kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.946.000   102.000   3,59%
  • USD/IDR 16.807   4,00   0,02%
  • IDX 8.147   24,12   0,30%
  • KOMPAS100 1.146   9,03   0,79%
  • LQ45 833   9,07   1,10%
  • ISSI 287   -1,72   -0,60%
  • IDX30 433   3,38   0,79%
  • IDXHIDIV20 520   5,37   1,04%
  • IDX80 128   1,27   1,00%
  • IDXV30 142   0,85   0,61%
  • IDXQ30 140   0,75   0,54%

BRPT, TPIA, dan CUAN Gelar Buyback Bersamaan, Begini Prospeknya Menurut Analis


Rabu, 04 Februari 2026 / 17:59 WIB
BRPT, TPIA, dan CUAN Gelar Buyback Bersamaan, Begini Prospeknya Menurut Analis
ILUSTRASI. Penghentian sementara perdagangan saham trading halt (KONTAN/Cheppy A. Muchlis) Tiga emiten Prajogo Pangestu kompak buyback saham jumbo. Meski jadi penahan harga, valuasi belum tentu otomatis naik. Pahami risikonya sebelum bertindak.


Reporter: Dimas Andi | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Beberapa emiten terafiliasi konglomerat Prajogo Pangestu yakni PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) kompak menggelar aksi pembelian kembali (buyback) saham di tengah kondisi pasar yang berfluktuasi.

Mengutip keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), BRPT mengalokasikan dana untuk buyback saham senilai Rp 1 triliun, sedangkan TPIA dan CUAN masing-masing sebesar Rp 2 triliun dan Rp 750 miliar. Dana tersebut berasal dari kas internal masing-masing perusahaan.

Ketiga emiten ini kompak melaksanakan buyback saham dari 4 Februari 2026 sampai 3 Mei 2026 mendatang atau selama tiga bulan.

Manajemen BRPT, TPIA, dan CUAN meyakini pelaksanaan buyback tidak akan berdampak negatif terhadap kegiatan operasional dan pendapatan perusahaan lantaran perusahaan memiliki modal kerja dan arus kas yang mencukupi kebutuhan dana untuk melaksanakan buyback.

Baca Juga: Draft Aturan Baru BEI: Syarat IPO Diperketat, Biaya dan Free Float Disesuaikan

Pelaksanaan buyback juga diharapkan dapat memberi fleksibilitas untuk mencapai struktur permodalan yang efisien serta mencerminkan kinerja melalui harga saham emiten-emiten tersebut.

Sementara itu, Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan mengatakan, buyback serentak yang dilakukan BRPT, TPIA, dan CUAN memang tidak lepas dari kondisi pasar yang sangat volatil dan tekanan jual yang cukup tinggi pada saham-saham tersebut. Di level harga sekarang, pihak manajemen kemungkinan melihat bahwa valuasi saham sudah turun di bawah kewajaran.

"Sehingga, buyback dipakai sebagai sinyal bahwa perusahaan percaya pada valuasi dan prospeknya, sekaligus untuk membantu menahan laju penurunan harga agar tidak makin dalam di tengah sentimen pasar yang sedang rapuh," ungkap dia, Rabu (4/2).

Sebagai catatan, pada perdagangan Rabu (4/2) atau hari pertama pelaksanaan buyback, harga saham BRPT, TPIA, dan CUAN kompak menguat. Saham BRPT melesat 7,58% ke level Rp 2.130 per saham, TPIA naik 4,98% ke level Rp 6.850 per saham, sedangkan CUAN naik 3% ke level Rp 1.715 per saham.

Sebelumnya, harga saham BRPT, TPIA, dan CUAN mengalami tren penurunan dalam sebulan terakhir. Dalam hal ini, saham BRPT anjlok 33,23% dalam sebulan terakhir, sedangkan CUAN merosot 25,11%. Adapun saham TPIA terkoreksi 3,86% dalam sebulan terakhir.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas Hari Rachman menambahkan, pada dasarnya buyback menjadi instrumen strategis untuk mendukung stabilitas harga saham sekaligus meredam tekanan jual yang berlebihan. Dukungan relaksasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga memberikan ruang bagi emiten untuk bertindak lebih proaktif menjaga kepercayaan pasar.

