kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.581.000   -14.000   -0,54%
  • USD/IDR 17.992   80,00   0,45%
  • IDX 6.010   -61,64   -1,02%
  • KOMPAS100 774   -11,44   -1,46%
  • LQ45 592   -8,80   -1,46%
  • ISSI 208   -2,25   -1,07%
  • IDX30 328   -4,71   -1,41%
  • IDXHIDIV20 419   -5,32   -1,25%
  • IDX80 88   -1,32   -1,47%
  • IDXV30 114   -0,94   -0,82%
  • IDXQ30 107   -1,23   -1,13%

Antisipasi Volatilitas Rupiah, Cermati Racikan Portofolio Fixed Income


Kamis, 01 Oktober 2026 / 19:25 WIB
Antisipasi Volatilitas Rupiah, Cermati Racikan Portofolio Fixed Income
ILUSTRASI. Obligasi Negara/SUN (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Laju pasar keuangan domestik diwarnai ketidakpastian seiring tingginya volatilitas nilai tukar rupiah dan tingginya yield obligasi global sepanjang September 2026.

Di tengah situasi risk off tersebut, investor disarankan menerapkan strategi portofolio defensif melalui kombinasi pasar uang serta akumulasi bertahap pada instrumen pendapatan tetap (fixed income).

Berdasarkan data laporan kinerja portofolio investasi September 2026, nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah (USD/IDR) merangkak naik 0,97% secara month on month (MoM) dari Rp 17.722 pada Agustus menjadi Rp 17.894 per Dolar AS pada akhir September, atau melesat 7,28% secara year to date (YtD).

Baca Juga: Pemerintah Tebar Stimulus Rp 31 Triliun, Saham Consumer Ini Berpotensi Terdongkrak

Sejalan dengan pelemahan mata uang Garuda, kinerja Obligasi Pemerintah (SBN) terkoreksi tipis 0,26% MoM.

Sebaliknya, pasar obligasi korporasi relatif tahan banting dengan mencatatkan imbal hasil positif 0,39% MoM dan tumbuh 2,56% YtD.

Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori Ekky Topan menjelaskan, gejolak pasar saat ini dipicu oleh kombinasi sentimen eksternal dan domestik.

Konflik AS-Iran serta ketidakpastian Selat Hormuz mengerek harga minyak mentah yang berpotensi memicu inflasi dan menekan neraca eksternal Indonesia sebagai negara net importer minyak.

Di saat bersamaan, sikap hawkish The Fed mendorong kenaikan yield US Treasury 10 tahun hingga kisaran 5,3%, sehingga memicu penguatan Dolar AS.

Dari dalam negeri, rupiah sempat menembus level psikologis Rp 18.000 per dolar AS, sementara inflasi September merangkak naik ke level 3,28%.

Menghadapi tingginya volatilitas tersebut, Ekky menyarankan investor untuk mengadopsi porsi portofolio yang cenderung defensif.

Alokasi ideal mencakup 25%–35% pada instrumen pasar uang guna menjaga likuiditas, 45%–55% pada Surat Berharga Negara (SBN), serta 15%–20% pada obligasi korporasi berkualitas tinggi berperingkat AAA hingga AA.

"Untuk SBN, kami menyukai strategi akumulasi bertahap. Investor tidak perlu langsung masuk seluruhnya pada tenor panjang, tetapi dapat menggunakan kombinasi tenor pendek-menengah dan menambah durasi ketika yield kembali naik," ujar Ekky kepada Kontan, Kamis (1/10/2026).

Ia menilai apabila yield SBN 10 tahun kembali berada di atas level 7,2%, setelah sempat menyentuh 7,22% di akhir September, area tersebut sudah sangat menarik untuk mulai diakumulasi karena menawarkan carry tinggi sekaligus potensi capital gain saat pasar kembali normal.

Sementara pada obligasi korporasi, tenor 1–5 tahun dengan peringkat investment grade tinggi menjadi pilihan tepat karena memberikan tambahan spread tanpa beban risiko durasi yang berlebihan.

Terkait pergerakan mata uang, Ekky memperkirakan rupiah masih berpotensi menguji area Rp 18.000–Rp 18.150 per dolar AS dalam jangka pendek.

Namun, menjelang akhir tahun 2026, skenario utama (base case) menunjukkan peluang pemulihan rupiah ke kisaran Rp 17.500–Rp 17.800 per dolar AS.

"Base case kami masih melihat peluang rupiah kembali berada di kisaran Rp 17.500–Rp 17.800 per dolar AS, terutama apabila tekanan harga minyak mereda, ekspektasi kenaikan suku bunga Fed berkurang dan aliran dana asing kembali masuk," kata Ekky.

Prospek penstabilan tersebut turut ditopang oleh capaian surplus neraca perdagangan Agustus 2026 yang membukukan angka US$ 3,55 miliar.

Proyeksi yield SBN 10 tahun hingga akhir tahun 2026 diperkirakan berkisar di level 7,0%–7,2%, dengan rentang pergerakan antara 6,9%–7,4% bergantung pada dinamika global.

Investor dihimbau untuk memanfaatkan momentum koreksi teknikal guna mengamankan yield tinggi pada penerbit berfundamental kuat dengan risiko refinancing yang rendah.

Baca Juga: Wijaya Karya (WIKA) Targetkan Divestasi Aset Senilai Rp 5 Triliun Hingga 2028

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×