kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Analis Monex: Kekhawatiran perlambatan ekonomi berpotensi buat harga minyak melemah


Senin, 25 Maret 2019 / 17:44 WIB
Analis Monex: Kekhawatiran perlambatan ekonomi berpotensi buat harga minyak melemah

Berita Terkait

Reporter: Yusuf Imam Santoso | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Analis Monex Investindo Futures Faisyal mengatakan, harga minyak berpeluang bergerak turun dalam jangka pendek di balik kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi yang potensi menyeret resesi di Amerika Serikat (AS) yang dapat meredam permintaan untuk minyak mentah.

Kekhawatiran tersebut juga ditopang dengan sikap dovish The Fed pada pekan lalu. Tetapi sepertinya harga minyak masih cukup positif.


Mengutip Bloomberg pada Senin (25/3) pukul 15.30 WIB, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) AS berada di US$ 59,83 per barel. Angka ini naik 1,35% atau sekitar US$ 59,03 per barel pada perdagangan sebelumnya.

Ancaman resesi AS salah satunya dibuktikan dengan beberapa data ekonomi AS yang negatif pada akhir perdagangan pekan lalu. Pertama, data Flash Manufacturing Purchasing Managers’ Index (PMI) bulanan AS di level 52,5. Di bawah ekspektasi di level 53,5 dan pencapaian bulan sebelumnya di level 53.

Kedua data Federal Budget Balance bulanan AS yang memerah di level defisit US$ 234 miliar di bawah ekspektasi sebesar US$ 228 miliar dan lebih rendah dari bulan sebelumnya di level US$ 8,7 miliar.

Ketiga data Final Wholesale Inventories bulanan AS di level 1,2%, di bawah prediksi 0,2% dan pencapaian periode sama bulan sebelumnya di level 1,1%.

Kata Faisya di sisi lain harga minyak berpeluang untuk rebound jika pasar mempertimbangkan penurunan aktivitas rig dalam laporan Baker Hughes serta masih berjalannya pembatasan suplai dari Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) dan non-OPEC.

Ia meramal dalam analisisnya Senin (25/3) untuk perdagangan besok harga minyak akan bergerak di level support US$ 58,00, US$ 57,40, dan US$ 56,70 per barel. Sementara level resistance antara US$ 59,0, US$ 59,60, dan US$ 60,40 per barel.




TERBARU

Close [X]
×