kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   -20.000   -0,70%
  • USD/IDR 17.500   -30,00   -0,17%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Rupiah Rebound di Tengah Ketegangan AS-Iran, Pasar Nantikan Langkah BI


Rabu, 13 Mei 2026 / 17:19 WIB
Rupiah Rebound di Tengah Ketegangan AS-Iran, Pasar Nantikan Langkah BI
ILUSTRASI. Nilai tukar rupiah melemah (ANTARA FOTO/ASPRILLA DWI ADHA)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah berhasil ditutup menguat pada perdagangan Rabu (13/5/2026). 

Mengutip Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp 17.476 per dolar Amerika Serikat (AS). Ini membuat rupiah menguat 0,3% dibanding penutupan hari sebelumnya yang berada Rp 17.529 per dolar AS. 

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai penguatan rupiah terjadi di tengah sentimen global yang masih rapuh akibat meningkatnya tensi geopolitik dan tekanan inflasi Amerika Serikat (AS).

Menurut Ibrahim, pasar masih mencermati perkembangan negosiasi antara AS dan Iran yang setelah Teheran menolak proposal perdamaian yang didukung Washington untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali Selat Hormuz.

Sentimen pasar tetap rapuh setelah Trump mengatakan negosiasi dengan Iran berada dalam kondisi kritis.

"Komentar tersebut meredam optimisme atas gencatan senjata jangka pendek dan menjaga ketidakpastian geopolitik tetap tinggi. Konflik yang berkepanjangan telah mengganggu pengiriman melalui Selat Hormuz, jalur transit minyak global utama, yang memicu kekhawatiran akan inflasi yang berkelanjutan akibat kenaikan harga energi dan mempersulit prospek suku bunga," jelas Ibrahim, Rabu (13/5/2026).

Selain itu, investor juga fokus terhadap pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing pada 14-15 Mei. Pertemuan tersebut diperkirakan akan membahas berbagai isu strategis mulai dari perang dagang, konflik Iran, Taiwan hingga rantai pasok global.

Ibrahim menambahkan, perang Iran mulai berdampak pada ekonomi AS melalui kenaikan harga minyak yang mendorong inflasi lebih tinggi. 

Data terbaru menunjukkan indeks harga konsumen (CPI) AS naik 0,6% pada April, sementara inflasi tahunan meningkat menjadi 3,8%, tertinggi sejak pertengahan 2023.

Dari dalam negeri, Ibrahim menilai kondisi fiskal Indonesia masih di bawah batas aman. Rasio utang pemerintah terhadap produk domestik bruto (PDB) tercatat sebesar 40,75%, masih di bawah batas aman Undang-Undang Keuangan Negara sebesar 60% PDB.

"Rasio utang Indonesia masih lebih rendah dibandingkan negara lain. Pemerintah, dalam hal ini mengelola utang secara cermat dan terukur. Menurutnya, utang Singapura di level 180% terhadap PDB, Malaysia lebih dari 60% dari PDB," katanya.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, posisi utang pemerintah mencapai Rp 9.920,42 triliun per 31 Maret 2026, naik 2,9% dibandingkan posisi akhir 2025.

Untuk perdagangan Senin (18/5), Ibrahim mengatakan pasar akan kembali mencermati data indeks harga produsen atau Producer Price Index (PPI) AS guna memperoleh petunjuk lanjutan terkait arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.

Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) diperkirakan tetap aktif melakukan intervensi di pasar valuta asing, termasuk melalui pasar offshore non deliverable forward (NDF), guna menjaga stabilitas rupiah di tengah tingginya tekanan global.

Intervensi di pasar off-shore dilakukan BI secara berkesinambungan di pasar New York AS, Asia, dan Eropa. 

"BI juga akan melakukan intervensi secara agresif di pasar domestik sejak awal pembukaan tanggal 18 Mei 2026 dengan intervensi di pasar valas (spot dan DNDF) serta pembelian SBN (Surat Berharga Negara) di pasar sekunder," imbuhnya.

Ibrahim memproyeksikan rupiah pada perdagangan Senin (18/5) bergerak di kisaran Rp 17.470 hingga Rp 17.530 per dolar AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×