Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Dina Hutauruk
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) tengah menyiapkan langkah strategis baru melalui rencana penerbitan obligasi, dengan salah satu fokus penggunaan dana sebesar Rp1,5 triliun untuk anak usahanya, PT Arutmin Indonesia.
Manajemen BUMI menjelaskan, dana tersebut akan digunakan untuk mendukung keberlanjutan operasional Arutmin, termasuk kebutuhan perpanjangan izin usaha pertambangan serta kewajiban hilirisasi batubara sesuai kebijakan pemerintah.
Hilirisasi ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang BUMI, termasuk pengembangan bisnis berbasis nilai tambah seperti konversi batubara menjadi metanol.Proyek gasifikasi batubara tersebut membutuhkan investasi besar sekitar US$ 2,5 miliar atau setara Rp 43 triliun, sehingga pendanaan menjadi faktor krusial.
Rencananya, fasilitas ini akan memproduksi sekitar 2 juta ton metanol per tahun dengan kebutuhan 7,7 juta ton batubara kalori rendah. Groundbreaking ditargetkan pada 2026 dan mulai beroperasi komersial pada 2029.
Baca Juga: Bumi Resources (BUMI) Beri Pinjaman Rp 1,51 Triliun kepada Arutmin Indonesia
Nantinya proyek ini akan dijalankan melalui PT Bumi Etam Chemical (BEC), perusahaan patungan antara Arutmin dan PT Kaltim Prima Coal (KPC), yang keduanya berada di bawah kelompok usaha BUMI.
Ryan Santoso, analis Ciptadana Sekuritas, menilai kehadiran BEC menunjukkan bahwa agenda hilirisasi BUMI telah bergerak ke tahap yang lebih konkret.
“Pinjaman dari BUMI kepada Arutmin merupakan transaksi afiliasi yang memiliki landasan bisnis yang kuat dan masih berada dalam koridor penciptaan nilai tambah bagi pemegang saham.” Kata Ryan, Jumat (5/6/2026).
Ryan melihat penggunaan dana tersebut tidak ditujukan untuk kebutuhan operasional jangka pendek semata, melainkan untuk mendukung keberlanjutan aset tambang sekaligus mempersiapkan proyek-proyek strategis yang dapat membuka sumber pertumbuhan baru di masa depan.
Baca Juga: Bumi Resources (BUMI) Mulai Perdagangkan Obligasi Rp 1,84 Triliun, Begini Prospeknya
“Tujuan penggunaannya relatif jelas. Selain mendukung keberlanjutan bisnis pertambangan, dana tersebut juga menjadi bagian dari persiapan proyek hilirisasi yang berpotensi meningkatkan nilai tambah dan diversifikasi pendapatan grup,” ujarnya.
Ryan menambahkan bahwa skema pinjaman antar perusahaan dalam satu kelompok usaha merupakan praktik yang lazim digunakan karena menawarkan fleksibilitas dan efisiensi dalam pengelolaan modal. Melalui mekanisme tersebut, perusahaan induk dapat menyalurkan pendanaan secara lebih cepat sesuai kebutuhan pengembangan bisnis anak usaha.
Menurutnya, langkah ini juga dapat dibaca sebagai sinyal bahwa BUMI tengah mempersiapkan transformasi bisnis secara bertahap, dari perusahaan yang selama ini dikenal sebagai produsen batubara menjadi kelompok usaha sumber daya alam yang memiliki eksposur lebih besar pada kegiatan pengolahan dan hilirisasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













