kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.940.000   20.000   0,68%
  • USD/IDR 16.808   -72,00   -0,43%
  • IDX 8.032   96,61   1,22%
  • KOMPAS100 1.132   15,02   1,34%
  • LQ45 821   5,36   0,66%
  • ISSI 284   5,77   2,08%
  • IDX30 427   0,41   0,10%
  • IDXHIDIV20 513   -1,95   -0,38%
  • IDX80 127   1,53   1,22%
  • IDXV30 139   0,46   0,33%
  • IDXQ30 139   -0,29   -0,21%

BI sebut rupiah tertolong rencana stimulus ECB


Rabu, 11 November 2015 / 20:01 WIB
BI sebut rupiah tertolong rencana stimulus ECB


Sumber: Antara | Editor: Yudho Winarto

JAKARTA. Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo mengatakan salah satu penyebab kurs rupiah tidak lagi berfluktuasi tajam akibat adanya rencana stimulus moneter yang akan dilakukan Bank Sentral Eropa atau ECB.

"Stimulus akan tetap diberikan oleh Eropa hari ini (Rabu), jadi tidak terjadi satu kondisi yang terlalu menekan rupiah," katanya di Jakarta, Rabu (11/11).

Agus menjelaskan respons positif pelaku pasar atas situasi di Eropa tersebut mengurangi beban mata uang di negara berkembang, padahal ketidakpastian akibat isu kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral AS (The Fed) masih terjadi.

"Mata uang negara berkembang tidak terlalu tertekan, padahal sebetulnya dari sisi kita dengan AS, itu 'risk off'. Biasanya kalau 'risk off' mata uang kita semua tertekan, tapi adanya stimulus eropa membuat itu 'set off'," ujarnya.

Sebelumnya, Bank Sentral Eropa memberikan indikasi untuk mengeluarkan kebijakan stimulus moneter pada awal Desember, sebagai respon pelemahan mata uang Euro terhadap dollar AS yang terjadi sejak Oktober lalu.

Sementara, nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Rabu sore, bergerak menguat 34 poin menjadi Rp13.585 dibandingkan posisi sebelumnya di posisi Rp13.619 per dollar AS.

"Penguatan mata uang rupiah saat ini terbilang normal karena pada pekan lalu rupiah telah tertekan cukup dalam setelah data tenaga kerja AS yang dirilis meningkat," ujar Analis dari PT Platon Niaga Berjangka Lukman Leong.

Menurut dia, pelaku pasar uang cenderung kembali masuk ke aset berisiko, salah satunya rupiah seraya menanti sentimen selanjutnya yakni komentar pejabat bank sentral AS pada pertengahan bulan November ini mengenai kenaikan suku bunga acuan The Fed.

"Dengan demikian, mata uang rupiah diproyeksikan masih dapat mengalami tekanan ke depannya," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×