Reporter: Vivit Dewi | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belum mereda.
Pelemahan rupiah, tingginya imbal hasil US Treasury, serta ketidakpastian geopolitik masih menjadi beban pasar, diperparah oleh aksi jual investor asing.
Pada perdagangan Rabu (30/9/2026), IHSG turun 50,56 poin atau 0,83% ke level 6.071,14. Investor asing mencatat net sell sebesar Rp 1,56 triliun di pasar reguler.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda mengatakan, kombinasi tekanan eksternal tersebut masih membatasi ruang penguatan IHSG.
Baca Juga: Asing Net Sell Rp 1,13 Triliun di Awal Pekan, Cermati Saham yang Banyak Dijual
"IHSG masih tertekan oleh rupiah, yield US Treasury yang tinggi, dan ketidakpastian geopolitik," ujar Reza kepada Kontan, Rabu (30/9/2026).
Meski demikian, sejumlah sentimen mulai memberikan ruang bagi pasar untuk meredakan tekanan.
Harga minyak yang turun ke sekitar US$ 96 per barel menjadi salah satu katalis positif.
Selain itu, komentar Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams bahwa belum ada urgensi untuk kembali menaikkan suku bunga dalam waktu dekat turut meredam kekhawatiran terhadap arah kebijakan The Fed.
Selanjutnya, perhatian investor akan tertuju pada rilis data ekonomi domestik pada 1 Oktober 2026, terutama inflasi September dan neraca perdagangan Agustus.
Konsensus Reuters memperkirakan surplus neraca perdagangan Agustus sekitar US$ 630 juta. Sementara itu, inflasi September diproyeksikan meningkat tipis.
Baca Juga: Asing Net Sell Rp 777 Miliar Saat IHSG Terkoreksi, Cek Saham yang Banyak Dijual
Menurut Reza, kedua data tersebut akan menjadi indikator penting untuk membaca kondisi eksternal dan daya beli domestik, sekaligus melihat ruang kebijakan Bank Indonesia (BI) di tengah rupiah yang masih berada pada level lemah.
Dari sisi teknikal, IHSG masih berada dalam tekanan dan mulai memasuki area support Fibonacci di level 6.019. Jika level tersebut gagal dipertahankan, indeks berpotensi menguji support berikutnya di 5.854.
Reza memperkirakan IHSG masih berpeluang bergerak konsolidasi di kisaran 6.000-6.200. Namun, indikator MACD masih menunjukkan kondisi bearish sehingga sinyal rebound belum terkonfirmasi.
Level 6.019 menjadi titik penting yang perlu dicermati investor. Sebaliknya, jika IHSG mampu menembus area 6.185-6.240, peluang technical rebound akan semakin terbuka.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














