kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Aturan zero ODOL, memberatkan emiten semen, menguntungkan emiten logistik


Jumat, 14 Februari 2020 / 19:44 WIB
Aturan zero ODOL, memberatkan emiten semen, menguntungkan emiten logistik
ILUSTRASI. Dokumen Jasa Marga-186 Kendaraan Ditindak Dalam Operasi ODOL di Tol Jakarta-Tangerang. Pemerintah melarang truk bermuatan lebih (ODOL) mulai tahun 2022.

Reporter: Akhmad Suryahadi | Editor: Wahyu Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memutuskan untuk menindak truk dengan muatan lebih atau over dimension over loading (ODOL) pada 2022. Tadinya, kebijakan ini akan mulai diberlakukan pada 2021.

Persiapan pun telah dilakukan pada 2019 melalui Surat Edaran Menteri Perhubungan Nomor 21 Tahun 2019 tentang Pengawasan terhadap Mobil Barang atas Pelanggaran Muatan Lebih (Over Loading) atau Pelanggaran Ukuran Lebih (Over Dimension). Kemenhub pun memutuskan untuk menolak permintaan Kementerian Perindustrian yang ingin penerapan zero ODOL diundur hingga 2023 atau 2025.

Namun, aturan ini berpotensi merugikan emiten yang bertopang pada armada truk sebagai moda pengangkutan/distribusi, salah satunya yakni emiten semen. Sekretaris Perusahaan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) Antonius Marcos mengatakan, aturan zero ODOL berpotensi menaikkan beban distribusi/logistik. Sebab, wahana distribusi utama industri semen adalah moda transportasi truk.

Baca Juga: Analis: Aturan zero ODOL berpotensi menggerus kinerja emiten semen

Setali tiga uang, Basthony Santri, Sekretaris Perusahaan PT Semen Baturaja Tbk (SMBR) mengatakan pemberlakuan aturan zero ODOL tentu akan sangat mempengaruhi biaya logistik SMBR.

Akan tetapi, bak dua sisi mata uang, kebijakan zero ODOL ini membawa berkah tersendiri bagi emiten logistik.

Emiten bidang logistik yang baru saja melantai di Bursa Efek Indonesia, Putra Rajawali Kencana Tbk (PURA) mendukung penuh kebijakan ODOL. Direktur Utama Putra Rajawali Kencana, Ariel Wibisono menilai, penerapan aturan ini dapat menjadi peluang bagi PURA untuk mengembangkan bisnisnya.

Sebab, volume kendaraan akan meningkat karena tonase (muatan) yang dibatasi. Selain itu, dengan adanya aturan zero ODOL maka biaya logistik nasional bisa secepatnya terukur.

“Kami dari dulu saat aturan zero ODOL mulai digaungkan, kami mendukung sekali regulasi itu, supaya industri sektor transportasi ini bisa menjadi profit center, dapat menjadi bisnis yang bagus,” ujar Ariel usai pencatatan saham perdana PURA di Gedung BEI, Rabu (29/1).

Baca Juga: Indocement (INTP) menilai zero ODOL berpotensi naikkan biaya distribusi semen

PURA pun mulai mencuil peluang tersebut dengan menggunakan dana hasil penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) untuk membeli armada truk.

Dari hasil IPO, PURA meraup dana segar hingga Rp 189 miliar. Dana tersebut akan digunakan untuk membeli armada dengan rincian sebanyak 39% untuk pembelian used truck dengan ukuran medium, 44% digunakan untuk membeli truk baru dengan ukuran medium, dan sisanya akan digunakan untuk karoseri serta ban dan aksesorisnya.

Tahun lalu, PURA telah memiliki 155 truk kategori medium. Tahun ini, Ariel bilang setidaknya PURA menargetkan memiliki 300 buah armada tahun ini.




TERBARU

Close [X]
×