Reporter: Hikma Dirgantara | Editor: Yudho Winarto
Sejalan dengan peningkatan produksi TBS, produksi CPO LSIP juga meningkat 7% YoY menjadi 86 ribu ton.
Ke depan, Yasmin menilai LSIP bisa mendapatkan keuntungan dari perubahan pungutan pajak ekspor Indonesia mulai 2 Juli 2021.
Berdasarkan struktur pungutan ekspor progresif yang baru, pungutan maksimum atas ekspor CPO akan menjadi US$ 175/ton ketika harga referensi di atas US$ 1.000/ton.
Hal tersebut menyiratkan pemotongan US$ 80/ton dari tarif yang telah diterapkan sejak 10 Desember 2020.
Pemotongan retribusi secara progresif menurun pada harga referensi yang lebih rendah, dengan tarif retribusi terendah US$ 55/ton (tidak berubah vs sebelumnya) yang akan berlaku jika referensi harga berada pada atau di bawah US$ 750/ton.
Baca Juga: Analis kompak rekomendasikan beli saham LSIP di tengah tren kenaikan harga CPO
“Pungutan ekspor yang lebih rendah kemungkinan akan mendorong ekspor dari Indonesia dan meningkatkan realisasi harga bagi produsen CPO seperti LSIP dalam beberapa bulan ke depan,” imbuh Yasmin.
Untuk tahun ini, Yasmin masih mempertahankan harga CPO global akan sebesar RM 4.000/ton atau setara dengan US$ 960/ton.
Dus, ia memproyeksikan LSIP akan membukukan pendapatan sebesar Rp 3,93 triliun dengan laba bersih Rp 813 miliar.
Ciptadana Sekuritas memberikan rekomendasi beli untuk saham LSIP dengan target harga Rp 2.070 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














