Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun masih bertahan di level tinggi, mencerminkan tekanan yang masih kuat di pasar obligasi domestik.
Belakangan yield SBN memang cenderung menanjak naik. Di awal tahun pada 2 Januari 2026, yield SBN tenor 10 tahun berada di level 6,04%. Kini per 25 Maret 2026, yield SBN 10 tahun berada di level 6,84% atau mendekati 7%.
Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi menilai faktor domestik saat ini cenderung lebih dominan dalam memengaruhi pergerakan yield SBN, terutama ketika sentimen global mulai membaik namun yield tetap tinggi.
Menurutnya, tekanan nilai tukar rupiah menjadi pemicu utama yang mendorong investor meminta imbal hasil lebih tinggi.
Rupiah yang sempat bergerak di kisaran Rp 16.975 - Rp 16.985 per dolar AS membuat investor asing menuntut kompensasi tambahan agar return riil mereka tidak tergerus pelemahan kurs.
Baca Juga: Prospek SBN Masih Menarik di 2026, Tapi Investor Asing Lebih Selektif
“Dari situ, premi risiko seperti credit default swap (CDS) ikut mengeras, lalu pasar meminta yield lebih tinggi (sebagai kompensasi) terutama di tenor panjang,” jelas Syafruddin kepada Kontan, Jumat (27/3/2026).
Selain faktor kurs dan premi risiko fiskal-pasar. Pasar pun mencermati kebutuhan pembiayaan pemerintah, potensi peningkatan suplai SBN, serta ketahanan fiskal jangka menengah.
Syafruddin menyimpulkan, dalam kondisi saat ini tekanan nilai tukar menjadi pemicu tercepat, diikuti oleh premi risiko sebagai faktor penguat, serta ekspektasi suplai SBN yang turut menahan yield tetap tinggi di level elevated.
Di sisi lain, kondisi kenaikan yield ini juga terjadi di tengah sikap The Fed yang memutuskan untuk menahan suku bunga di kisaran 3,5%–3,75% pada Maret 2026. Sikap The Fed yang tak agresif menaikkan suku bunga seharusnya memberi ruang bagi obligasi emerging markets untuk menguat.
Baca Juga: Minat Investor Terhadap SBN Terbatas, Imbal Hasil Dinilai Kurang Kompetitif
Tetapi Syafruddin juga bilang bahwa sejatinya pergerakan yield SBN tidak semata-mata dipengaruhi oleh arah kebijakan The Fed.
Namun, investor juga mencermati dinamika yield global yang masih tinggi, kekuatan dolar AS, hingga premi risiko domestik.
“Dalam kondisi saat ini, yield global masih relatif tinggi. US Treasury tenor 10 tahun berada di kisaran 4,42%, Bund Jerman 3,08%, dan Gilt Inggris 4,96%. Dalam lingkungan seperti ini, investor tetap meminta kompensasi yang besar untuk memegang SBN rupiah,” lanjutnya.
Selain itu, ia menilai kenaikan yield SBN yang terjadi sejak akhir Desember 2025 mencerminkan adanya penyesuaian harga risiko jangka panjang Indonesia, bukan sekadar reaksi jangka pendek pasar.
Meski demikian, Syafruddin menegaskan kondisi ini belum mengarah pada krisis. Pasar obligasi masih berfungsi normal dengan spread yang relatif terjaga.
"Tetapi kondisi ini layak diwaspadai karena yield yang bertahan tinggi berarti biaya pembiayaan negara, korporasi, dan perekonomian ikut menanjak," tegasnya.
Baca Juga: Hingga Akhir Masa Penawaran, Penjualan SBN Ritel ORI029 Baru Terserap 57,9%
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













