Reporter: Oginawa R Prayogo | Editor: Dikky Setiawan
JAKARTA. Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) menyampaikan, saat ini jumlah analis efek di Indonesia masih terbilang sedikit. AAEI pun menargetkan Indonesia mempunyai 1.000 analis di akhir tahun 2014.
Haryajid Ramelan, Ketua AAEI menjelaskan, jumlah analis efek yang berada di bawah naungan AAEI sebanyak 103 orang dan di luar AAEI sebanyak 150 orang.
"Pekan depan akan ada 40 orang lagi yang lulus. Jadi totalnya hampir mendekati 300 orang," ujarnya usai acara Seminar AAEI di Gedung BEI, (13/9).
Haryajid juga mengakui profesi analis efek belum secara resmi terdaftar di Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). "Saat ini masih sedang dalam proses perizinan, akhir tahun akan segera diresmikan," ungkapnya.
Haryajid menuturkan, gelar yang diperoleh analis efek berupa CSA (Certified Securities Analyst). CSA adalah program pendidikan sertifikasi profesi bagi praktisi analis efek yang berbobot dan bergengsi baik dari segi materi kurikulum, studi kasus.
Untuk itu, lanjut Haryajid, ke depannya AAEI akan terus menambah analis efek dengan memberikan pelatihan secara rutin.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













