kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.920.000   30.000   1,04%
  • USD/IDR 16.900   45,00   0,27%
  • IDX 7.935   -168,62   -2,08%
  • KOMPAS100 1.117   -23,38   -2,05%
  • LQ45 816   -13,78   -1,66%
  • ISSI 278   -6,99   -2,45%
  • IDX30 426   -6,36   -1,47%
  • IDXHIDIV20 515   -6,10   -1,17%
  • IDX80 125   -2,26   -1,78%
  • IDXV30 139   -2,98   -2,10%
  • IDXQ30 139   -1,10   -0,79%

Analis: Sektor yang underperform masih sulit naik


Kamis, 14 September 2017 / 21:09 WIB
Analis: Sektor yang underperform masih sulit naik


Reporter: Nisa Dwiresya Putri | Editor: Dupla Kartini

KONTAN.CO.ID - Secara sektoral, saham sektor agrikultur, khususnya yang berbasis minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) masih menunjukkan peforma di bawah rata-rata peforma industri atau pasar (underperform). Kondisi yang sama terjadi pada sektor properti dan konstruksi.

Padahal, beberapa kebijakan dan kondisi ekonomi belakangan diharapkan dapat menggenjot kinerja emiten. Misalnya dengan penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia. Di satu sisi, penurunan suku bunga acuan ini dipandang akan berdampak positif, karena seiring dengan penurunan suku bunga simpanan, suku bunga kredit pun akan tertekan.

Kepala Riset MNC Sekuritas Edwin Sebayang menyebut, peluang yang ada saat ini, belum berpengaruh banyak untuk menggenjot performa emiten properti dan CPO. Selain, karena fundamental perusahaan yang tak cukup kuat untuk mendorong, isu perebutan pasar juga turut membebani.

Belakangan pemerintah memang gencar menerbitkan obligasi. Hal ini, menurut Edwin, memicu crowding out atau perebutan dana di market antara pemerintah dan swasta. “Likuiditas market sepi. Apalagi asing terus keluar dari market Indonesia,” tambah Edwin.

Dalam jangka panjang, seperti lima tahun ke depan, Edwin menilai, saham CPO maupun properti masih prospektif. Namun, sementara ini, ia menyebut, performa saham-saham yang ada di sektor tersebut di akhir tahun tak akan jauh berbeda dengan kondisi sekarang.

“Sejauh ini, akan mengikuti kinerja fundamental, enggak akan jauh berbeda haga sahamnya. Banyak orang turunkan konsumsi juga. Saya lebih setuju bahkan kalau tarif pajak korporat atau perseorangan itu dipotong, hingga banyak dana untuk lain-lain,” lanjut Edwin.

Sebelumnya, Edwin merinci bahwa emiten sektor properti serta emiten yang berbasis CPO mengalami underperform. Adapun pemicunya faktor fundamental. Misalnya, penjualan rumah masih lesu pada semester I 2017 sehingga berdampak pada fundamental perusahaan. “Kita masih bertanya apakah di semester II tumbuh atau tidak. Makanya mereka masih tidak terlalu pegang dulu itu saham. Sama seperti CPO,” tutur Edwin, Rabu (13/9).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×