kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45895,84   4,26   0.48%
  • EMAS1.325.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Begini Outlook Batubara Tahun Depan Menurut Indo Tambangraya Megah (ITMG)


Kamis, 30 November 2023 / 15:25 WIB
Begini Outlook Batubara Tahun Depan Menurut Indo Tambangraya Megah (ITMG)
ILUSTRASI. pertambangan batubara PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG). Foto Dok ITMG


Reporter: Akhmad Suryahadi | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) memproyeksi outlook batubara tahun depan tidak banyak berubah dari tahun ini. Pun demikian, harga batubara diproyeksi tidak banyak berubah dari level saat ini.

Direktur ITMG Yulius Kurniawan Gozali  mengatakan, meski harga saat ini cenderung menurun, prospek batubara saat ini masih jauh lebih bagus dibandingkan kondisi 5 tahun lalu, dimana batubara bergerak di kisaran  US$ 70 sampai US$ 80 per ton.

“Di level saat ini permintaan cukup kuat sehingga harga stabil di US$ 110 sampai US$ 120 per ton,” kata Yulius.

Per September 2023, ITMG mencatatkan harga jual rata-rata alias average selling price (ASP) sebesar US$ 114 per ton.  Estimasi Yulius, harga jual memang cukup volatil namun akan stabil di level saat ini. 

Baca Juga: Harga Saham di Atas Rp 20.000, Ini Kata Indo Tambangraya (ITMG) Soal Opsi Stock Split

“Tidak akan naik banyak, kurang lebih ada di level saat ini,” sambung Yulius.

Yulius tidak menampik, pasokan global batubara termal mulai membaik, seiring dengan meningkatnya ekspor Australia dan stabilnya pasokan Indonesia pada kuartal keempat. 

Ekspor batubara dari Indonesia diperkirakan akan tetap tinggi hingga akhir tahun, meskipun terdapat kendala teknis dan keterlambatan pasokan pada bulan November dan Desember karena terlambatnya persetujuan revisi rencana kerja RKAB.

Meski demikian, Yulis mengaku permintaan batubara juga meningkat, bahkan lebih tinggi dari tahun lalu. Terjadi peningkatan impor batubara termal China pada tahun ini seiring kekhawatiran pasokan dalam negeri. Tingginya harga batubara dalam negeri China diperkirakan akan terus berlanjut hingga akhir tahun.

Di India, tingginya konsumsi batubara didorong oleh pertumbuhan ekonomi dan lemahnya pembangkit listrik tenaga air, sehingga menyebabkan ketergantungan pada impor batubara termal.

Di sisi lain, terjadi pelemahan konsumsi batubara di wilayah Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan akibat berkurangnya kebutuhan listrik, peningkatan produksi energi nuklir dan energi terbarukan, serta risiko menurunnya permintaan pada musim dingin akibat El-Niño.

 

Baca Juga: Pendapatan Emiten Menara Berangsur Pulih, Ini Rekomendasi Saham Jagoan Analis

Pun demikian di Eropa, dimana pasar batubara masih lemah karena rendahnya permintaan listrik, tingginya energi terbarukan, pasokan gas yang kuat, dan tingginya penyimpanan gas yang mempengaruhi penggunaan batubara.

Sebagai gambaran, pada sembilan bulan pertama 2023, emiten tambang batubara ini  membukukan penurunan kinerja keuangan. ITMG membukukan laba bersih US$ 405,83 juta. Realisasi ini tergerus 54,6% dibandingkan dengan capaian laba bersih di periode Januari-September 2022 yang mencapai 893,81 juta.

Kinerja topline ITMG juga ikut tertekan, dimana ITMG membukukan pendapatan senilai US$ 1,82 miliar. Angka ini menurun 30,18% dari pendapatan di periode yang sama tahun lalu yang mencapai US$ 2,61 miliar.

Pendapatan ITMG ini mencerminkan 67,6% dari estimasi analis Panin Sekuritas Felix Dermawan dan mewakili 68,2% dari proyeksi consensus.

Menurut Felix, penurunan pendapatan ITMG disebabkan oleh tergerusnya harga jual rata-rata yang sejalan dengan penurunan rerata harga batubara global sepanjang Januari-September 2023 menjadi US$ 135 per ton.

Felix mempertahankan rekomendasi hold saham ITMG namun dengan target harga yang lebih rendah, yakni Rp 24.000 dari sebelumnya Rp 28.000. Penurunan target harga ini disebabkan oleh normalisasi harga batubara dan risiko meningkatnya biaya tunai (cash cost). 

“Namun patut dicermati bahwa neraca ITMG masih solid dengan posisi net cash dan dividend yield yang atraktif,” terang Felix. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×