kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.574.000   -20.000   -0,77%
  • USD/IDR 17.909   -32,00   -0,18%
  • IDX 5.926   -10,17   -0,17%
  • KOMPAS100 765   -0,18   -0,02%
  • LQ45 589   -1,71   -0,29%
  • ISSI 206   -0,73   -0,35%
  • IDX30 328   -1,45   -0,44%
  • IDXHIDIV20 422   -0,98   -0,23%
  • IDX80 87   -0,08   -0,10%
  • IDXV30 116   -0,04   -0,04%
  • IDXQ30 108   -0,46   -0,42%

Wall Street Dibuka Bervariasi Selasa (13/10), Saham Chip Kembali Tertekan


Selasa, 13 Oktober 2026 / 20:55 WIB
Wall Street Dibuka Bervariasi Selasa (13/10), Saham Chip Kembali Tertekan
ILUSTRASI. Wall Street - Bursa AS (REUTERS/Jeenah Moon)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Indeks saham Amerika Serikat (AS) bergerak bervariasi pada pembukaan perdagangan Selasa (13/10/2026).

Tekanan saham semikonduktor membebani indeks S&P 500 dan Nasdaq, sementara investor mencermati laporan kinerja kuartalan sejumlah bank besar AS yang mengawali musim laporan keuangan.

Melansir Reuters, pada pembukaan perdagangan, Dow Jones Industrial Average naik 242,4 poin atau 0,47% ke level 52.092,99.

Sebaliknya, indeks S&P 500 turun 12 poin atau 0,15% ke 7.795,27, sedangkan Nasdaq Composite melemah 107,2 poin atau 0,39% ke 27.138,729.

Baca Juga: Konflik Timur Tengah Memanas, Harga Minyak Brent Berpotensi Tembus US$ 115 per Barel

Pergerakan saham bank menjadi salah satu fokus investor. Saham Goldman Sachs menguat 3,5% setelah bank tersebut melaporkan kenaikan laba kuartal III-2026, ditopang aktivitas transaksi korporasi yang stabil dan peningkatan pendapatan perdagangan.

Saham UnitedHealth juga naik 4,4% dalam perdagangan premarket setelah perusahaan tersebut menaikkan proyeksi laba 2026. Kenaikan ini didukung upaya pengendalian biaya medis dan perbaikan margin di sejumlah unit bisnis.

Namun, tidak semua bank mencatatkan kinerja yang disambut positif pasar. Saham JPMorgan Chase turun 0,7% setelah kinerjanya tidak memenuhi ekspektasi laba, sedangkan Wells Fargo merosot 2,9% setelah pendapatan bunga bersihnya berada di bawah perkiraan.

Saham Citigroup terkoreksi 0,4%, sementara Johnson & Johnson turun 2,2%, meskipun keduanya membukukan laba kuartalan yang melampaui estimasi analis.

Baca Juga: Konflik Houthi dan Arab Saudi Makin Panas, Begini Prediksi Harga Minyak Dunia

Harapan terhadap musim laporan keuangan yang kuat sebelumnya menopang pasar saham AS di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik, lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah, dan kekhawatiran inflasi.

Berdasarkan data yang dihimpun LSEG, laba perusahaan-perusahaan yang tergabung dalam indeks S&P 500 pada kuartal Juli–September diperkirakan tumbuh 30,6% secara tahunan. Perusahaan teknologi dan energi diproyeksikan mencatatkan pertumbuhan laba terbesar.

Di sisi lain, saham perusahaan semikonduktor kembali tertekan setelah aksi jual pada perdagangan Senin.

Tekanan ini muncul di tengah perhatian pasar terhadap laporan kemajuan teknologi yang dicapai perusahaan semikonduktor China, ChangXin Memory Technologies (CXMT), yang memicu kekhawatiran mengenai persaingan di industri chip.

Manajer portofolio senior Dakota Wealth Robert Pavlik menilai pelemahan saham chip mencerminkan aksi ambil untung oleh investor.

“Ini semacam aksi ambil untung yang membuat investor bergegas keluar,” kata Pavlik.

Baca Juga: Tertinggal dari Singapura, Industri Kripto RI Dinilai Perlu Jawab Tantangan Ini

Menurut dia, persaingan dari China berpotensi mengambil sebagian pangsa bisnis perusahaan-perusahaan chip besar.

Meski demikian, ia menilai persaingan tersebut tidak serta-merta akan menghilangkan seluruh bisnis perusahaan yang sudah mapan. Namun, kehilangan sebagian bisnis tetap dapat berdampak negatif terhadap kinerja perusahaan terkait.

Saham Nvidia turun 0,8%, sedangkan Advanced Micro Devices (AMD) melemah 1,9% dan Marvell Technology terkoreksi 3%.

Tekanan lebih besar terjadi pada saham produsen memori dan penyimpanan data. Micron Technology turun 4,8%, sementara Western Digital, Seagate, dan Sandisk melemah di kisaran 6%–7%.

Dari pasar komoditas, harga minyak turun ketika investor menimbang risiko pasokan akibat serangan terhadap Arab Saudi serta peluang tambahan pasokan diesel dari Rusia.

Sebelumnya, lonjakan harga minyak akibat konflik AS-Iran telah meningkatkan kekhawatiran inflasi global.

Baca Juga: Transaksi Kripto di CFX Tembus Rp 22,1 Triliun pada September 2026

Kondisi tersebut turut mendorong imbal hasil obligasi ke level tertinggi dalam beberapa dekade dan meningkatkan risiko bank sentral mempertahankan kebijakan moneter yang lebih ketat.

Meski demikian, data ekonomi AS terbaru yang menunjukkan kenaikan inflasi lebih rendah dari perkiraan serta pelemahan pertumbuhan lapangan kerja telah mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat.

Investor kini menantikan rilis data indeks harga konsumen, indeks harga produsen, dan penjualan ritel AS yang dijadwalkan pekan ini.

Pernyataan Presiden Federal Reserve Bank of Richmond Thomas Barkin dan Presiden Federal Reserve Bank of Boston Susan Collins juga akan dicermati untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan moneter AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?

Video Terkait



TERBARU
KONTAN10.10
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×