Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Imbal hasil atau yield US Treasury tenor panjang kembali naik pada perdagangan Rabu (30/9/2026), meski data inflasi Amerika Serikat (AS) yang lebih rendah dari perkiraan menekan yield tenor pendek.
Pergerakan tersebut menutup kuartal yang berat bagi pasar obligasi AS. Yield US Treasury tenor 10 tahun bahkan mencatat kenaikan kuartalan terbesar sejak 2009, di tengah kekhawatiran inflasi dan tingginya harga minyak akibat perang di Timur Tengah.
Baca Juga: Harga Turun 31%, Saham Emiten Menara Milik Grup Djarum Akan Buyback Rp 500 Miliar
Melansir Reuters, yield US Treasury 10 tahun naik 4,05 basis poin menjadi 5,296% setelah sempat menyentuh 5,3061%, level tertinggi sejak Juni 2007.
Sepanjang September, yield US Treasury 10 tahun melonjak sekitar 53 basis poin, menjadi kenaikan bulanan terbesar sejak September 2022.
Secara kuartalan, yield tersebut naik hampir 87 basis poin, sekaligus menjadi kenaikan terbesar sejak kuartal II-2009.
Sementara itu, yield US Treasury tenor 30 tahun naik 4,73 basis poin menjadi 5,6413%. Yield tersebut sempat mencapai 5,6505%, level tertinggi sejak Juni 2002.
Di sisi lain, yield US Treasury tenor dua tahun yang sensitif terhadap ekspektasi kebijakan suku bunga Federal Reserve atau The Fed bergerak datar di 4,889%, setelah sempat turun ke 4,8267%.
Baca Juga: Peta Persaingan Kontraktor Tambang Berubah, PTRO hingga DOID Masuk Radar
Inflasi PCE Lebih Rendah
Pergerakan yield terjadi setelah Departemen Perdagangan AS melaporkan indeks Personal Consumption Expenditures (PCE) naik 0,3% pada Agustus, setelah kenaikan 0,1% pada Juli berdasarkan revisi terbaru.
Inflasi inti PCE atau core PCE naik 3% secara tahunan pada Agustus. Angka tersebut sama dengan kenaikan pada Juli setelah direvisi lebih rendah dari estimasi sebelumnya sebesar 3,3%.
Data inflasi yang lebih rendah tersebut membuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober berkurang.
Baca Juga: IHSG Tertekan, Asing Net Sell Rp1,56 Triliun dan Rupiah Masih Membebani
Berdasarkan data LSEG, pasar kini memperkirakan peluang The Fed mempertahankan suku bunga pada bulan depan sekitar 63%, naik dari 55% sebelum data PCE dirilis.
Luis Alvarado, Co-Head of Global Fixed Income Strategy Wells Fargo Investment Institute, mengatakan angka core PCE memang lebih rendah dari konsensus, tetapi pasar telah mengetahui bahwa perubahan metode perhitungan akan berdampak terhadap data tersebut.
"Pengalaman inflasi aktual dan tekanan keterjangkauan yang dirasakan konsumen serta dunia usaha masih ada. Satu data ini tidak mengubah tren yang selama ini terjadi," kata Alvarado.
Menurut dia, The Fed masih perlu mengambil langkah lebih lanjut untuk meredam inflasi.
Pasar Menanti Data Tenaga Kerja
Investor selanjutnya menunggu laporan nonfarm payrolls September yang akan dirilis pada Jumat. Data ketenagakerjaan tersebut menjadi salah satu indikator penting bagi The Fed dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.
Data private payrolls dari ADP menunjukkan lapangan kerja swasta AS bertambah 90.000 pada September. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan konsensus pasar sebesar 70.000 pekerjaan.
Investor juga mencermati pernyataan pejabat The Fed, termasuk Presiden Federal Reserve Bank of Minneapolis Neel Kashkari.
Baca Juga: Wall Street Ditutup Beragam Rabu (30/9), Nasdaq Naik 0,24% Usai Data Inflasi PCE
Sebelumnya, komentar Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams menunjukkan berkurangnya urgensi bagi The Fed untuk kembali memperketat kebijakan moneter. Hal tersebut sempat mendorong penurunan yield surat utang AS tenor pendek.
Selain pasar tenaga kerja, data perdagangan AS juga menjadi perhatian. Defisit perdagangan barang AS melebar tajam pada Agustus akibat lonjakan impor.
Kondisi tersebut mengindikasikan perdagangan berpotensi kembali menjadi beban bagi pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal III-2026.
Sementara itu, selisih yield US Treasury tenor dua tahun dan 10 tahun berada di level positif 40,4 basis poin. Selisih tersebut menjadi salah satu indikator yang diperhatikan investor dalam membaca ekspektasi terhadap pertumbuhan ekonomi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













