Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Bursa saham Amerika Serikat (AS) berhasil pulih dari penurunan awal dan ditutup menguat tipis pada perdagangan Kami (1/l10/2026).
Indeks S&P 500 bangkit dari level terendah dalam dua minggu seiring berbaliknya arah aksi jual obligasi global yang sebelumnya sempat mendorong imbal hasil (yield) Surat Utang Negara (SUN) AS ke level tertinggi dalam beberapa dekade.
Pada awal perdagangan, pasar saham sempat berada di bawah tekanan akibat rilis data ekonomi yang terus menunjukkan kekuatan ekonomi AS dan tekanan harga yang persisten.
Baca Juga: Stimulus Rp 31 T Cair, Saham ICBP, AMRT, MYOR, MIDI Diprediksi Akan Diuntungkan
Hal ini memicu kekhawatiran bahwa inflasi dapat memaksa Bank Sentral AS (Federal Reserve) menjadi lebih agresif dalam menaikkan suku bunga.
Kementerian Tenaga Kerja AS melaporkan klaim awal tunjangan pengangguran mingguan turun menjadi 197.000, lebih rendah dari perkiraan para ekonom dalam survei Reuters sebesar 200.000.
Data ini menambah deretan laporan ekonomi pekan ini yang menegaskan solidnya pasar tenaga kerja menjelang rilis laporan penggajian (payrolls) pemerintah pada hari Jumat.
Imbal hasil SUN AS sempat melanjutkan kenaikan, di mana imbal hasil acuan tenor 10 tahun menyentuh level tertinggi dalam 24 tahun setelah menutup kuartal September dengan kenaikan kuartalan terbesar sejak 1994.
Tekanan terhadap saham kian bertambah setelah Institute for Supply Management (ISM) melaporkan indeks Manufaktur PMI bulan lalu merosot ke level 54,5 dari 54,6 pada bulan Agustus, disertai lonjakan harga input yang memicu kekhawatiran inflasi.
Baca Juga: IHSG Berpeluang Melanjutkan Koreksi pada Jumat (2/10), Cermati Saham Berikut Ini
Imbal Hasil SUN AS Berbalik Turun
Arah pergerakan imbal hasil obligasi berbalik melorot setelah aksi beli mulai masuk. Penurunan berlanjut setelah Wakil Ketua The Fed Philip Jefferson mengisyaratkan bahwa bank sentral mungkin akan lebih bersabar sebelum menaikkan suku bunga kembali, menyusul kenaikan 25 basis poin pada bulan September.
Imbal hasil SUN AS tenor dua tahun—yang biasanya bergerak seirama dengan ekspektasi suku bunga The Fed—turun sekitar 10 basis poin dan berada di jalur penurunan harian terbesar sejak Agustus 2025.
"Meskipun valuasi telah turun, pasar masih belum bisa dikatakan murah. Jadi saya tidak pesimistis (bearish) terhadap pasar saham. Kita masih bisa terus merambat naik, tetapi saya memperkirakan volatilitas yang lebih tinggi baik di pasar saham maupun obligasi," ujar Scott Welch, Chief Investment Officer di Certuity, Potomac, Maryland.
"Semua orang sedang menyesuaikan diri dengan era new normal. Tidak ada hal yang sangat menakutkan dari apa yang terjadi di pasar saat ini; ini hanya sedikit berbeda dari apa yang biasa dihadapi orang-orang dalam beberapa tahun terakhir, dan butuh penyesuaian."
Baca Juga: IHSG Tertekan 6 Hari Beruntun, Cermati Proyeksi dan Saham Pilihan Analis
Pada penutupan perdagangan
Dow Jones Industrial Average naik 20,69 poin (0,04%) ke level 50.926,74., S&P 500 menguat 14,94 poin (0,20%) ke level 7.666,48, dan Nasdaq Composite bertambah 10,53 poin (0,04%) ke level 26.871,60.
Kenaikan harga minyak turut menyeimbangkan kekhawatiran inflasi. Harga minyak mentah Brent melonjak lebih dari $4 per barel setelah Tiongkok menangguhkan ekspor bahan bakar, yang mengancam memperketat pasokan pasar.
Lonjakan harga minyak mentah mendorong indeks sektor energi S&P 500 naik 1,9%, menjadikannya sektor dengan kinerja terbaik di antara 11 sektor utama S&P.
Baca Juga: IHSG Tertekan, Asing Terus Keluar Saat Short Selling Mulai Berlaku 1 Oktober 2026
Sektor teknologi juga menunjukkan kekuatan dengan menguat 0,8%. Saham-saham perangkat lunak naik 1% terdorong oleh hasil kinerja Accenture.
Saham perusahaan konsultan TI tersebut melonjak ke level tertinggi sejak 6 Maret setelah memproyeksikan pertumbuhan pendapatan setahun penuh di atas perkiraan.
Sementara itu, saham Micron Technology ditutup naik 3% didorong oleh proyeksi pendapatan yang lebih baik dari perkiraan serta komitmen pesanan pelanggan senilai $32 miliar di bawah perjanjian pasokan, yang memperkuat keyakinan investor terhadap tren kecerdasan buatan (AI).
Di sisi lain, data inflasi yang lebih melandai pada hari Rabu turut meredam ekspektasi bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada pertemuan Oktober.
Berdasarkan indikator CME FedWatch, pasar kini hanya memperhitungkan peluang sebesar 28,2% untuk kenaikan suku bunga minimal 25 basis poin, turun drastis dari 68,6% pada pekan sebelumnya.
Menanggapi pernyataan Jefferson, Presiden Federal Reserve Minneapolis Neel Kashkari menyampaikan bahwa ia memperkirakan kenaikan suku bunga tambahan masih diperlukan untuk menahan laju ekonomi hingga 2027, meskipun ia belum memastikan apakah langkah tersebut harus dilakukan pada bulan ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














