Reporter: Ika Puspitasari | Editor: Noverius Laoli
Menurut Nico, normalisasi kebijakan memang dibutuhkan sebelum menaikkan tingkat suku bunga, oleh sebab itu Nico bilang dengan situasi dan kondisi dimana inflasi berada di titik tertinggi, The Fed akan segera mengeluarkan pengumuman kapan taper tantrum akan dilakukan. Yang mana, proyeksinya tapering akan terjadi pada pertengahan November atau Desember 2021.
Nico menambahkan, jika pengumuman hasil FOMC hanya membahas taper tantrum, maka efeknya tidak signifikan untuk pergerakan IHSG.
Namun, apabila pengumuman The Fed ada pembahasan mengenai kenaikkan tingkat suku bunga yang lebih cepat dari target sebelumnya, serta berpotensi terjadi pada tahun 2022 mendatang, tak menutup kemungkinan IHSG akan merespons dengan adanya koreksi meskipun hanya secara jangka pendek.
Baca Juga: IHSG turun 0,82% ke 6.602 pada Rabu (27/10), asing masih mencatat net buy
Nico menyampaikan, saham-saham dari sektor komoditas masih bisa jadi pilihan, diikuti dengan perbankan dan sektor teknology. "Harga komoditas yang diikuti dengan tingginya permintaan masih akan menjadi primadona. Perbankan yang mulai unjuk gigi apalagi di akhir tahun, juga akan mencuri perhatian," kata Nico.
Sektor terknologi juga tak kalah menarik karena perusahaan-perusahaan teknologi di Indonesia akan melantai dan mendorong sektor ini akan mengalami kenaikkan kembali. Nico menjagokan saham-saham seperti BBNI, BMRI, BBCA, BBRI, EXCEL, TLKM, BUKA, EMTK, MTDL, ASSA, PTBA, ADRO, ITMG, dan INCO.
Selanjutnya: Usai melemah pekan ini, bagaimana pergerakan IHSG pada awal pekan depan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News