kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45874,12   -12,06   -1.36%
  • EMAS1.329.000 -0,67%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Bappebti Menyebut, Perkembangan Perdagangan Aset Kripto Masih Menjanjikan


Jumat, 21 Juli 2023 / 11:25 WIB
Bappebti Menyebut, Perkembangan Perdagangan Aset Kripto Masih Menjanjikan
ILUSTRASI. Hingga Juni 2023 tercatat penambahan pelanggan aset kripto sebanyak 141.800 pelanggan.


Reporter: Sugeng Adji Soenarso | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek aset kripto dinilai menjanjikan. Terlebih dengan pemanfaatan teknologi blockchain oleh perusahaan global.

Kepala Bappebti Didid Noordiatmoko memaparkan, hingga Juni 2023 tercatat penambahan pelanggan aset kripto sebanyak 141.800 pelanggan. Menurutnya, hal ini menunjukkan minat masyarakat untuk berinvestasi di perdagangan aset kripto terus tumbuh.

“Hingga Juni 2023, jumlah pelanggan aset kripto terdaftar sebanyak 17,54 juta pelanggan,” ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (20/7).

Baca Juga: Bappebti Meresmikan Pendirian Bursa Kripto

Nilai transaksi perdagangan fisik aset kripto selama Juni 2023 juga tercatat sebesar Rp 8,97 triliun atau naik 9,3% bila dibandingkan bulan sebelumnya. Adapun jenis aset kripto yang banyak ditransaksikan yaitu Tether (USDT), Bitcoin (BTC), Ethereum (ETH), Ripple (XRP) dan Binance Coin (BNB).

Namun, total nilai transaksi periode Januari-Juni 2023 tercatat sebesar Rp 66,44 triliun. Realisasi tersebut turun 68,65% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Menurut Didid, penurunan nilai transaksi tersebut disebabkan dari sejumlah hal. Antara lain pasar kripto global mengalami penurunan volume perdagangan, potensi krisis likuiditas rendah yang berdampak negatif pada stabilitas harga dan efisiensi pasar, serta tekanan jual melonjak yang menyebabkan harga aset kripto terkoreksi.

Baca Juga: Sejumlah Altcoin Menguat Ketika Bitcoin Sideways

Kemudian, kebijakan Federal Reserve Pemerintah Amerika Serikat terkait kenaikan suku bunga menyebabkan perubahan perilaku masyarakat dari yang sebelumnya memilih bertransaksi aset digital beralih ke tabungan. Selain itu, Didid menilai saat ini masyarakat masih menunggu kebijakan pemerintah terkait UU P2SK.

Namun demikian, dia mengemukakan bahwa dari sisi pemanfaatan teknologi blockchain, semakin banyak perusahaan seperti Meta, Google, dan Twitter yang mulai mengintegrasikan teknologi blockchain dalam kegiatan usahanya.

“Hal ini membuktikan bahwa ke depan perkembangan perdagangan fisik aset kripto masih cukup menjanjikan,” pungkas Didid.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Success in B2B Selling Omzet Meningkat dengan Digital Marketing #BisnisJangkaPanjang, #TanpaCoding, #PraktekLangsung

[X]
×