kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.893.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.949   -61,00   -0,36%
  • IDX 7.107   84,55   1,20%
  • KOMPAS100 978   11,34   1,17%
  • LQ45 722   8,69   1,22%
  • ISSI 249   4,23   1,73%
  • IDX30 393   5,52   1,42%
  • IDXHIDIV20 489   3,83   0,79%
  • IDX80 110   1,42   1,31%
  • IDXV30 134   2,21   1,67%
  • IDXQ30 127   1,16   0,92%

BI Tahan Suku Bunga 4,75%, IHSG Berpeluang Rebound Terbatas


Minggu, 22 Maret 2026 / 11:30 WIB
BI Tahan Suku Bunga 4,75%, IHSG Berpeluang Rebound Terbatas
ILUSTRASI. BI tahan suku bunga di 4,75%, tapi pasar saham berpeluang menguat jika ada sinyal dovish. Temukan saham-saham yang direkomendasikan untuk dibeli sekarang. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Rashif Usman | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 16–17 Maret 2026. Kebijakan ini diambil di tengah dinamika pasar keuangan global dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Customer Engagement & Market Analyst Department Head BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Chory Agung Ramdhani, menilai kondisi pasar saat ini masih berada dalam fase wait and see. Pelaku pasar mencermati stabilitas rupiah yang sebelumnya sempat tertekan di kisaran Rp16.850–Rp17.000 per dolar Amerika Serikat.

Di tengah keputusan BI tersebut, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan cenderung netral dengan peluang penguatan yang terbatas. Investor saat ini menunggu arah kebijakan lanjutan, terutama sinyal dari Gubernur BI terkait peluang penurunan suku bunga pada kuartal II-2026.

“Jika BI memberikan sinyal yang lebih dovish atau membuka peluang penurunan suku bunga hingga 4,25% pada akhir tahun, maka pasar saham berpotensi menguat secara bertahap,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (17/3/2026).

Baca Juga: IHSG Menguat, Tapi Belum Bullish: Ini Proyeksi dan Rekomendasi Analis

Tekanan Teknikal Masih Terlihat

Secara teknikal, IHSG sempat dibuka menguat (gap up), namun mengalami penolakan di area resistance 7.135–7.150. Hal ini menunjukkan tekanan jual masih cukup dominan di pasar. Pola serupa sebelumnya juga terjadi pada awal Maret, ketika penguatan tidak mampu berlanjut dan berakhir dengan koreksi.

Dari indikator teknikal, MACD telah membentuk golden cross di area negatif yang membuka peluang rebound. Namun, sinyal ini dinilai belum cukup kuat untuk mengonfirmasi pembalikan tren.

Kenaikan IHSG sejauh ini juga lebih banyak ditopang oleh saham sektor energi, dengan volume transaksi yang relatif rendah. Kondisi ini mengindikasikan bahwa reli pasar masih minim partisipasi investor.

Selama IHSG belum mampu menembus level 7.150, pergerakan indeks diperkirakan masih berada dalam fase rebound terbatas dan rentan kembali tertekan.

Chory memaparkan level teknikal penting IHSG, yakni support di kisaran 7.000–6.950 dan resistance di level 7.135–7.150. Jika mampu menembus di atas 7.150, maka peluang penguatan menuju 7.200–7.250 semakin terbuka.

"Dengan kondisi tersebut, IHSG masih berada dalam tren turun dengan peluang rebound jangka pendek, namun belum terdapat konfirmasi pembalikan arah yang kuat," ucapnya.

Arus Dana Asing Masih Sensitif

Lebih lanjut, Chory menegaskan bahwa kebijakan suku bunga tetap menjadi faktor utama dalam menentukan daya tarik pasar keuangan Indonesia bagi investor global.

Baca Juga: Medco Siapkan Dana Rp150 Miliar untuk Lunasi Obligasi Jatuh Tempo 2026

Stabilitas nilai tukar rupiah menjadi kunci, terutama dalam menjaga selisih imbal hasil (yield spread) dengan negara lain. Selama BI mampu menjaga stabilitas tersebut, termasuk melalui instrumen seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), arus dana asing diperkirakan tetap bertahan.

Apalagi jika BI mempertahankan suku bunga di level 4,75% sementara bank sentral global mulai menurunkan suku bunga, maka aset Indonesia—baik saham maupun obligasi—akan terlihat lebih menarik secara relatif.

Namun demikian, risiko tetap membayangi. Potensi kenaikan inflasi domestik, misalnya akibat lonjakan konsumsi selama Ramadan dan Idul Fitri, dapat memicu aksi jual investor asing, khususnya pada saham-saham berkapitalisasi besar seperti sektor perbankan.

Baca Juga: Pasar Global Dibayangi Tekanan Geopolitik, Arah Suku Bunga Jadi Penentu

Rekomendasi Saham

Berdasarkan kondisi fundamental dan sentimen pasar saat ini, berikut sejumlah saham yang direkomendasikan:

PT Bukit Asam Tbk (PTBA) — Buy, target harga Rp3.100

PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) — Buy, target harga Rp27.300

PT Mayora Indah Tbk (MYOR) — Buy, target harga Rp2.700

PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) — Buy, target harga Rp11.500

PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) — Buy, target harga Rp325

PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR) — Buy, target harga Rp4.750

Dengan berbagai sentimen tersebut, pasar saham Indonesia masih menghadapi tantangan dalam jangka pendek, meski peluang rebound tetap terbuka seiring arah kebijakan moneter dan stabilitas eksternal.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU

[X]
×