kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.630.000   -15.000   -0,57%
  • USD/IDR 17.913   43,00   0,24%
  • IDX 5.643   -177,60   -3,05%
  • KOMPAS100 728   -24,24   -3,22%
  • LQ45 553   -19,90   -3,47%
  • ISSI 197   -4,65   -2,31%
  • IDX30 314   -10,96   -3,37%
  • IDXHIDIV20 389   -11,74   -2,93%
  • IDX80 83   -2,75   -3,22%
  • IDXV30 107   -1,77   -1,63%
  • IDXQ30 102   -3,08   -2,93%

Belum ada calon emiten unicorn dalam pipeline IPO BEI


Jumat, 30 April 2021 / 08:13 WIB
ILUSTRASI. BEI terus menggodok peraturan yang bisa mengakomodir unicorn IPO di dalam negeri.


Reporter: Dityasa H. Forddanta | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar masih menanti initial public offering (IPO) entitas merger Gojek-Tokopedia. Terlebih, beredar kabar entitas baru bernama GoTo tersebut bakal menghelat aksi korporasi tersebut pada kuartal kedua tahun ini.

Namun, hingga saat ini Bursa Efek Indonesia (BEI) belum menerima dokumen terkait IPO tersebut. "Dari pipeline yang ada, belum terdapat perusahaan yang merupakan unicorn," ujar Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, Kamis (29/4).

Dia menambahkan, saat ini memang ada enam calon emiten dengan kategori aset besar, di atas Rp 250 miliar. Sektor properti, konsumer siklikal, keuangan, kesehatan, konsumer non-siklikal dan energi masing-masing diwakili oleh satu calon emiten.

Dari calon tersebut, menurut Nyoman, juga belum ada calon emiten dengan target perolehan dana IPO hingga Rp 5 triliun. "Calon emiten yang ada juga belum ada yang berasal dari BUMN dan entitas anak usahanya," imbuh Nyoman.

Baca Juga: BEI mengantongi 22 pipeline IPO

Meski belum terdapat calon emiten unicorn, BEI tak mau ketinggalan momentum tersebut. Bursa terus menggodok peraturan yang bisa mengakomodir unicorn IPO di dalam negeri.

BEI saat ini masih dalam tahap kajian internal dengan pemangku kepentingan terkait guna merampungkan peraturan terkait special purpose acquisition company (SPAC). Kelak, SPAC menjadi jalur utama perusahaan, khususnya yang berbasis teknologi, untuk IPO.

Selain perbandingan best practice di bursa lain, BEI juga memperhatikan aspek kesesuaian penerapan aturan di Indonesia. "Kami juga tetap memperhatikan aspek perlindungan investor publik dan GCG," terang Nyoman.

Baca Juga: Kecil kemungkinan terjadi sell in May di pasar saham tahun ini

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Inventory Management: From Chaos to Control Sales Coaching: Lead Better, Sell More!

[X]
×