Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT WIjaya Karya Tbk (WIKA) masih terus fokus untuk melakukan restrukturisasi untuk memperbaiki kinerja perseroan.
Sepanjang 2026, WIKA meminta restu pemegang surat utang perusahaan untuk restrukturisasi dengan total nilai Rp 10,2 triliun. Sementara, restrukturisasi untuk perbankan ditargetkan senilai Rp 17,6 triliun di 2026.
Direktur WIKA, Mulyadi mengatakan, langkah tersebut masih terus dikomunikasikan dan didiskusikan dengan perbankan.
Di saat bersamaan, WIKA juga terus menggelar RUPO dan RUPSU untuk menyepakati jangka waktu pembayaran imbal hasil.
Baca Juga: Pasar Saham Anjlok, Aset Kripto Memimpin Pemulihan Imbal Hasil
“Mudah-mudahan ini bisa disepakati di akhir tahun 2026,” ujarnya dalam Public Expose WIKA, Kamis (1/10/2026).
Di samping itu, WIKA bakal divestasi aset sebesar Rp 5 triliun secara keseluruhan dilakukan bertahap selama 2026-2028. Pelepasan aset ini merupakan bagian dari restrukturisasi keuangan WIKA yang diusulkan ke perbankan dan pemegang obligasi.
WIKA juga akan menyelesaikan kewajiban perbankan melalui penyelesaian divestasi di anak perusahaan.
Nantinya, anak perusahaan WIKA akan melakukan divestasi dan kemudian divestasi itu dikembalikan ke WIKA sebagai holding dalam bentuk pengembalian shareholder loan. Shareholder loan ini lalu akan dikembalikan ke surat utang dan perbankan.
“Pada saat kami mengusulkan untuk rekturisasi, salah satu penyelesaiannya adalah divestasi sebagai bagian yang satu kesatuan,” katanya.
Direktur Utama WIKA, I Ketut Pasek Senjaya Putra menambahkan, divestasi aset difokuskan untuk penyelesaian utang berskala besar.
Objek divestasi mencakup kepemilikan mayoritas maupun minoritas pada sejumlah ruas jalan tol, bisnis jasa pengelolaan air, hingga sektor energi.
“Keuntungan daripada divestasi ini tentunya akan kami lakukan untuk membayar pelunasan utang,” ujarnya dalam kesempatan yang sama.
Direktur WIKA Sonny Setyadhy merinci, untuk tahun 2026 targetnya ada empat aset yang ingin didivestasikan dengan total target Rp 1,9 triliun. Yaitu, PT Wika Tirta Jaya Jatiluhur (WTJJ), PT Citra Marga Lintas Jabar (CMLJ), Wika Laswi, dan Tol Patimban.
Untuk tahun 2027, ada tiga aset yang direncanakan akan dilepas dengan total Rp 276 miliar.
”Yaitu, di hydro, anak perusahaan yaitu WR Hotel Khas, dan Witon dengan pelepasan aset hanya Rp 5 miliar,” katanya.
Selain itu, WIKA juga akan kembali ke core business yang akan menghasilkan return signifikan, yaitu minimal 8% untuk proyek JO dan proyek biasa di atas 10%. Program streamlining ini juga bagian dari rekturisasi.
“WIKA akan fokus kepada efisiensi di biaya usaha, efisiensi ke unit bisnis, dan menjadikan unit bisnis WIKA related to core business,” ungkapnya.
Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, Ekky Topan melihat, WIKA tetap memiliki potensi untuk mulai pulih pada 2027, tetapi prosesnya kemungkinan tidak akan cepat dan belum mengarah pada normalisasi penuh.
Dari sisi operasional sebenarnya sudah mulai terlihat beberapa perbaikan, tetapi tekanan dari struktur utang, beban keuangan, arus kas, serta posisi permodalan masih cukup besar.
“Karena itu, tahun 2027 lebih tepat dilihat sebagai periode lanjutan dari proses turnaround dibandingkan tahun di mana kondisi WIKA langsung kembali normal,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (1/10/2026).
Untuk mempercepat pemulihan, WIKA harus menyelesaikan restrukturisasi kewajibannya sekaligus memperbaiki kualitas bisnis inti.
Dari sisi kontrak baru, yang dibutuhkan bukan hanya pertumbuhan nilai kontrak yang besar, tetapi kontrak yang memiliki margin sehat, kebutuhan modal kerja lebih rendah, serta jadwal pembayaran yang lebih baik.
“Hal ini penting karena mengejar kontrak dalam jumlah besar tanpa kualitas proyek yang baik justru berisiko kembali menekan cash flow maupun menimbulkan cost overrun,” katanya.
Selain itu, WIKA perlu menjaga perbaikan gross margin melalui selektivitas proyek, efisiensi biaya, divestasi aset non-core, serta mengurangi eksposur terhadap proyek atau investasi yang terus menghasilkan kerugian.
“Jadi indikator pemulihan WIKA ke depan menurut kami bukan hanya seberapa besar kontrak baru yang didapatkan, tetapi juga apakah kontrak tersebut mampu menghasilkan cash flow dan margin yang positif,” ungkapnya.
Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama sepakat. Dia melihat peluang WIKA untuk pulih pada tahun 2027 masih terbuka, tapi kuncinya ada di eksekusi restrukturisasi.
Namun, bukan hanya utang yang harus disehatkan, tapi juga kualitas kontrak, margin proyek, collection piutang dan cashflow.
“Artinya, WIKA sebaiknya tidak sekadar mengejar pertumbuhan kontrak, tapi kontrak yang profitable,” ujarnya kepada Kontan, Kamis.
WIKA sendiri menargetkan nilai kontrak baru Rp 25,7 triliun di tahun 2027, naik sekitar 20% dari target tahun 2026. Secara stand alone, dari holding berkontribusi pada peningkatan raihan itu sebesar 16,9% dan entitas anak 8,7%.
Tak hanya itu, kepemilikan WIKA di PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) juga menjadi kunci utama dalam pemulihan. Alhasil, rencana pengambilalihan saham BUMN di KCIC bisa membantu kinerja WIKA ke depan.
Sebagai gambaran, porsi kepemilikan Indonesia saat ini ada di kisaran 60% pada PT KCIC, dengan 40% sisanya dimiliki konsorsium asal China.
Kepemilikan Indonesia di PT KCIC dipegang oleh dipegang oleh PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), yang merupakan konsorsium beranggotakan PT Kereta Api Indonesia (KAI), WIKA, PT Jasa Marga Tbk (JSMR), dan PT Perkebunan Nusantara VIII.
Di PSBI, WIKA menggenggam saham 33,36% dan JSMR memiliki 7,08%. Per kuartal I 2026, WIKA menanggung cost overrun Rp 5,02 triliun dan harus menderita rugi Rp 1,8 triliun per tahun dari KCIC.
Ekky melihat, selama ini WIKA memiliki eksposur cukup besar terhadap PSBI dan kerugian dari investasi tersebut menjadi salah satu faktor yang terus menekan kinerja perseroan.
Apabila eksposur tersebut dapat dikurangi atau dilepaskan, salah satu sumber tekanan terhadap laba WIKA juga berpotensi berkurang.
Namun, hal ini harus dilihat lebih hati-hati. Sebab, sebelumnya pemerintah menargetkan proses pengalihan pengelolaan kewajiban Whoosh pada 15 September 2026.
Setelah terjadi pergantian Menteri Keuangan dari Purbaya Yudhi Sadewa kepada Suahasil Nazara pada 14 September, jadwal tersebut belum terealisasi sesuai rencana awal dan pemerintah masih menyelesaikan proses finalisasi.
“Karena itu, masih diperlukan konfirmasi mengenai skema final, besaran kewajiban yang benar-benar dialihkan, serta kapan implementasinya dilakukan,” katanya.
Potensi delisting saham WIKA juga masih ada dan tidak dapat sepenuhnya diabaikan. Sebab, saham WIKA telah mengalami suspensi cukup lama dan kondisi keuangannya masih dalam proses restrukturisasi.
“Beberapa kuartal ke depan akan cukup krusial untuk melihat apakah WIKA dapat menghasilkan progres nyata dari restrukturisasi, penyelesaian kewajiban dan perbaikan operasionalnya,” ungkapnya.
Untuk investor yang saat ini sudah memiliki saham WIKA, secara praktis memang belum banyak tindakan yang dapat dilakukan selama saham masih berada dalam status suspensi.
Investor pun pada akhirnya harus menunggu sampai terdapat keputusan lebih lanjut dari BEI mengenai pembukaan kembali perdagangan saham WIKA.
Selama periode tersebut, kata Ekky, penting bagi investor untuk memonitor perkembangan fundamental dan restrukturisasi WIKA.
Beberapa indikator utama yang perlu diperhatikan adalah penyelesaian restrukturisasi obligasi dan sukuk, perkembangan pengalihan eksposur Whoosh, perbaikan arus kas operasi, posisi ekuitas, pertumbuhan kontrak baru yang berkualitas serta kemampuan perusahaan mempertahankan perbaikan margin.
Apabila beberapa faktor tersebut menunjukkan perkembangan positif dan pada akhirnya suspensi dibuka kembali, barulah investor dapat melakukan evaluasi ulang terhadap posisi investasinya berdasarkan kondisi fundamental WIKA pada saat itu.
“Sebaliknya, apabila restrukturisasi terus mengalami penundaan, tekanan terhadap ekuitas semakin besar atau tidak terdapat perbaikan cash flow yang berarti, risiko bagi pemegang saham tetap tinggi,” kata Ekky.
Elandry menegaskan, WIKA saat ini masih merupakan high risk restructuring story. Jadi yang perlu dipantau adalah tiga hal, yaitu restrukturisasi utang, perbaikan margin proyek dan positive operating cashflow.
“Kalau tiga indikator ini mulai konsisten membaik, market sentiment terhadap WIKA juga berpotensi ikut pulih,”ungkapnya.
Baca Juga: Pemerintah Tebar Stimulus Rp 31 Triliun, Saham Consumer Ini Berpotensi Terdongkrak
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














