kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.007,14   -0,66   -0.07%
  • EMAS987.000 -0,20%
  • RD.SAHAM -0.30%
  • RD.CAMPURAN -0.02%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.01%

Wall Street turun lagi karena lonjakan inflasi


Kamis, 11 November 2021 / 06:09 WIB
Wall Street turun lagi karena lonjakan inflasi
ILUSTRASI. Wall Street ditutup melemah tajam pada hari Rabu (10/11) karena melonjaknya harga konsumen.


Reporter: Wahyu Tri Rahmawati | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Wall Street ditutup melemah tajam pada hari Rabu (10/11) karena melonjaknya harga konsumen menahan selera risiko investor. Kenaikan harga konsumen memicu kekhawatiran gelombang inflasi panas yang berkepanjangan.

Ketiga indeks saham utama Amerika Serikat (AS) jatuh. Penurunan Wall Street ini melanjutkan koreksi pada perdagangan kemarin dan menghentikan reli di rekor tertinggi awal pekan.

Rabu (10/11), Dow Jones Industrial Average turun 240,04 poin atau 0,66%, menjadi 36.079,94. S&P 500 melemah 38,54 poin atau 0,82% menjadi 4.646,71. Nasdaq Composite turun 263,84 poin atau 1,66%menjadi 15.622,71.

Baca Juga: IHSG Berpeluang Terus Menembus Rekor Baru

"Tidak mengherankan bahwa setelah apa yang benar-benar merupakan perjalanan bersejarah bagi pasar untuk mengambil jeda," kata Ross Mayfield, analis strategi investasi di Baird di Louisville, Kentucky kepada Reuters. Dia menambahkan bahwa masih ada potensi pendorong bursa untuk naik lebih tinggi menuju akhir tahun.

Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa indeks harga konsumen (CPI) naik lebih tinggi ketimbang perkiraan sebesar 0,9%. CPI naik pada laju tertinggi tahunan dalam 31 tahun terakhir.

Laporan tersebut mengisyaratkan bahwa rantai pasokan global yang terus-menerus kusut dapat mengakibatkan gelombang inflasi. Gangguan rantai pasok membutuhkan waktu lebih lama untuk mereda daripada yang diharapkan banyak orang, termasuk Federal Reserve.

Baca Juga: IHSG beberapa kali sentuh rekor, begini proyeksinya hingga akhir tahun

"Ini akan mempengaruhi kebijakan Fed dan kebijakan fiskal, itu adalah pendorong suku bunga. Sulit untuk membicarakan apa pun selain inflasi," ujar Mayfield

Gregory Daco, kepala ekonom Oxford Economics percaya laporan ini berarti lonjakan harga saat ini memiliki daya tahan. "Saya pikir segalanya akan terus memburuk sebelum menjadi lebih baik dalam hal prospek inflasi karena kita tidak melihat inflasi inti memuncak sampai sekitar awal 2022," kata Daco.

Musim pendapatan kuartal ketiga telah mencapai batas terakhir. Dari perusahaan yang telah melaporkan, 81% telah mengalahkan ekspektasi pasar.

Baca Juga: Simak rekomendasi teknikal saham AMRT, BNGA, dan CPIN untuk perdagangan Kamis (11/11)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×