Reporter: Ahmad Febrian | Editor: Ahmad Febrian
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah hingga perubahan arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS) diperkirakan akan menjadi faktor utama yang memengaruhi pasar keuangan global pada kuartal II-2026.
Dalam laporan terbarunya, Chief Investment Office (CIO) DBS menilai, investor perlu mengedepankan manajemen risiko di tengah ketidakpastian tersebut. Termasuk dengan meningkatkan eksposur ke emas serta melakukan diversifikasi portofolio.
Salah satu risiko utama berasal dari konflik di Timur Tengah yang berpotensi mendorong kenaikan harga energi. Perkembangan di Selat Hormuz menjadi krusial mengingat jalur ini merupakan titik penting perdagangan minyak dan LNG global. Kenaikan harga energi dinilai dapat meningkatkan inflasi dan membatasi ruang pelonggaran moneter.
Selain itu, arah kebijakan bank sentral AS (The Fed) juga menjadi perhatian. Perubahan narasi kebijakan membuka peluang pemangkasan suku bunga, namun di sisi lain juga meningkatkan kemungkinan pengetatan likuiditas melalui quantitative tightening.
Di tengah kondisi tersebut, DBS melihat adanya potensi pergeseran alokasi investasi global. Investor mulai didorong untuk mengurangi eksposur pada aset yang sudah terlalu padat (crowded trades) dan beralih ke pasar negara berkembang serta Jepang.
"Secara umum, DBS mengambil pandangan netral terhadap berbagai kelas aset," tulis CIO DBS, dalam keterangannya, Selasa (17/3).
Baca Juga: Strategi Mengelola THR dengan Bijak dan Berkesadaran Agar Keuangan Tetap Terjaga
Ekonomi AS dinilai masih cukup tangguh meski mulai menunjukkan tanda moderasi, dan belum mengarah pada resesi pada tahun ini. Laba perusahaan global diperkirakan tetap tumbuh sekitar 17% pada 2026.
Di pasar ekuitas, DBS mempertahankan pandangan netral untuk saham AS. Sementara itu, saham Asia di luar Jepang dinilai masih menarik dari sisi valuasi dan prospek pertumbuhan laba. Untuk Jepang, peringkat ditingkatkan menjadi netral dengan dukungan reformasi dan stimulus fiskal.
Pada instrumen pendapatan tetap, DBS juga mengubah pandangan menjadi netral, meski tetap mempertahankan preferensi pada obligasi dengan peringkat investment-grade.
Adapun pada aset alternatif, DBS tetap berpandangan positif terhadap emas sebagai lindung nilai di tengah ketidakpastian geopolitik dan risiko pelemahan dolar AS. Selain itu, dana lindung nilai (hedge fund) dinilai semakin relevan untuk menghadapi volatilitas pasar.
Dari sisi mata uang, dolar AS diperkirakan cenderung melemah seiring menyempitnya kesenjangan pertumbuhan ekonomi global dan meningkatnya ketidakpastian kebijakan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













