Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Yudho Winarto
WIKA mengharapkan bisa mencapai 40% dari target kontrak barunya di paruh pertama tahun ini. Suradi bilang, semester I ini perseroan masih akan mengandalkan proyek swasta. Pasalnya proyek besar yang dibidik perseroan seperti kontrak kereta Api cepat Jakarta- Bandung (HSR) kemungkinan baru diperoleh pada paruh kedua mendatang. "Proyek besar lainnya seperti pembangkit listrik masih dalam proses tender saat ini," kata Suradi.
Saat ini, lanjut Suradi, WIKA berpotensi mengantongi kontrak baru terendah senilai Rp 600 miliar dari tender sejumlah proyek yang diikuti perseroan. Sehingga dalam waktu dekat perseroan akan mengantongi kontrak anyar Rp 5,9 triliun .
Adapun proyek yang diperoleh WIKA sepanjang kuartal I di antaranya proyek pembangunan pabrik minyak Goreng di Sumatera Utara senilai Rp 501 miliar, proyek jaringan gas Prabumulih senilai Rp 296 miliar, proyek strategis Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang terdiri dari stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG) Bekasi, fasilitas penerangan jalan umum, tank bahan bakar nabati, pembangunan pembangkit listrik mini hydro di Papua senilai Rp 207,33 miliar.
Lalu proyek pembangunan jalan tol Manado–Bitung senilai Rp 169,63 miliar, pembangunan elevated road Maros–Bone senilai Rp 91,46 miliar, proyek tol Bawen-Solo seksi dua senilai Rp 75,4 miliar dan proyek Semanggi Interchange Rp 331 miliar
Adapun proyek lain yang didapat PTPP antara lain mobile power plant senilai Rp 447 miliar, Setiabudi Residence Medan Rp 281 miliar, peningkatan air bersih Angkasa Pura II di tangerang Rp 253 miliar, Transmart di Depok dan Surabya Rp 392 miliar dan lainnya.
Tahun ini, PTPP membidik kontrak baru Rp 31 triliun atau naik 14,7% dibanding dengan realisasi tahun lalu yakni sebesar Rp 27,014 triliun. Perseroan akan lebih banyak membidik proyek BUMN dengan porsi sekitar 46%. Sementara proyek pemerintah dibidik 33% dan proyek swasta 21%.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













