Reporter: Arfyana Citra Rahayu | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga referensi Crude Palm Oil (CPO) beberapa bulan belakangan ini menurunan tajam jika dibandingkan dengan 2020. Hal ini karena adanya pengaruh dari ketidakpastian makro ekonomi dan geopolitik. Adapun kemungkinan tarik ulur harga masih akan berlanjut di sisa akhir tahun ini dengan adanya kemajuan pada distribusi rantai pasok.
Melihat kondisi tersebut, emiten perkebunan kelapa sawit PT Cisadane Sawit Raya Tbk (CSRA) tetap akan menjalankan bisnis dengan prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko. Pihaknya tetap optimistis harga CPO masih akan tetap tinggi di tahun ini.
Sekretaris Perusahaan Cisadane Sawit Raya Iqbal Prastowo menjelaskan, pada kuartal III 2022 pihaknya tetap fokus pada peningkatan produktivitas dan efisiensi biaya di seluruh lini bisnis.
Baca Juga: Cisadane Sawit Raya (CSRA) Sudah Serap Capex 65%, Bangun Pabrik Kelapa Sawit 2
Meskipun CSRA memiliki kinerja semester pertama yang menguntungkan, harga CPO terlihat cukup rentan dengan meningkatnya volatilitas akibat pengaruh dari ketidakpastian makro ekonomi dan geopolitik.
“Maka itu, Perusahaan akan tetap memprioritaskan untuk memperkuat pertumbuhan organik dengan mempercepat pembangunan Pabrik Kelapa Sawit (PKS) kedua di kabupaten Tapanuli Selatan, serta penerapan teknologi perkebunan melalui mekanisasi pekerjaan kebun,” jelasnya kepada Kontan.co.id, Minggu (16/10).
Lantas untuk mendukung hal tersebut, Iqbal mengatakan strategi utama CSRA tetap sama yakni implementasi strategi kontrol biaya serta penerapan operasional yang ramping.
“Lewat strategi ini diharapkan angka penjualan sampai akhir tahun bisa menembus angka psikologis Rp 1 triliun dengan laba bersih Rp 400 miliar,” ungkapnya.
Iqbal menjelaskan lebih lanjut, sebagai komoditas, harga CPO memang sangat tergantung dari kondisi penawaran dan permintaan di seluruh dunia
Harga jual rata-rata menunjukkan tren yang terus meningkat sejak tahun 2020 hingga mencapai nilai tertinggi secara historis di bulan Maret 2022 yang lalu. Namun pada Mei dan Juni 2022, harga referensi CPO menurun tajam.
Iqbal memproyeksikan kemungkinan tarik ulur harga masih akan terus terjadi di semester kedua tahun ini dengan adanya kemajuan pada distribusi rantai pasok.
Walaupun harga CPO saat ini masih dalam harga keekonomian, kondisi yang fluktuatif ini harus menjadi perhatian karena kenaikan harga jual CPO dan TBS merupakan katalis paling utama atas kenaikan penjualan dan keuntungan di 2022 ini.
Atas dasar tersebut, Manajemen Cisadane Sawit Raya memandang perlunya memperkuat prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko. “Kami memproyeksikan harga sawit akan tetap tinggi di sepanjang tahun 2022 walaupun kemungkinan tidak setinggi di kuartal I 2022,” terangnya.
Baca Juga: Cisadane Sawit Raya (CSRA) Jaminkan Aset Rp 300 Miliar untuk Dua Anak Usaha
Sedangkan kebijakan strategis CSRA tetap sama yaitu menjaga kelancaran arus kas, efisiensi biaya di semua lini bisnis dan pemantauan aktivitas produksi. Kebijakan strategis lainnya adalah kebijakan keberlanjutan yang terus disempurnakan dengan target memperoleh sertifikasi ISPO untuk kebun yang berlokasi di Banyuasin Sumatera Selatan pada tengah tahun 2023.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News