kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.670.000   -48.000   -1,77%
  • USD/IDR 17.709   -62,00   -0,35%
  • IDX 6.518   -3,63   -0,06%
  • KOMPAS100 848   -0,96   -0,11%
  • LQ45 642   0,75   0,12%
  • ISSI 229   -1,10   -0,48%
  • IDX30 359   0,71   0,20%
  • IDXHIDIV20 438   1,12   0,26%
  • IDX80 97   -0,06   -0,06%
  • IDXV30 122   -0,08   -0,06%
  • IDXQ30 114   0,40   0,35%

AUD, CAD, dan NZD Berpeluang Menguat, Ini Risiko yang Perlu Dicermati


Minggu, 30 Agustus 2026 / 16:16 WIB
AUD, CAD, dan NZD Berpeluang Menguat, Ini Risiko yang Perlu Dicermati
ILUSTRASI. Peluang penguatan masih terbuka bagi mata uang berbasis komoditas terhadap dolar Amerika Serikat (USD) hingga akhir tahun.? (REUTERS/DANIEL MUNOZ)


Reporter: Vivit Dewi | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Peluang penguatan masih terbuka bagi mata uang berbasis komoditas terhadap dolar Amerika Serikat (USD) hingga akhir tahun.

Dolar Australia (AUD), dolar Kanada (CAD), dan dolar Selandia Baru (NZD) menjadi tiga mata uang yang masih menarik dicermati, meski volatilitas pasar valuta asing (valas) membuat investor perlu lebih selektif dalam menentukan momentum masuk.

Pergerakan ketiga mata uang tersebut menunjukkan kondisi yang masih fluktuatif. Pada penutupan perdagangan Jumat (28/8/2026), Trading Economics mencatat pasangan AUD/USD berada di level 0,7161, turun 0,45% secara harian.

Sementara itu, pasangan NZD/USD terkoreksi 0,61% dalam sehari ke level 0,5914. Sebaliknya, USD/CAD menguat 0,33% ke level 1,3900.

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan, penguatan mata uang komoditas tidak akan berlangsung secara linear karena volatilitas masih tinggi. Kondisi tersebut membuat investor perlu mempertimbangkan strategi masuk yang lebih terukur.

Baca Juga: Kenaikan Harga Gandum Membayangi Kinerja Emiten Konsumer

"Strategi yang lebih bijaksana adalah melakukan pembelian secara bertahap, terutama ketika terjadi koreksi," ujar Lukman kepada Kontan, Jumat (28/8/2026).

Menurut Lukman, investor juga perlu menentukan mata uang yang paling sesuai dengan eksposur yang ingin diperoleh. Ketiga mata uang tersebut memiliki karakteristik dan sensitivitas berbeda terhadap pergerakan harga komoditas serta kondisi ekonomi global.

"Dari ketiganya, AUD dapat menjadi pilihan utama untuk eksposur terhadap mata uang komoditas, sementara CAD lebih cocok bagi investor yang ingin mendapatkan eksposur terhadap kenaikan harga minyak," kata Lukman.

Risiko Mata Uang Komoditas

Meski prospek penguatan masih terbuka, investor perlu memperhatikan sejumlah risiko yang berpotensi membatasi kenaikan mata uang komoditas.

Salah satu faktor utama berasal dari Amerika Serikat. Inflasi AS yang kembali tinggi dapat mendorong Federal Reserve (The Fed) mengambil kebijakan yang lebih hawkish. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan daya tarik dolar AS dan memberikan tekanan terhadap mata uang komoditas.

Dalam jangka pendek, arah indeks dolar AS (DXY) serta perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed menjadi sentimen penting yang perlu dicermati investor.

Selain faktor AS, kondisi perekonomian global juga menjadi perhatian. Perlambatan ekonomi global maupun China berpotensi mengurangi permintaan terhadap komoditas, yang pada akhirnya dapat menekan mata uang negara-negara eksportir komoditas.

Baca Juga: Akselerasi Infrastruktur Digital Pacu Prospek Saham Sektor Data Center

Untuk dolar Kanada, eskalasi ketegangan perdagangan dengan AS dapat menjadi sumber tekanan tambahan. Sementara itu, dolar Australia relatif rentan terhadap perlambatan ekonomi China mengingat kuatnya hubungan ekonomi dan perdagangan kedua negara.

Proyeksi AUD, CAD, dan NZD hingga Akhir 2026

Kendati menghadapi sejumlah risiko, Lukman masih melihat adanya ruang penguatan bagi mata uang komoditas hingga akhir tahun.

Ia memproyeksikan pasangan AUD/USD dapat bergerak menuju kisaran 0,73–0,74. Sementara itu, USD/CAD diperkirakan berada di sekitar level 1,35–1,36.

Adapun untuk NZD/USD, Lukman memperkirakan pasangan tersebut bergerak dalam kisaran 0,59–0,61 hingga akhir tahun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×