapkan harga pelaksanaan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue sebesar Rp 2.022 per saham. Pada perdagangan hari ini, saham CITA ditutup menguat 1,55% ke level 1.960.

Dalam rights issue ini, CITA akan melepas sebanyak-banyaknya 648,22 juta saham baru. Dus, emiten sektor pertambangan ini membidik dana segar Rp 1,3 triliun dengan catatan jika seluruh pemegang saham menggunakan haknya.

Baca Juga: Volume penjualan CPO Dharma Satya Nusantara (DSNG) naik 46% di tahun 2019

Melansir keterbukaan informasi, CITA bakal menggunakan dana hasil rights issue ini untuk tiga tujuan. Yang pertama, sekitar 48,16% dialokasikan untuk membayar seluruh pokok dan bunga utang bank jangka panjang perseroan dengan Oversea-Chinese Banking Corporation Ltd.

Menilik laporan keuangan per September 2019, CITA memiliki utang jangka panjang dengan bank ini sebesar US$ 44 juta atau setara Rp 623,66 miliar.

Kedua, sebanyak 36,92% akan digunakan untuk membayar seluruh pokok dan bunga utang bank lancar entitas anak perseroan yakni PT Harita Prima Abadi Mineral kepada DBS Bank Ltd., Oversea-Chinese Banking Corporation Ltd. dan PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP).

Sementara sisanya akan digunakan untuk modal kerja perseroan. Ini berarti, sebagian besar besar dana hasil rights issue ini bakal digunakan perseroan untuk membayar utang.

Baca Juga: Bali Towerindo (BALI) rilis obligasi tahap I senilai Rp 800 miliar

Adapun yang bertindak sebagai pembeli siaga adalah Glencore yang akan melaksanakan seluruh HMETD sejumlah 116,68 juta dan seluruh HMETD yang dialihkan dari Harita Jayaraya sejumlah 472,94 juta saham baru. 

Setelah rights issue, persentase kepemilikan Glencore pada CITA akan naik dari 18% menjadi 29,77%. Sementara kepemilikan publik tetap 9,04% dengan catatan seluruh pemegang saham publik menggunakan haknya.

Lantas, apakah aksi korporasi ini cukup menarik bagi pemegang saham publik?

Direktur Cita Mineral Investindo Yusak Lumba Pardede mengatakan CITA telah melakukan transparansi informasi sesuai aturan bursa. Dus, ia mengembalikan keputusan untuk menggunakan HMETD kepada masing-masing investor.

“Dimana biasanya investor atau pemegang saham akan menganalisis sendiri dari informasi yang kami keluarkan melalui BEI atau koran,” terang Yusak kepada Kontan.co.id, Kamis (30/1).

Baca Juga: Analis: Holding rumahsakit pelat merah bukan ancaman bagi swasta

Presiden Direktur CSA Institute Aria Santoso menilai, pelaksanaan rights issue yang menarik pada umumnya ditujukan untuk pengembangan bisnis. 

Jika melihat konteks CITA yang saat ini memiliki liabilitas sebesar Rp 1,8 triliun, maka pembayaran utang ini bakal memperbaiki rasio likuiditas perseroan. “Aksi korporasi ini akan mendilusi para pemegang saham minoritas yang kemungkinan tidak menebus haknya,” terang Aria kepada Kontan.co.id, Kamis (30/1).

Memang, bagi pemegang saham yang tidak menggunakan haknya, aksi korporasi ini memberikan efek dilusi 16,1%.

Baca Juga: Volume overburden removal (OB) Delta Dunia Makmur (DOID) masih sesuai target

Sementara itu, terkait harga pelaksanaan rights issue yang saat ini di atas harga pasar, Aria tidak menampik hal tersebut bakal menyurutkan pemegang saham publik untuk menggunakan haknya.

Namun, ia menilai harga pelaksanaan rights issue tersebut cukup murah jika dibandingkan dengan kinerja CITA.

Di sisi lain, Analis Panin Sekuritas William Hartanto menilai, meskipun tujuan rights issue yang dilakukan oleh CITA adalah untuk membayar utang, namun ia menilai aksi korporasi ini cukup menarik.

“Saham akan lebih likuid dan secara teknikal uptrend maka masih bisa diikuti, tetapi mungkin yang mau menebus right-nya sedikit,” ujar William kepada Kontan.co.id, Kamis (30/1).

Baca Juga: Sido Muncul (SIDO) targetkan perbesar kontribusi ekspor hingga 10% di 2020

Secara teknikal, William merekomendasikan investor untuk wait and see saham CITA di level support Rp 1.910. Lalu, investor bisa buy pada area tersebut dengan target Rp 2.250.

Senada, Aria menilai CITA masih memiliki prospek yang baik di tahun ini. “Bagi yang ingin berinvestasi boleh mempelajari laporan keuangan tahunan 2019 dan melakukannya setelah selesai aksi korporasi HMETD,” pungkasnya.

Kinerja Kuartal III-2019
Menilik kuartal-III 2019, CITA membukukan pendapatan hingga sebesar Rp 2,78 triliun atau naik 95,77% secara tahunan dibandingkan periode sama di tahun lalu sebesar Rp 1,42 triliun.

Baca Juga: Island Concept (ICON) belum akan realisasikan aksi korporasi tahun ini, kenapa?

Dari sisi bottom up, CITA membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk hingga Rp 649,18 miliar atau tumbuh 24,03% secara tahunan.

Dari sisi liabilitas, CITA menanggung kewajiban sebesar Rp 1.82 triliun. Sementara itu, jumlah ekuitas CITA mencapai Rp 2.15 triliun. Dengan demikian, total aset CITA pada Sembilan bulan pertama 2019 mencapai Rp 3,97 triliun.

Sehingga, Debt to Equity Ratio (DER) CITA pada Sembilan bulan pertama 2019 adalah sebesar 0,84 kali.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! [Intensive Workshop] Excel for Business Reporting

[X]
×