kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.806.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.585   -5,00   -0,03%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

Wall Street turun, investor khawatirkan efek perang dagang terhadap perusahaan AS


Rabu, 02 Mei 2018 / 04:39 WIB
Wall Street turun, investor khawatirkan efek perang dagang terhadap perusahaan AS
ILUSTRASI. Seorang trader tengah bekerja di lantai bursa New York Stock Exchange (NYSE)


Sumber: Reuters | Editor: Hasbi Maulana

KONTAN.CO.ID - NEW YORK, AS. Saham-saham d bursa Amerika Serikat (AS) keluar dari posisi terendah harian setelah Perwakilan Perdagangan AS Robert Lighthizer mengatakan tidak ingin mengubah sistem ekonomi China, melainkan hanya ingin membatasi kerusakan yang ditimbulkannya terhadap Amerika Serikat dan mendorong lebih banyak kompetisi asing.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 179,55 poin (-0,74%) menjadi 23.983,6. Indeks S&P 500 turun 5,41 poin (-0,20%) menjadi 2,642.64. Adapun Nasdaq Composite naik 32,66 poin (0,46%) menjadi 7.098,93.

Selasa kemarin, Sekretaris Perdagangan AS Wilbur Ross juga mengatakan bahwa pemerintahan Trump siap untuk memungut tarif terhadap China jika delegasi Amerika yang menuju ke Beijing tidak mencapai kesepakatan ketidakseimbangan perdagangan.

Berita itu muncul setelah Presiden Donald Trump pada hari Senin memperpanjang pembebasan sementara tarif logam untuk Uni Eropa, Kanada, dan Meksiko hingga 1 Juni. Perpanjangan pengecualian itu baru ditetapkan beberapa jam sebelum tarif itu mulai berlaku.

Data dari Institute for Supply Management mengindikasikan lonjakan biaya bahan baku perusahaan AS sebagian akibat tarif impor baja dan aluminium yang dikenakan oleh administrasi Trump. Ini juga menunjukkan bahwa aktivitas pabrik AS melambat selama dua bulan berturut-turut pada bulan April.

Meski laba emiten pada kuartal pertama 2018 diperkirakan tumbuh terbaik dalam tujuh tahun terakhir, para investor terlanjur berfokus pada ancaman kenaikan biaya terhadap perusahaan.

"Bendera merah ada di mana-mana," kata Jim Awad, direktur senior Hartland & Co di New York. "Kami akhirnya mendapatkan inflasi yang sampai saat ini sangat sulit dipahami."

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Survei KG Media

TERBARU

[X]
×