Reporter: Chelsea Anastasia | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasca aksi demonstrasi di Jakarta, Kamis (28/8/2025), risiko investasi atau Credit Default Swap (CDS) 5 tahun Indonesia meningkat. Imbal hasil obligasi pemerintah yang juga naik tipis, turut mengindikasikan persepsi risiko pasar terhadap Indonesia.
Berdasarkan Trading Economics, pada Jumat (29/8/2025), imbal hasil (yield) Surat Utang Negara (SUN) 10 tahun berada di level 6,32% atau naik tipis 0,02 poin dari sesi sebelumnya.
Sementara itu, mengutip Bloomberg, persepsi risiko investasi atau Credit Default Swap (CDS) 5 tahun Indonesia meningkat ke level 67,726 atau naik 0,38% secara harian.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman melihat, aksi demonstrasi memang berpotensi memperbesar foreign outflow atau keluarnya dana asing.
“Terutama pada Surat Berharga Negara (SBN) yang sensitif terhadap persepsi risiko,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (29/8/2025).
Baca Juga: Risiko Investasi (CDS) Indonesia Naik Seiring Pelemahan Rupiah dan IHSG
Rizal melihat, tekanan dapat muncul melalui pelemahan rupiah, peningkatan biaya lindung nilai (hedging), dan aksi jual cepat oleh investor jangka pendek.
Namun, menurut Rizal, sensitivitas saat ini tak sebesar era “taper tantrum” pada 2013 silam. “Pasalnya, kepemilikan asing di SBN rupiah sudah jauh berkurang menjadi sekitar 14%–15%,” imbuh Rizal.
Dengan demikian, ia memandang efek keluarnya asing berpotensi terjadi, tetapi tidak akan menimbulkan guncangan struktural sepanjang stabilitas rupiah dan komunikasi fiskal-moneter tetap terjaga.
Untuk strategi ke depan, Rizal melihat investor asing kemungkinan besar memilih sikap wait-and-see, dengan investor jangka pendek yang cenderung memangkas durasi portofolio dan mengurangi eksposur obligasi.
Sementara itu, investor dengan horizon panjang akan lebih rasional dengan menahan portofolio, melakukan rotasi ke seri menengah (5–10 tahun), ataupun memarkir dana di instrumen BI seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang lebih aman dan likuid.
“Arah strategi mereka sangat tergantung pada seberapa cepat tensi politik domestik mereda, serta arah kebijakan The Fed September mendatang,” terang Rizal.
Rizal juga melihat pemerintah dapat melakukan langkah stabilisasi di tengah sentimen negatif domestik yang masih mendominasi.
Ia memandang, sejumlah langkah BI seperti menjaga intervensi di pasar valuta asing, menyediakan likuiditas Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan aktif di pasar SBN sekunder sudah tepat.
Baca Juga: Ada Demo, Persepsi Risiko Investasi (CDS) Indonesia Meningkat
Tetapi, dari sisi fiskal, Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) dapat mengaktifkan buyback maupun switch auction untuk menjaga kelancaran kurva yield.
Tak kalah penting, ia menekankan pentingnya strategi komunikasi. “Pemerintah perlu memastikan efek demonstrasi bersifat situasional, bukan sinyal pelemahan stabilitas makro,” kata Rizal.
Sebab, risiko dapat meningkat apabila demonstrasi memengaruhi jalannya program fiskal, menekan cadangan devisa, ataupun memicu persepsi ketidakpastian kebijakan.
“Jika skenario itu terjadi, maka investor asing dapat meningkatkan premi risiko secara lebih permanen,” tandas Rizal.
Selanjutnya: Bank CIMB Niaga Catatkan Transaksi QRIS Tap Naik Hampir 2x lipat per Bulan
Menarik Dibaca: Ide Meja Rias Kamar Mandi Kecil, Mewah dan Modern untuk Rumah Minimalis
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News