Reporter: Alya Fathinah | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan mata uang utama dunia masih berlangsung fluktuatif di tengah sentimen ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) dan ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.
Berdasarkan data Trading Economics pada Senin (1/6/2026) pukul 12.00 WIB, pasangan EUR/USD menguat 0,03% dalam sepekan ke level 1,16. Sementara itu, AUD/USD naik 0,15% ke 0,71 dan NZD/USD melesat 1,63% menjadi 0,59.
Di sisi lain, GBP/USD terkoreksi 0,37% ke level 1,34. Adapun USD/JPY naik 0,35% ke 159,45 yang menunjukkan yen Jepang masih berada dalam tekanan.
Baca Juga: Jangan Asal Beli Emas, Ini Kelebihan dan Risiko Emas Batangan serta Emas Digital
Analis PT Finex Bisnis Solusi Futures, Brahmantya Himawan mengatakan mayoritas mata uang berbasis risiko masih mendapat dukungan dari ekspektasi bahwa Federal Reserve berpeluang melonggarkan kebijakan moneternya dalam beberapa bulan ke depan. Namun, pelemahan dolar AS juga tertahan oleh meningkatnya kembali ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.
"Harapan bahwa konflik Timur Tengah mulai mereda membuat dolar sedikit melemah, sehingga mata uang seperti EUR, AUD hingga NZD ikut menguat. Meski begitu, pasar masih berhati-hati karena negosiasi AS–Iran dinilai belum sepenuhnya final," ujar Brahmantya kepada Kontan, Jumat (29/5/2026).
Brahmantya menilai penguatan NZD menjadi yang paling menonjol di antara mata uang utama lainnya. Hal itu didorong ekspektasi pasar bahwa Reserve Bank of New Zealand masih mempertahankan sikap hawkish seiring meningkatnya proyeksi inflasi.
Meski suku bunga acuan ditahan di level 2,25%, pasar mulai memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga lanjutan hingga akhir tahun yang menopang pergerakan NZD.
Sementara itu, yen Jepang masih kesulitan menguat karena selisih imbal hasil obligasi Jepang dan AS tetap lebar. Walaupun Bank of Japan mulai memberi sinyal normalisasi kebijakan, investor global masih melihat aset berbasis dolar lebih menarik dari sisi yield.
Brahmantya mengatakan dalam jangka pendek NZD masih menarik dicermati karena ditopang prospek suku bunga yang relatif tinggi serta membaiknya minat investor terhadap aset berisiko.
Baca Juga: Rupiah Perkasa, Menguat ke Rp 17.818 Per Dolar AS di Tengah Hari Ini (1/6)
Namun untuk strategi defensif, dolar AS dan franc Swiss tetap menjadi pilihan utama apabila konflik Timur Tengah kembali memanas atau harga energi melonjak lebih tinggi.
Ke depan, arah pergerakan valas utama diperkirakan masih sangat bergantung pada perkembangan konflik Timur Tengah, data ekonomi AS, terutama inflasi dan ketenagakerjaan, serta arah kebijakan Federal Reserve.
Jika ketegangan geopolitik mereda dan peluang pemangkasan suku bunga AS semakin besar, dolar berpotensi melemah secara bertahap. Sebaliknya, kenaikan harga minyak akibat konflik kawasan Timur Tengah berisiko mempertahankan tekanan inflasi sehingga dapat mendorong The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi tersebut berpotensi kembali menopang dolar AS.
Untuk kuartal III-2026, Brahmantya memperkirakan EUR/USD bergerak pada kisaran 1,12 hingga 1,18. Kemudian GBP/USD berada di rentang 1,37–1,39, AUD/USD di antara 0,74–0,77, NZD/USD di kisaran 0,62–0,64, serta USD/JPY di area 161–163.
"Pergerakan pasar valas saat ini sangat sensitif terhadap perubahan sentimen global. Ketika risiko geopolitik meningkat, arus dana bisa kembali masuk ke dolar dengan cepat. Sebaliknya, jika ketidakpastian mereda, mata uang berbasis risiko berpotensi melanjutkan penguatannya," kata Brahmantya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












