: WIB    —   
indikator  I  

Penjelasan OSO Sekuritas tentang saham PER gemuk

Penjelasan OSO Sekuritas tentang saham PER gemuk

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Memasuki kuartal 4, emiten yang mencatat Price to Earning Ratio (PER) mencapai 360 perusahaan. Sebanyak 29 diantaranya mencetak PER di atas 100 kali.

Di antaranya yakni PT Grand Kartech Tbk (KRAH) dengan PER 4.480 kali, PT Semen Baturaja Tbk (SMBR) 133 kali seiring dengan PT XL Axiata Tbk(EXCL) dan PT Indika Energy Tbk (INDY) mencapai 134 kali dan PT Siloam International Hospitals (SILO) 256 kali.

Analis OSO Sekuritas Riska Afriani mengatakan PER merupakan kelipatan harga terhadap laba bersih sehingga rata-rata saham dengan PER diatas seratus berasal dari saham lapis ketiga. Pasalnya, fluktuasi salam lapis ketiga memmiliki volatilitas yang cukup tinggi, secara harian saham lapis ketiga mampu naik 15% sampai 30%.

KRAH dinilai memiliki kinerja keuangan yang positif. Sejak keterpurukan di tahun 2015, emiten ini mampu bangkit dengan laba yang positif di tahun 2016. Kenaikan harga KRAH secara signifikan mulai terlihat di tahun 2015. Sebelumnya, posisi harga KRAH di tahun 2014 Rp 440 hingga kini harga saham KRAH mencapai Rp 2.720. Riska menilai harga saham KRAH cukup stabil karena EPS yang tinggi.

Persaingan untuk sub sektor semen cukup tinggi. Namun, menurut Riska SMBR memiliki pangsa pasar tersendiri. Meski kinerja SMBR sejak 2015-12016 terkonsolidasi, saham ini masih menarik untuk dikoleksi. Mulai di semester 2-2016 emiten ini menunjukkan kinerja positif. Secara year on year pada kuartal kedua turun, tetapi bila diandingkan secara kuartal terlihat adanya peningkatan. Kenaikan yang sudah melebihi EPS tersebut menghantarkan SMBR dengan PER tertinggi.

Di antara saham-saham dengan EPS tinggi tersebut Riska merekomendasikan saham INDY. Mengingat INDY akan mengakuisisi PT Kideco Jaya Agung pada Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) di awal November. “Jika INDY mampu kengakuisisi Kideco, otomatis mampu meningkatkan pencatatan pendapatan karena saat belum akuisisi aja sepanjang semester satu ini kinerjanya Indika juga naik,” jelas Riska.

Riska mengatakan secara umum saham dengan PER yang sudah tinggi terlihat kurang begitu menarik. Bilamana emiten mampu mencatatkan laba yang leih tinggi EPS akan naik dan PER akan turun. “Jadi kalau misalkan melihat suatu saham yang menarik dengan PER tinggi, mungkin perhitungannya gak based on PER tapi based on discount cashflow,” jelasnya.


Reporter Chindy Puri
Editor Dessy Rosalina

REKOMENDASI SAHAM

Feedback   ↑ x
Close [X]