Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks dolar Amerika Serikat (AS) atau Dollar Index (DXY) terus menunjukkan penguatan dan kembali bertengger di level 101,5.
Keperkasaan dolar AS tersebut masih menjadi tantangan bagi sejumlah mata uang utama dunia, mulai dari euro, yen Jepang, poundsterling hingga dolar Australia.
Melansir Trading Economics pada Jumat (26/6) pukul 14.25 WIB, pasangan valas EUR/USD di level 1,137, terkoreksi 2,16% dalam sebulan terakhir. Pairing valas GBP/USD di level 1,319, terkoreksi 1,73% sebulan, pasangan valas AUD/USD di level 0,690 atau melemah 3,49% dalam satu bulan.
Baca Juga: IHSG Anjlok ke Valuasi Krisis, Ini Saham yang Direkomendasikan & Bisa Diakumulasi
Sementara itu, pairing valas USD/JPY tercatat mengalami kenaikan dalam satu bulan sebesar 1,75% menjadi 161,7. Namun, level ini sudah cukup lemah dibandingkan awal tahun 2026 yang mana USD/JPY berada di kisaran 155,9.
Analis Komoditas dan Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono, mengatakan penguatan dolar AS saat ini ditopang oleh kombinasi data ekonomi domestik yang masih solid serta perubahan ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).
Menurutnya, pasar tenaga kerja AS masih menunjukkan stabilitas, sementara inflasi yang kembali meningkat membuat pelaku pasar mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga secara agresif dalam waktu dekat.
Selain itu, risalah rapat kebijakan moneter terbaru menunjukkan bahwa sikap dovish atau pelonggaran kebijakan yang sebelumnya diharapkan pasar mulai berkurang seiring kekhawatiran terhadap inflasi inti yang masih bertahan tinggi.
“Selain itu, kinerja sektor teknologi AS yang masih kuat juga turut memperkuat narasi exceptionalism ekonomi Amerika Serikat. Kondisi tersebut mendorong aliran modal global masuk ke aset berbasis dolar AS,” ujar Wahyu kepada Kontan, Rabu (24/6/2026).
Di sisi lain, ketidakpastian geopolitik global dan fluktuasi harga minyak juga membuat dolar AS kembali diminati sebagai aset safe haven.
Baca Juga: Kenaikan BI Rate Ubah Peta Pasar Obligasi, Efek Crowding Out Terlihat
Wahyu menjelaskan, kebijakan suku bunga tinggi dalam waktu yang lebih lama atau higher for longer dari The Fed memberikan tekanan terhadap sebagian besar mata uang utama melalui mekanisme perbedaan suku bunga (interest rate differential).
Euro misalnya, masih kesulitan menguat meskipun Bank Sentral Eropa (ECB) telah mengambil langkah yang relatif hawkish. Selisih imbal hasil yang masih menguntungkan dolar AS membuat pasangan EUR/USD tetap bergerak defensif.
Sementara itu, yen Jepang menjadi mata uang yang paling tertekan. Meski Bank of Japan (BoJ) mulai melakukan normalisasi kebijakan, tingkat suku bunga dan imbal hasil riil Jepang masih jauh di bawah Amerika Serikat sehingga membuat yen kehilangan daya tarik.
Adapun poundsterling relatif lebih tangguh karena Bank of England (BoE) masih mempertahankan suku bunga yang kompetitif. Namun, ruang penguatannya tetap terbatas selama dolar AS masih mendominasi pasar global.
Dolar Australia juga menghadapi tekanan karena sangat sensitif terhadap prospek pertumbuhan ekonomi global. Penguatan yield obligasi AS tenor pendek membuat sebagian arus modal keluar dari aset berisiko, termasuk dolar Australia.
Di tengah tekanan tersebut, Wahyu menilai yen Jepang saat ini menjadi salah satu mata uang yang paling menarik untuk mulai dicermati investor. Secara fundamental, yen dinilai berada pada level undervalued setelah mengalami pelemahan struktural dalam beberapa tahun terakhir.
Untuk investor ritel, Wahyu merekomendasikan strategi dollar cost averaging (DCA) atau akumulasi bertahap pada mata uang yang mengalami depresiasi cukup dalam seperti yen dan euro.
Baca Juga: Ada Enam Perusahaan Mau IPO, Tiga Calon Emiten Ini Menjadi Favorit Analis
Hingga akhir tahun 2026, Wahyu memperkirakan penguatan dolar AS masih berpotensi berlanjut dalam jangka pendek dengan DXY berpeluang menguji area 102 hingga 105.
Untuk pairing valas utama, Wahyu memperkirakan EUR/USD akan bergerak pada rentang 1,13 hingga 1,20 hingga akhir tahun. Sementara USD/JPY diproyeksikan berada di kisaran 155 hingga 160.
Adapun GBP/USD diperkirakan bergerak pada rentang 1,30 hingga 1,37, sedangkan AUD/USD berpotensi pulih ke area 0,68 hingga 0,75 dengan dukungan stabilitas harga komoditas dan perbaikan ekonomi Asia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














