Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Credit Default Swap (CDS) Indonesia yang tengah meningkat berpotensi menambah beban pada yield surat berharga negara (SBN) atau obligasi pemerintah.
Berdasarkan data Bloomberg, CDS 5 tahun Indonesia tercatat naik ke level 89,73% pada Senin (18/5/2026) dari 87,09% di Jumat (15/5/2026). CDS 10 tahun naik ke 136,95% pada Senin (18/5/2026) dari 134,06% Jumat (15/5/2026).
Sementara yield SBN tenor 10 Tahun di dalam negeri juga meningkat ke 6,85% pada Senin dari 6,69% di akhir pekan.
Baca Juga: Pendapatan Berulang Jadi Penopang, Analis Rekomendasikan Beli Saham Pakuwon (PWON)
Ekonom Bright Institute, Yanuar Rizky mengatakan bahwa Bank Indonesia (BI) mengalami dilema antara menjaga harga SBN atau menjaga rupiah. Sebab jika harga SBN jatuh, maka Capital Adequacy Ratio (CAR) perbankan akan jatuh. Hal itu yang sejak tahun 2016 dipilih BI yakni menjaga harga SBN agar CAR dijaga.
“Saat ini penopang CAR perbankan itu aset surat berharga (SBN). Jadi, kalo SBN jatuh, CAR jatuh,” ucap Yanuar kepada Kontan, Senin (18/5/2026).
Yanuar mengatakan, CDS mencerminkan premi risiko gagal bayar dalam mata uang dolar AS. Ketika harga SBN dalam denominasi dolar AS jatuh dan rupiah tertekan, persepsi risiko pemegang modal asing otomatis meningkat.
Kenaikan CDS ini adalah sinyal pasar yang mengukur batas ketahanan stamina cadangan devisa dan anggaran operasional BI serta Bond Stabilization Fund (BSF) Kementerian Keuangan dalam melakukan intervensi. Kekhawatiran utama investor bersumber dari kalkulasi defisit fiskal dan kewajiban jatuh tempo SBN.
Adapun, ketika BI menahan kenaikan yield SBN demi menjaga biaya utang pemerintah, instrumen finansial lain harus menanggung penyesuaian pasar seperti yang tercermin pada koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
“Jadi ruang repricingnya pakai saham,, itu yang membuat stabilisasi SBN dibayar sama pelemahan saham dan suku bunga riil pasar uang nya ditahan,” terang Yanuar.
Lebih lanjut Yanuar mengatakan bahwa US treasury yield bergerak fluktuatif sejak Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memainkan isu perang Iran, silih berganti dari menyerang dan damai. Hal ini terkait dengan posisi trading gain di bursa komoditas emas dari order hedge fund (non fisik).
Baca Juga: Cek Rekomendasi Teknikal Saham TLKM, BBRI, RAJA untuk Selasa (19/5)
“Selama ini (US treasury yield 10 tenor) di tahan di 4,5%, dan setiap menyentuh 4,5% harga minyak kembali turun,” kata Yanuar.
Yanuar menambahkan, sinyal AS – China, di satu sisi bisa dibaca bahwa AS – China menjadi sekutu baru, dan ini tampaknya yang mendorong Jepang, baik Bank of Japan (BOJ) dan institusi keuangan Jepang melakukan sell off US Treasury dan menaikkan yield melewati 4,5%.
Di sisi lain, Yanuar melihat Trump juga sedang memainkan isu lagi melalui media sosialnya yang berisi ancaman terhadap Iran.
“Jadi, ketidakpastian masih tinggi tensinya, dan tekanan ke pasar surat utang pemerintah emerging market akan membesar, potensi ada yang gagal fiskal juga membesar, dan Indonesia dalam postur risk itu,” terang Yanuar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