Selain itu, penggunaan kas internal menunjukkan bahwa likuiditas perusahaan berada dalam posisi yang sehat, serta mencerminkan keyakinan manajemen BRPT, TPIA, dan CUAN terhadap prospek bisnis ke depan. Dengan kata lain, aksi buyback tidak hanya bersifat defensif, melainkan juga merupakan sinyal kepercayaan diri bahwa manajemen emiten tersebut menilai valuasi saham saat ini sudah cukup menarik.

"Selain itu, kesamaan waktu pelaksanaan buyback mengindikasikan adanya kesamaan tantangan eksternal yang dihadapi, bukan karena masalah fundamental spesifik di masing-masing emiten," terang dia, Rabu (4/2).

Baca Juga: IHSG Berpeluang Bergerak Mixed Cenderung Menguat Kamis (5/2), Ini Rekomendasi Analis

Hari melanjutkan, secara historis dan empiris, saham yang sedang dalam periode buyback, seperti emiten Prajogo Pangestu, cenderung bergerak lebih stabil dengan kecenderungan sideways hingga menguat.

Hal ini disebabkan oleh dua faktor utama. Pertama, masuknya emiten sebagai pembeli aktif di pasar akan mengurangi tekanan jual dan meningkatkan permintaan saham secara bertahap. Kedua, persepsi investor terhadap saham tersebut biasanya membaik karena buyback dipandang sebagai sinyal valuasi yang atraktif dan manajemen yang proaktif.

Di sisi lain, selama periode buyback berlangsung, potensi penurunan harga umumnya menjadi lebih terbatas, kecuali terjadi sentimen eksternal yang sangat negatif. Namun, kembali lagi, buyback lebih berfungsi sebagai penopang harga saham daripada katalis untuk reli agresif dalam jangka pendek.

"Arah penguatan yang lebih berkelanjutan tetap akan sangat bergantung pada kinerja keuangan, realisasi ekspansi, serta kondisi pasar secara keseluruhan," tutur Hari.

Sedangkan menurut Ekky, buyback berpotensi membuat penurunan harga saham jadi lebih tertahan dan membuka peluang technical rebound, terutama kalau realisasi pembeliannya langsung berjalan dan dapat terlihat di pasar.

Walau begitu, buyback juga tidak otomatis membuat harga saham langsung naik, karena pergerakan harga tetap akan sangat dipengaruhi kondisi pasar secara umum dan arus dana yang masuk-keluar. "Jadi perannya lebih sebagai penahan volatilitas dan penambah confidence saat pasar lagi sensitif," imbuh dia.

Secara umum, para analis memandang prospek kinerja BRPT, TPIA, dan CUAN masih cukup menjanjikan. Kinerja BRPT masih ditopang oleh diversifikasi bisnis di sektor petrokimia dan energi terbarukan. TPIA selaku anak usaha BRPT berpotensi mencetak pemulihan kinerja seiring perbaikan siklus petrokimia dan efisiensi operasional. Begitu pula dengan CUAN yang punya prospek kuat berkat dukungan kontrak jasa tambang dan eksposur pada sektor energi.

Ekky menyarankan dalam jangka pendek investor bisa melakukan trading saham BRPT, TPIA, dan CUAN dengan mengikuti momentum jika ada pantulan, namun tetap disiplin karena volatilitas harga masih tinggi.

Sementara untuk jangka menengah dan panjang, dia cenderung menyarankan untuk wait and see terhadap saham-saham tersebut sembari melihat hasil kinerja dan eksekusi bisnis pada masa depan.

Selanjutnya: BRPT Siapkan Dana Hingga Rp 1 Triliun untuk Buyback Saham, Ini Tujuannya

Menarik Dibaca: Dorong Inovasi Sejak Dini, Sampoerna Academy Gelar Rangkaian STEAM 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×