Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Ahmad Febrian
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sepanjang tahun 2025, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat lebih dari 5,16 miliar anomali trafik atau indikasi aktivitas siber yang memerlukan perhatian lebih. Tingginya ancaman tersebut menunjukkan, kemampuan merespons insiden kini sama pentingnya dengan upaya pencegahan.
Kondisi tersebut menjadi peluang bagi perusahaan keamanan siber. Salah satunya, PT Itsec Asia Tbk (CYBR) yang memperluas bisnis sekaligus memperkuat kesiapan organisasi menghadapi ancaman siber.
Presiden Direktur Itsec Asia, Patrick Rudolf Dannacher mengatakan, industri keamanan siber kini menjadi sektor yang semakin strategis bagi keberlanjutan bisnis maupun ketahanan nasional.
"Industri keamanan siber kini semakin strategis bagi keberlanjutan bisnis dan ketahanan nasional. Kami memastikan memiliki struktur dan kapabilitas yang tepat untuk menjawab kebutuhan pasar yang berkembang cepat," kata dia, Jumat (26/6). .
Maka, Itsec Asia bersama Asosiasi Digitalisasi dan Keamanan Siber Indonesia (Adigsi) mempertemukan pimpinan perusahaan, praktisi keamanan siber, dan berbagai pemangku kepentingan untuk meningkatkan kesiapan organisasi menghadapi berbagai skenario krisis siber.
Baca Juga: Ada Surat Utang Jatuh Tempo di 2026, Ini Rencana WSKT dan WIKA
Patrick mengatakan, ancaman siber kini tidak lagi menjadi persoalan teknis semata, tetapi telah menjadi isu strategis di tingkat manajemen perusahaan.
Ketika sebuah insiden terjadi, dampaknya bisa meluas ke operasional bisnis, layanan kepada pelanggan, hingga reputasi organisasi. Kesiapan menghadapi krisis siber tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab tim teknologi informasi saja saja. "Para pengambil keputusan juga perlu memahami bagaimana merespons situasi tersebut dengan cepat dan tepat," tegasnya.
Deputi Keamanan Siber dan Sandi Perekonomian BSSN, Slamet Aji Pamungkas mengatakan, penguatan kapasitas menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan ekonomi digital nasional.
"Pemanfaatan teknologi digital yang semakin luas perlu diimbangi dengan peningkatan kemampuan dalam menghadapi berbagai risiko siber. Upaya ini membutuhkan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan agar ruang digital Indonesia dapat tumbuh secara sehat, aman, dan terpercaya," katanya.
ITSEC Asia optimistis prospek bisnis keamanan siber masih akan terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan pengamanan di berbagai sektor. Mulai dari pemerintahan, jasa keuangan, hingga infrastruktur kritikal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














