Reporter: Muhammad Alief Andri | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar global saat ini berada di persimpangan antara tekanan geopolitik dan momentum pertumbuhan sektor teknologi, khususnya artificial intelligence (AI). Kondisi ini dinilai menjadi faktor kunci yang akan menentukan arah pergerakan pasar dalam jangka pendek.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menyebut eskalasi konflik di Timur Tengah sebagai sentimen utama yang memengaruhi dinamika pasar global saat ini.
“Penutupan Selat Hormuz yang merupakan jalur sekitar 20% pasokan minyak dunia telah mendorong lonjakan harga energi dan memicu kembali risiko inflasi global,” ujarnya dalam riset yang dikutip Kontan, Kamis (19/3/2026).
Menurutnya, meskipun Amerika Serikat dan sekutunya memiliki keunggulan secara militer, Iran tetap memegang pengaruh signifikan dari sisi ekonomi, khususnya melalui kontrol terhadap jalur distribusi energi global.
AI Tetap Jadi Motor Pertumbuhan
Di tengah tekanan geopolitik, perhatian pelaku pasar juga masih tertuju pada sektor AI yang menunjukkan prospek pertumbuhan yang kuat. Liza menilai persaingan di industri semikonduktor semakin intensif, terutama di antara perusahaan teknologi global.
Baca Juga: IHSG Menguat Jelang Libur Lebaran, Waspadai Risiko Usai Cuti Panjang
Beberapa pemain utama seperti Nvidia, AMD, dan Intel terus bersaing ketat, sementara perusahaan teknologi besar lainnya mulai mengembangkan chip secara mandiri guna mengamankan rantai pasok.
“Permintaan dari data center yang meningkat dan keterbatasan pasokan memori hingga 2026 menunjukkan bahwa AI masih menjadi pendorong utama sektor ini,” jelasnya.
Tekanan Inflasi dan Kebijakan Bank Sentral
Dari sisi makroekonomi, pasar saat ini memasuki periode yang dikenal sebagai “Super Central Bank Week”, di mana sejumlah bank sentral global mengambil keputusan penting terkait arah kebijakan suku bunga.
Bank sentral seperti Federal Reserve, European Central Bank, Bank of England, hingga Bank of Japan tengah mengevaluasi dampak lonjakan harga energi terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi.
“Kenaikan harga minyak di atas US$100 per barel meningkatkan risiko stagflasi, sehingga ekspektasi pasar bergeser dari pelonggaran kebijakan menjadi lebih berhati-hati,” imbuhnya.
Liza menambahkan, peluang kenaikan suku bunga oleh The Fed masih terbuka, meskipun sebelumnya pasar memperkirakan adanya pelonggaran kebijakan moneter.
Di sisi lain, Reserve Bank of Australia telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 4,1%, mencerminkan sikap yang lebih agresif dalam merespons tekanan inflasi global.
Baca Juga: Harga Kripto Terus Fluktuatif, OKX Memperkenalkan Fitur Sosial Trading
Pasar Rentan, Arah Bergantung Geopolitik
Menurut Liza, bank sentral global saat ini berada dalam posisi dilematis antara menjaga stabilitas inflasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global.
“Pasar global saat ini berada di antara tekanan inflasi akibat geopolitik dan momentum pertumbuhan dari AI, sehingga arah kebijakan bank sentral akan menjadi faktor penentu utama,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan bahwa kondisi pasar masih rentan terhadap tekanan lanjutan, terutama jika ketidakpastian geopolitik tidak segera mereda.
“Jika tekanan meningkat, pasar berpotensi mengalami konsolidasi lebih dalam. Sebaliknya, jika terdapat resolusi geopolitik, maka pasar bisa kembali menguat,” tutupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
- Amd
- Data Center
- Intel
- Investasi
- Nvidia
- The Fed
- Federal Reserve
- Timur Tengah
- inflation
- suku bunga
- bank sentral
- oil price
- Selat Hormuz
- harga minyak
- artificial intelligence
- stagflasi
- kebijakan moneter
- semikonduktor
- inflasi global
- geopolitik
- Central Bank
- pasar global
- Kiwoom Sekuritas Indonesia
- Liza Camelia Suryanata
- sektor AI













