Reporter: Dimas Andi | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) berencana menerbitkan Obligasi Berkelanjutan V Chandra Asri Pacific Tahap III Tahun 2026 dengan jumlah pokok senilai Rp 2,25 triliun. Surat utang ini merupakan bagian dari rangkaian Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) V dengan total nilai penerbitan Rp 6 triliun.
Sebagai informasi, Obligasi Berkelanjutan V Chandra Asri Pacific Tahap III Tahun 2026 terdiri dari empat seri. Seri A memiliki jumlah pokok sebesar Rp 1,32 triliun dengan tingkat bunga tetap sebesar 8,50% per tahun dan jangka waktu 370 hari kalender sejak tanggal emisi.
Seri B memiliki jumlah pokok sebesar Rp 532,20 miliar dengan tingkat bunga tetap 9% per tahun dan jangka waktu 3 tahun sejak tanggal emisi. Seri C memiliki jumlah pokok Rp 177,53 miliar dengan tingkat bunga tetap sebesar 9,50% per tahun dan jangka waktu 5 tahun sejak tanggal emisi. Adapun Seri D memiliki jumlah pokok sebesar Rp 221,83 miliar dengan tingkat bunga tetap sebesar 10% per tahun dan jangka waktu 7 tahun sejak tanggal emisi.
Baca Juga: Kepemilikan BI Kian Dominan di SBN, Asing Justru Switching ke SRBI
Masa penawaran umum obligasi ini akan berlangsung pada 6-9 Juli 2026, sedangkan pencatatan di Bursa Efek Indonesia (BEI) dilaksanakan pada 15 Juli 2026.
Dana yang diperoleh dari penerbitan obligasi ini akan digunakan untuk kebutuhan modal kerja TPIA, terutama untuk mendukung pengadaan bahan baku produksi yang digunakan dalam kegiatan operasional.
Group CFO dan Direktur Chandra Asri Pacific, Andre Khor menyampaikan, keberhasilan penyelesaian PUB V serta tingginya minat investor yang tercermin dari kelebihan permintaan pada penerbitan obligasi tahap akhir menunjukkan kepercayaan berkelanjutan investor terhadap fundamental bisnis dan prospek pertumbuhan jangka panjang TPIA.
TPIA pun menyampaikan apresiasi yang sebesar-besarnya atas kepercayaan yang diberikan oleh para investor, dan tetap berkomitmen untuk menjaga disiplin keuangan sekaligus memperkuat keunggulan operasional dan daya saing perusahaan.
"Dukungan ini memungkinkan kami untuk terus menjalankan strategi pertumbuhan jangka panjang serta berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi Indonesia dan kawasan Asia Tenggara," ujar dia dalam keterbukaan informasi, Rabu (24/6/2026).
Baca Juga: Rupiah Melemah 0,52% ke Rp 17.952 Per Dolar AS, Tertekan Penguatan Dolar AS
Dia melanjutkan, keberhasilan penyelesaian program ini semakin memperkuat fleksibilitas keuangan TPIA, sehingga memungkinkan perusahaan untuk memenuhi kebutuhan operasional sekaligus menjalankan strategi pertumbuhan jangka panjangnya.
Sementara itu, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, penerbitan obligasi tersebut pada dasarnya memiliki dampak positif dan strategis terhadap kelangsungan usaha TPIA. Terlebih lagi, industri petrokimia dan energi bersifat padat modal dan sangat sensitif terhadap fluktuasi harga komoditas global.
Alhasi;, pengalokasian dana untuk kebutuhan bahan baku akan memastikan proses produksi TPIA berjalan optimal tanpa gangguan likuiditas, sehingga pada akhirnya akan menjaga keberlanjutan pasokan produk ke pelanggan.
Memang, penambahan utang melalui obligasi tentu akan meningkatkan jumlah liabilitas pada neraca keuangan TPIA. Namun, hal ini tidak akan mempengaruhi posisi keuangan secara negatif atau signifikan asalkan rasio leverage perusahaan seperti Debt to Equity Ratio (DER) tetap terjaga dalam batas aman.
"Mengingat skala bisnis TPIA yang sangat besar dan statusnya sebagai pemimpin pasar, kapasitas serap pasar terhadap obligasi ini relatif tinggi karena didukung oleh kepercayaan investor terhadap profil kredit perusahaan," ungkap dia, Rabu (24/6).
Terlepas dari itu, TPIA tetap harus memastikan bahwa tingkat pengembalian dari penggunaan modal kerja alias return of investment tersebut lebih tinggi dibandingkan biaya modal atau kupon obligasi yang dibayarkan.
Baca Juga: IHSG Ambruk 3,56% ke 5.883, Top Losers LQ45:BUMI, DEWA, CUAN, Rabu (24/6)
Di samping itu, lantaran industri petrokimia dan energi sangat bergantung pada transaksi valuta asing untuk pembelian bahan baku, maka TPIA wajib melakukan lindung nilai yang efektif untuk mengantisipasi risiko fluktuasi kurs yang dapat meningkatkan beban keuangan perusahaan.
Selain itu, TPIA juga dapat mempertimbangkan diversifikasi sumber pendanaan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku pada masa mendatang. Misalnya dengan mengoptimalkan pendanaan ekuitas, kerja sama pendanaan strategis, hingga pinjaman berkelanjutan.
Secara umum, kinerja TPIA pada masa mendatang masih menunjukkan potensi pemulihan dan pertumbuhan. Saat ini TPIA tidak hanya fokus pada sektor petrokimia, melainkan juga merambah ke sekotr infrastruktur, utilitias, dan energi, sehingga memberi bantalan bisnis yang kuat. "Ini membantu perusahaan untuk mengurangi risiko siklikalitas yang melekat pada industri petrokimia murni," imbuh dia.
Nafan memberi rekomendasi add saham TPIA dengan target harga di level Rp 2.940 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














