kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.859.000   40.000   1,42%
  • USD/IDR 17.535   104,00   0,60%
  • IDX 6.859   -46,72   -0,68%
  • KOMPAS100 916   0,38   0,04%
  • LQ45 670   1,21   0,18%
  • ISSI 248   -2,34   -0,93%
  • IDX30 377   0,90   0,24%
  • IDXHIDIV20 461   -0,72   -0,16%
  • IDX80 104   0,22   0,22%
  • IDXV30 132   0,58   0,44%
  • IDXQ30 120   -0,91   -0,75%

Menakar Prospek Aliran Dana Asing di Bursa Indonesia Jelang Pengumuman MSCI


Selasa, 12 Mei 2026 / 19:27 WIB
Menakar Prospek Aliran Dana Asing di Bursa Indonesia Jelang Pengumuman MSCI
ILUSTRASI. Morgan Stanley Capital International, MSCI (KONTAN/Panji Indra)


Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar masih menantikan keputusan dari MSCI soal nasib bursa Indonesia. Aliran dana asing pun diperkirakan akan lanjut keluar dari pasar saham jika keputusan lembaga pemeringkatan global itu tak sesuai harapan.

MSCI dijadwalkan akan mengumumkan rebalancing untuk indeks saham Indonesia pada 12 Mei 2026 waktu Amerika Serikat (AS).

Dalam pengumuman sebelumnya, MSCI menyebut akan mempertimbangkan untuk mendepak saham yang masuk dalam daftar high shareholding concentration (HSC). Selain itu, keputusan terkait kepastian kasta bursa Indonesia sebagai emerging market.

Baca Juga: Cek Rekomendasi Teknikal Saham MAPA, MTEL, ISAT untuk Rabu (13/5)

Pemerintah percaya diri bahwa hasil rebalancing MSCI akan sesuai harapan. Chief Investment Officer Danantara, Pandu Sjahrir mengatakan,otoritas pasar saham Indonesia sudah melakukan yang terbaik dalam mentransformasi Bursa.

“Iya kita doakan yang terbaik. Dari sisi Bursa sudah menjalankan proses yang baik, seharusnya no surprise,” ujarnya di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (11/5/2026).

Ketua DK OJK Friderica Widyasari Dewi alias Kiki mengatakan, hasil rebalancing MSCI tentu akan memberikan dampak negatif dalam jangka pendek ke pasar saham Tanah Air. 

Namun, single regulatory organization (SRO) akan mengantisipasi semua risiko tersebut dengan sebaik-baiknya. Jika ada penyesuaian jangka pendek, OJK pun melihat risiko tersebut sebagai short term pain yang bisa menciptakan long term gain.

“Jadi kalau mau melakukan perbaikan, itu supaya kita melakukan perbaikan fundamental,” paparnya kemarin.

Di tengah penantian itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini, Selasa (12/5), turun 0,68% ke level 6.858,89 di akhir perdagangan di Bursa Efek indonesia (BEI). Penurunan IHSG hari ini mengakumulasi koreksinya dari awal tahun 2026 sebesar 20,6% year to date (YTD).

Hari ini, dana asing tercatat keluar sebesar Rp 799,25 miliar di pasar reguler dan Rp 931,89 miliar di seluruh pasar. Sejak awal tahun, dana asing sudah mengalir keluar Rp 48,48 triliun di pasar reguler dan Rp 38,36 triliun di seluruh pasar.

Meskipun ketidakpastian global menyebabkan investor asing cenderung wait and see, nasib berbeda justru dialami bursa lain di Asia. 

Baca Juga: Laba Siloam (SILO) Naik 22,5% Lampaui Ekspektasi, Efisiensi Disebut Jadi Kunci Utama

Melansir Reuters, arus masuk dana hedge funds ke Korea Selatan, Jepang, dan Taiwan mencapai level tertinggi dalam 10 tahun terakhir pada awal Mei 2026.

Riset Mandiri Sekuritas mencatat, indeks Korea KOSPI juga tercatat naik 77,7% YTD per 8 Mei 2026. Di tanggal yang sama, Vietnam VN juga naik 7% YTD.

Hal itu pun dinilai bisa menjadi kabar buruk bagi bursa Indonesia. Sebab, dengan kondisi saat ini, ada kemungkinan pasar saham Indonesia bisa tidak ikut kebagian arus aliran dana asing.

Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto melihat, kondisi saat ini cenderung dilihat investor dari sisi aksesibilitas. Jadi, ada baiknya aliran dana asing di pasar saham tak dilihat sekadar soal keluar-masuk.

“Untuk bobot saham Indonesia di MSCI Emerging Markets sendiri, risikonya adalah penurunan bertahap, bukan ‘jatuh bebas’,” katanya kepada Kontan, Selasa (12/5/2026).

Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su bilang, MSCI kemungkinan besar akan mengeluarkan saham-saham yang terindikasi HSC dalam rebalancing Mei ini. 

“Jika MSCI tidak menambahkan saham pengganti untuk saham-saham tersebut, maka bobot Indonesia di antara negara emerging akan turun,” ujarnya kepada Kontan, Selasa.

Baca Juga: Laba Siloam (SILO) Naik 22,5% Lampaui Ekspektasi, Efisiensi Disebut Jadi Kunci Utama

Lalu, jika bobot Indonesia turun, kemungkinan akan terjadi arus keluar dana asing yang dapat berlangsung selama 3-5 hari setelah rebalancing

“Saham yang akan dilepas asing saat outflow adalah saham-saham yang sudah terdaftar dalam indeks MSCI Indonesia namun terindikasi HSC,” katanya.

Reydi Octa Pengamat Pasar Modal menambahkan, rebalancing MSCI periode Mei ini masih dibayangi isu free float dan HSC, sehingga pasar cenderung berhati-hati. 

Saham-saham yang berpotensi keluar atau turun bobot biasanya akan mengalami tekanan jual jangka pendek karena passive funds melakukan penyesuaian portofolio. 

“Risiko penurunan bobot MSCI Indonesia tetap terbuka jika reformasi pasar dianggap belum cukup cepat dibanding negara emerging lain,” ungkapnya kepada Kontan, Selasa.

Ke depan, Bursa Indonesia tetap punya potensi besar, tetapi persaingan antar emerging market menjadi semakin ketat. 

Jika bursa Korea Selatan dan Vietnam dinaikkan kelasnya oleh MSCI, maka aliran dana global berpotensi lebih selektif.

Artinya, Indonesia harus memperbaiki kualitas pasar saham, likuiditas, dan tata kelola. Jika bobot Indonesia di MSCI turun, outflow asing bisa cukup besar dalam jangka pendek, terutama dari passive funds.

Baca Juga: Ekspansi Tambang Emas Jadi Motor Baru Kinerja PTRO, Cek Rekomendasi Sahamnya

“Namun, dampaknya biasanya sementara, selama fundamental ekonomi masih kuat,” ungkapnya.

Jika terjadi outflow dana asing, saham dengan isu free float rendah, likuiditas terbatas, dan HSC berpotensi paling banyak dilepas asing. 

“Sebaliknya, investor global kemungkinan tetap fokus ke saham big caps yang likuid dan defensif,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Apa dampak bagi saya, jika saya...



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×