kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.809.000   -16.000   -0,57%
  • USD/IDR 17.222   -19,00   -0,11%
  • IDX 7.107   -22,97   -0,32%
  • KOMPAS100 961   -5,51   -0,57%
  • LQ45 687   -4,03   -0,58%
  • ISSI 257   -1,74   -0,67%
  • IDX30 379   -2,57   -0,67%
  • IDXHIDIV20 465   -6,38   -1,35%
  • IDX80 108   -0,59   -0,55%
  • IDXV30 136   -1,32   -0,96%
  • IDXQ30 121   -1,18   -0,97%

BUMI Bakal Akuisisi Loyal Metals Asal Australia, Cermati Rekomendasi Analis


Senin, 27 April 2026 / 19:49 WIB
BUMI Bakal Akuisisi Loyal Metals Asal Australia, Cermati Rekomendasi Analis
ILUSTRASI. PT Bumi Resources Tbk (Dok/BUMI)


Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) berencana mengakuisisi perusahaan tambang asal Australia, Loyal Metals (LLM). 

Rencana tersebut dinilai menjadi langkah bagus untuk meningkatkan kinerja perseroan dalam jangka panjang. Meskipun begitu, kinerja BUMI masih akan terganjal masalah utang dan kas dalam jangka pendek. 

Loyal Metals disebut telah menandatangani Scheme Implementation Deed (SID) atau Perjanjian Implementasi Skema dengan BUMI.

Melalui perjanjian tersebut, BUMI mengajukan penawaran akuisisi Loyal Metals senilai kisaran US$ 79 juta atau dengan harga US$ 0,45 per saham.

Baca Juga: Bumi Resources (BUMI) Dikabarkan Bakal Akuisisi Loyal Metals Asal Australia

Dilansir dari situs industryqld.com, pihak Loyal Metals merekomendasikan agar pemegang saham memberikan suara mendukung skema tersebut, selama tidak ada proposal yang lebih baik dan dengan syarat penilaian indenpenden yang menyatakan bahwa penawaran tersebut sesuai dengan kepentingan perusahaan.

“Sejak pencatatan saham perusahaan pada tahun 2021, kami selalu fokus pada misi kami untuk memberikan nilai bagi para pemegang saham,” kata Founder & Chairman Loyal Metals, Peretz Schapiro, Senin (27/4/2026).

Sebagai informasi, LLM tengah mengembangkan proyek tembaga dan emas Highway Reward yang berlokasi 37 kilometer (km) dari selatan Charters Towers, Queensland Utara. 

Loyal Metals memulai eksplorasi di Highway Reward. Selama beroperasi dari 1987 sampai 2005, Highway Reward mencatatkan total produksi sebesar 3,65 juta ton dengan kadar tembaga 5,7% dan sekitar 260.000 ton dengan kadar emas 4,5 g/t.

Dari proses pengeboran baru-baru ini, telah dikonfirmasi bahwa Loyal Metals memiliki komoditas tembaga, emas, dan perak yang berada di bawah dinding timur bekas tambang terbuka di lokasi tersebut. Di samping itu, Loyal Metals juga memiliki dua proyek lithium di Kanada.

Baca Juga: Proyek Danantara Bakal Jadi Ancaman Bagi Emiten Poultry, Simak Rekomendasi Analis

Dalam pemberitaan KONTAN sebelumnya, BUMI memang tengah fokus merambah bisnis pertambangan non-batubara. Pada November 2025, BUMI mengakuisisi 100% saham perusahaan tambang asal Australia, Wolfram Limited senilai Rp 698,98 miliar. 

Lalu, pada 18 Desember 2025, BUMI mengakuisisi tambang lain di Australia, yakni Jubilee Metals Limited dengan porsi 5,73 juta saham atau setara 64,98%.

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menilai, rencana BUMI untuk mengakuisisi LLM merupakan strategis bisnis yang tepat. Langkah diversifikasi bisnis dari batubara ke emas dan tembaga juga sejalan dengan tren global. 

 

Namun, dampak diversifikasi bisnis tersebut ke kinerja keuangan tidak akan instan. Efek akuisisi baru akan terasa sepanjang 2026–2027 ketika produksi sudah stabil.

Sementara, dalam jangka pendek kinerja BUMI masih tergantung harga batubara dan struktur utang. “Nilai akuisisi LLM juga cukup besar di tengah beban utang yang masih ada,” ujarnya kepada Kontan, Senin (27/4/2026).

Baca Juga: Bea Ekspor Diproyeksi Jadi Beban Tambahan Emiten Batubara, Cek Rekomendasi Analis

Di tahun 2026, katalis positif untuk kinerja BUMI berasal dari harga emas masih tinggi. Wafi bilang, komoditas tembaga juga punya permintaan struktural yang tinggi dari industri electric vehicle (EV).

Wolfram juga ditargetkan beroperasi Juni 2026, serta Jubilee menyusul produksi mulai di kuartal IV 2026. Jika dua proyek tersebut berjalan sesuai rencana, ada tambahan pendapatan baru di semester II 2026.

“Risiko kinerja berasal dari bisnis batubara termal yang berkontribusi 90% bisnis BUMI yang harganya sedang normalisasi, serta beban utang masih besar,” paparnya.

Wafi pun merekomendasikan trading buy untuk BUMI dengan target harga Rp 330 per saham.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menambahkan, aksi tersebut dalam jangka pendek akan memberatkan kas BUMI. 

“Pengembangan itu (tambang non-batubara) bisa jadi sentimen negatif, sehingga harus dieksekusikan secara tepat,” ujarnya kepada Kontan, Senin.

Baca Juga: TPIA Resmi Akuisisi SPBU Esso di Singapura, Cermati Rekomendasi Analis

Tantangan arus kas itu bisa saja diatasi dengan aksi penambahan modal oleh BUMI, seperti rights issue dan private placement.

Emiten Grup Bakrie lainnya juga belakangan ini tengah rajin melakukan aksi korporasi penambahan modal, baik rights issue dan private placement. 

Per akhir April 2026, ada tiga entitas Grup Bakrie yang menjadwalkan rights issue, yaitu PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR), dan PT Graha Andrasentra Propertindo Tbk (JGLE). Sementara, PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) tengah menjadwalkan private placement.

Untuk kinerja secara keseluruhan, kinerja BUMI akan berpengaruh pada volatilitas harga batubara. “Sentimen positifnya dari konsumsi yang masih bisa meningkat dalam 3-5 tahun ke depan kisaran 15%,” ungkapnya.

Nafan pun merekomendasikan accumulative buy untuk BUMI dengan target harga Rp 336 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Capital Structure

[X]
×