kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.690.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.783   -127,00   -0,71%
  • IDX 6.365   -44,28   -0,69%
  • KOMPAS100 835   -9,48   -1,12%
  • LQ45 634   -6,17   -0,96%
  • ISSI 221   -1,24   -0,56%
  • IDX30 356   -3,64   -1,01%
  • IDXHIDIV20 434   -4,17   -0,95%
  • IDX80 95   -1,11   -1,15%
  • IDXV30 120   -0,72   -0,60%
  • IDXQ30 113   -1,42   -1,25%

BUMI Bidik Metanol Jadi Sumber Pendapatan Baru


Senin, 10 Agustus 2026 / 18:50 WIB
BUMI Bidik Metanol Jadi Sumber Pendapatan Baru
ILUSTRASI. PT Bumi Resources Tbk (Dok/BUMI)


Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Dina Hutauruk

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) terus mendorong hilirisasi batu bara melalui proyek gasifikasi menjadi metanol di Kutai Timur, Kalimantan Timur. Proyek yang dikembangkan PT Bumi Etam Chemical (BEC), perusahaan patungan PT Arutmin Indonesia dan PT Kaltim Prima Coal (KPC), ini memiliki kapasitas produksi 2 juta ton metanol per tahun.

Dalam pengembangan proyek tersebut, BEC bersama PT Istana Karang Laut (IKL) dan China National Chemical Engineering Co., Ltd. (CNCEC) telah menandatangani kontrak Front-End Engineering Design (FEED) serta Engineering, Procurement, Construction, and Commissioning (EPCC) Framework Agreement.

Penandatanganan ini menjadi salah satu tahapan penting dalam pengembangan Proyek Strategis Nasional Coal-to-Methanol. Kontrak FEED menjadi dasar rekayasa awal proyek, sedangkan kerangka EPCC menjadi landasan untuk tahap pengadaan, konstruksi, hingga commissioning fasilitas produksi metanol.

Proyek ini merupakan bagian dari strategi BUMI meningkatkan nilai tambah batu bara. Analis MNC Sekuritas Raka Junico menilai proyek gasifikasi itu menjadi langkah strategis BUMI untuk meningkatkan nilai tambah produk sekaligus mendiversifikasi bisnis secara bertahap, sejalan dengan strategi jangka panjang perseroan.

“Masuknya proyek ke tahap FEED memperlihatkan bahwa rencana hilirisasi BUMI mulai bergerak menuju fase pengembangan yang lebih konkret,” ujar Raka, Senin (10/8/2026).

Baca Juga: Bumi Resources (BUMI) Berencana Akuisisi Loyal Metals, Berikut Perkembangannya

Menurut dia, tahap FEED akan menjadi dasar untuk menentukan desain fasilitas, teknologi yang digunakan, estimasi investasi, hingga kelayakan pelaksanaan konstruksi. Dengan masuknya proyek ke tahap FEED dan tersedianya kerangka EPCC, tingkat kepastian pengembangannya dinilai lebih kuat dibandingkan saat masih berada pada tahap studi awal.

“Pasar akan melihat proyek ini sebagai milestone penting. Ketika sebuah proyek sudah masuk tahap FEED dan memiliki kerangka pelaksanaan EPCC, tingkat kepastian pengembangannya menjadi lebih kuat dibandingkan ketika masih berada pada tahap studi awal,” katanya.

Selain meningkatkan nilai tambah batu bara, proyek Coal-to-Methanol berpotensi mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor metanol. Peningkatan produksi metanol domestik dapat memperkuat rantai pasok dan mendukung kemandirian industri kimia nasional.

Proyek ini juga diharapkan membuka lapangan kerja, menarik investasi, serta mendorong aktivitas ekonomi di Kalimantan Timur. Kerja sama BEC, IKL, dan CNCEC menggabungkan kapabilitas di bidang rekayasa, pengadaan, konstruksi, investasi, dan pengembangan industri hilir.

Raka menilai hilirisasi batu bara berpotensi menjadi salah satu sumber pertumbuhan jangka panjang BUMI. Namun, kontribusi proyek terhadap kinerja perseroan akan bergantung pada progres rekayasa, kepastian pendanaan, dan pelaksanaan konstruksi.

Baca Juga: Transformasi Mulai Berbuah, BUMI Cetak Laba US$ 59 Juta

“Apabila proyek berjalan sesuai rencana, BUMI tidak hanya memperoleh manfaat dari produksi batu bara, tetapi juga dari pengolahan dan penjualan produk turunannya. Hal ini dapat memperkuat kualitas pendapatan dan membuat model bisnis perseroan lebih terintegrasi,” ujarnya.

Agenda hilirisasi BUMI berjalan seiring dengan strategi memperluas portofolio pertambangan di luar batu bara. Perseroan meningkatkan eksposur pada emas, perak, tembaga, dan mineral industri melalui pengembangan aset dan aksi korporasi.

Di Australia, BUMI melalui Wolfram Limited mengembangkan tambang Mt. Carlton yang memproduksi tembaga dan emas. Produksi berasal dari tambang terbuka area V2, sementara penambangan bawah tanah di area A39 mulai dilakukan untuk mendapatkan bijih berkadar lebih tinggi. Prospek ini juga didukung perjanjian offtake tujuh tahun dengan Glencore untuk pemasaran hasil produksi.

Raka menilai gasifikasi memperkuat hilirisasi batu bara, sementara produksi Wolfram membuka sumber pertumbuhan di luar batu bara. “Kombinasi keduanya berpotensi mengurangi ketergantungan pada satu komoditas dan membuka peluang re-rating jika kontribusi bisnis baru mulai terlihat.” tandasnya. 

Dari sisi kinerja, BUMI mencatat laba bersih US$ 59 juta pada Januari-Juni 2026, naik 189% secara tahunan. Pendapatan meningkat 29% menjadi US$ 867 juta, sedangkan laba usaha tumbuh 51% menjadi US$ 83 juta.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×