Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah membawa valuasi pasar saham Indonesia ke level yang identik dengan masa krisis. Meski demikian, kondisi tersebut menurut riset UOB Kay Hian justru dinilai membuka peluang investasi dengan rasio risiko dan imbal hasil (risk-reward) yang menarik bagi investor.
IHSG hingga sesi siang pada Jumat (26/6/2026) melemah 2,73% di 5.835,11.
Analis UOB Kay Hian Willinoy Sitorus dalam riset 26 Juni 2026 menetapkan target IHSG pada akhir 2026 di level 7.500. Target tersebut didasarkan pada valuasi 12 kali forward price-to-earnings (PE) serta proyeksi pertumbuhan laba per saham alias earnings per share (EPS) lebih dari 8%.
Willinoy mencatat IHSG sempat menjadi salah satu indeks saham dengan kinerja terburuk di dunia setelah terkoreksi hingga 32% secara year-to-date (ytd).
Baca Juga: Kenaikan BI Rate Ubah Peta Pasar Obligasi, Efek Crowding Out Terlihat
Saat ini, IHSG diperdagangkan pada valuasi sekitar 10 kali PE 2026 dan 8,6 kali PE 2027, level terendah sejak pandemi COVID-19 dan mendekati valuasi saat Krisis Keuangan Global alias Global Financial Crisis (GFC) 2008–2009.
"Posisi ini mencerminkan diskon yang sangat besar dibandingkan pasar saham regional," tulis tim analis dalam laporannya.
Meski IHSG sempat pulih dari titik terendah pada Juni, UOB Kay Hian menilai penguatan tersebut masih didorong oleh sentimen pasar. Re-rating yang lebih berkelanjutan membutuhkan konsistensi pelaksanaan kebijakan pemerintah serta stabilitas makroekonomi.
Menurut UOB Kay Hian, sejumlah sentimen negatif sebenarnya telah mulai tercermin dalam harga saham (priced in). Risiko tersebut antara lain tekanan fiskal, pelemahan nilai tukar rupiah, inflasi, prospek negatif dari lembaga pemeringkat Fitch dan Moody's, serta evaluasi terhadap status Indonesia di indeks MSCI Emerging Markets (MSCI EM).
Bobot Indonesia di MSCI EM kini turun menjadi sekitar 0,5%, jauh di bawah posisi puncaknya yang sempat mendekati 3% dalam satu dekade terakhir. Jumlah emiten Indonesia yang masuk indeks MSCI juga menyusut dari lebih dari 20 perusahaan menjadi hanya 11 emiten.
Meski demikian, UOB Kay Hian masih memperkirakan Indonesia akan tetap menjadi bagian dari MSCI Emerging Markets. Otoritas pasar modal Indonesia juga masih memiliki waktu hingga 26 November untuk menunjukkan perbaikan tata kelola dan transparansi kepada MSCI.
Baca Juga: Ada Enam Perusahaan Mau IPO, Tiga Calon Emiten Ini Menjadi Favorit Analis
Laporan tersebut juga menyoroti valuasi saham perbankan yang sudah mencerminkan skenario pesimistis.
Saham BBCA dan BBRI diperdagangkan mendekati level Price to Book Value (PBV) terendah saat krisis keuangan global, sementara BMRI dan BBNI bahkan berada di bawah level terendah pada 2018.
Di sisi lain, saham-saham perbankan menawarkan dividend yield sekitar 6%-10%. Namun, pemulihan sektor ini dinilai masih bergantung pada membaiknya likuiditas sektor riil yang saat ini masih terserap oleh instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan berbagai kebijakan penyaluran kredit.
Dalam kondisi pasar saat ini, UOB Kay Hian merekomendasikan strategi selective accumulation dengan fokus pada sektor perbankan, komoditas, dan saham defensif.
Adapun rekomendasi saham pilihan UOB Kay Hian meliputi:
- Otomotif & Perbankan: ASII (BUY, target Rp 7.100) dan BBCA (BUY, target Rp 8.150).
- Konsumer: CMRY (BUY, target Rp 6.400) dan JPFA (BUY, target Rp 3.330), didukung prospek program Makan Bergizi Gratis (MBG).
- Logam & Emas: AMMN (BUY, target Rp 7.000), BRMS (BUY, target Rp 1.330), dan MDKA (BUY, target Rp 3.900).
- Batubara: DEWA (BUY, target Rp 1.375), didukung prospek harga batubara dan pelonggaran kuota RKAB.
- Telekomunikasi: TLKM (BUY, target Rp 3.600), seiring konsolidasi industri dan potensi lelang spektrum baru.
Selain itu, UOB Kay Hian memberikan rekomendasi HOLD untuk BMRI dengan target harga Rp 5.150, serta rekomendasi BUY untuk saham pelayaran BULL dengan target harga Rp 750.
Baca Juga: RMKE Dapat Restu RUPSLB Untuk Eksekusi Stock Split Rasio 1:5
Menurut UOB Kay Hian, meski ketidakpastian makro masih membayangi pasar, valuasi IHSG yang telah berada di level krisis memberikan peluang bagi investor jangka panjang untuk mulai melakukan akumulasi secara selektif.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













