kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   5.000   0,19%
  • USD/IDR 17.971   60,00   0,33%
  • IDX 6.315   -19,16   -0,30%
  • KOMPAS100 830   -5,48   -0,66%
  • LQ45 627   -5,43   -0,86%
  • ISSI 218   0,30   0,14%
  • IDX30 353   -3,74   -1,05%
  • IDXHIDIV20 435   -6,25   -1,42%
  • IDX80 95   -0,51   -0,53%
  • IDXV30 119   -0,20   -0,17%
  • IDXQ30 113   -1,54   -1,35%

BI Tahan Suku Bunga di Level 5,75%, Rupiah Diprediksi Bergerak ke Level Ini


Kamis, 23 Juli 2026 / 15:34 WIB
BI Tahan Suku Bunga di Level 5,75%, Rupiah Diprediksi Bergerak ke Level Ini
ILUSTRASI. IHSG Menguat (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Indonesia (BI) memutuskan mempertahankan suku bunga di level 5,75% setelah melaksanakan Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 21-22 Juli 2026. Keputusan tersebut dinilai sebagai salah satu langkah menjaga stabilitas nilai tukar.

Kepala Ekonom Bank Syariah Indonesia (BSI), Banjaran Surya Indrastomo mengatakan, keputusan BI mempertahankan BI-Rate di 5,75% pada RDG 21-22 Juli 2026 sebagai langkah untuk memberi ruang transmisi kebijakan moneter, setelah kenaikan kumulatif 100 bps sejak Mei 2026. 

Banjaran menyebut pergerakan rupiah masih akan dipengaruhi oleh arah kebijakan moneter ke depan. Dia melihat BI masih membuka ruang satu kali kenaikan BI-Rate lanjutan, dengan potensi timing di akhir kuartal III atau awal kuartal IV-2026, bergantung pada perkembangan rupiah dan inflasi. 

Baca Juga: Industri Kripto Makin Matang, Kepercayaan Investor Jadi Kunci Pertumbuhan

“Apabila tekanan terhadap rupiah atau inflasi meningkat lebih cepat dibandingkan laju saat ini, penyesuaian suku bunga berpotensi dipercepat, begitu juga sebaliknya,” ujar Banjaran kepada Kontan, Kamis (23/7/2026).   

Banjaran menambahkan, sentimen yang memengaruhi pergerakan rupiah selanjutnya mencakup arah kebijakan The Fed yang masih higher-for-longer, dinamika harga minyak dunia di tengah eskalasi konflik AS-Iran yang berpotensi memengaruhi inflasi domestik dan kebutuhan subsidi energi, serta arus modal asing ke pasar domestik.

Ekonom CORE Indonesia Dipo Satria Ramli menilai BI sudah tidak menggunakan suku bunga sebagai strategi dalam menjaga nilai tukar. Hal itu karena ada kemungkinan tidak efektifnya penerapan tersebut. 

Di satu sisi, BI seperti merasa kebingungan karena mengemban tugas yang banyak. Yakni menjaga stabilitas nilai tukar, mendorong pertumbuhan kredit, dan meyakinkan pasar mengenai independensi bank sentral. 

“Saya rasa dengan keputusan yang saat ini dengan tidak menaikkan BI rate, harus dilihat menyeluruh,” ucap Dipo. 

Dipo juga menyoroti insentif swap jual lindung nilai dan insentif domestic non deliverable forward (DNDF). Menurutnya, insentif tersebut akan memakan neraca BI karena yang membayar preminya adalah BI. 

“Jadi mungkin dalam jangka pendek ini baik, tapi jangka panjang BI belum tentu bisa terus – terusan melakukan ini. Yang lebih penting kalo misal memang ini adalah Solusi atau tool yang baik kenapa ngga dari sebelumnya dijalankan, kenapa baru sekarang,” ujar Dipo. 

Ke depan, Dipo mengatakan pergerakan rupiah akan dipengaruhi kebijakan moneter dan sentimen ruang fiskal yang berpotensi semakin sempit. Harga minyak mentah global juga perlu dicermati. 

Baca Juga: Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 17.936 Per Dolar AS Hari Ini (23/7), Asia Bervariasi

“Tapi memang lebih berat di unsur domestik. Kalau untuk proyeksi kita harus lihat gejolak perubahan domestik dan global,” terang Dipo. 

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede melihat akumulasi kenaikan suku bunga kebijakan sebesar 100 bps yang telah dilakukan sepanjang Mei – Jun-26, dinilai memadai untuk menjaga stabilitas rupiah dan menambatkan ekspektasi inflasi di tengah meningkatnya ketidakpastian global, terutama terkait ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

“Kami menilai bahwa keputusan BI terkait suku bunga kebijakan akan tetap sangat bergantung pada perkembangan kondisi global maupun domestik,” ujar Josua. 

Menurut Josua, arah BI Rate ke depan akan sangat bergantung pada perkembangan ketidakpastian global dan domestik, yang kemungkinan masih akan berlanjut hingga sisa tahun 2026.

Sementara itu, kinerja fiskal pemerintah selama semester I - 2026 mengindikasikan bahwa defisit fiskal masih terkendali dengan baik, meskipun prospek fiskal ke depan akan tetap bergantung pada perkembangan harga minyak global dan nilai tukar rupiah.

Namun demikian, posisi fiskal yang relatif prudent telah meredakan kekhawatiran terhadap risiko pelebaran defisit kembar, yaitu defisit fiskal dan defisit transaksi berjalan. 

“Keputusan S&P untuk mempertahankan peringkat kredit Indonesia dengan outlook stabil telah memperkuat kepercayaan investor dan turut mendukung aliran masuk modal asing,” kata Josua. 

Baca Juga: Harga Emas Terkoreksi dari Puncak Dua Pekan, Pasar Waspadai Sinyal The Fed

Ekonom Universitas Brawijaya, Noval Adib mengatakan sentimen yang akan mempengaruhi pergerakan rupiah ke depan adalah kebijakan stabilisasi pasar oleh otoritas fiskal dan moneter. Noval memperkirakan rupiah dalam jangka pendek sampai menengah akan stabil dikisaran kurang dari Rp 18.000 per dolar AS dengan kecenderungan menguat. 

Sementara Banjaran memproyeksikan rupiah akan bergerak pada kisaran Rp17.800 – Rp 18.000 per dolar AS dalam jangka pendek hingga menengah. Lalu, Dipo memproyeksikan pergerakan rupiah dalam jangka pendek hingga jangka menengah bergerak di kisaran Rp 17.800 sampai Rp 18.200 per dolar AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Legacy Data-Driven Forecasting: Prediksi Penjualan Lebih Akurat, Keputusan Bisnis Lebih Tepat

[X]
×