Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Bursa saham Amerika Serikat (AS) menguat pada perdagangan Selasa (21/7/2026), didorong pemulihan saham-saham semikonduktor yang sebelumnya tertekan.
Penguatan ini mengalihkan perhatian investor dari perkembangan terbaru konflik di Timur Tengah, sementara pelaku pasar menantikan laporan keuangan emiten teknologi besar untuk mengukur prospek bisnis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Kenaikan saham-saham semikonduktor yang sempat terkoreksi tajam menjadi pendorong utama penguatan pasar. Indeks Philadelphia Semiconductor (SOX) melonjak 4,6% dan mencatat kenaikan selama dua hari berturut-turut.
Indeks tersebut mulai pulih setelah pada penutupan perdagangan Jumat pekan lalu sempat terkoreksi lebih dari 20% dari rekor tertingginya pada akhir Juni, yang mengonfirmasi fase pasar bearish. Meski demikian, indeks saham chip masih menguat hampir 72% sejak awal tahun.
Saham SanDisk, Western Digital, dan Micron Technology melesat antara 8,3% hingga 10,8%.
Baca Juga: Emiten Danantara Masih Menarik, Analis Jagokan Sejumlah Saham Ini
Dalam beberapa pekan terakhir, saham sektor semikonduktor berada di bawah tekanan karena investor mulai mempertanyakan apakah reli besar sepanjang tahun ini telah melampaui fundamental perusahaan. Pelaku pasar juga mencermati minimnya imbal hasil nyata dari investasi besar yang digelontorkan perusahaan teknologi raksasa atau hyperscaler.
Di indeks acuan S&P 500, sektor teknologi informasi memimpin penguatan dengan kenaikan 2%.
"Kami memperkirakan volatilitas pada saham semikonduktor masih akan berlanjut seiring meredanya kondisi jenuh beli, munculnya aksi ambil untung, dan penyesuaian posisi investor yang terlalu padat," ujar Kepala Strategi Teknikal LPL Financial, Adam Turnquist.
"Secara fundamental, kami tidak melihat adanya perubahan yang signifikan," tambahnya.
Di sisi lain, konflik di Timur Tengah masih menjadi perhatian pasar. Dua kapal tanker yang mengangkut minyak mentah Arab Saudi menuju Asia dilaporkan berbalik arah di Laut Merah setelah ancaman dari kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran. Konflik yang meluas tersebut mengganggu jalur pelayaran di dua titik penting perdagangan energi dunia.
Harga minyak mentah Brent sempat melampaui US$ 90 per barel. Namun, sinyal bahwa Teheran dan Washington ingin melanjutkan jalur diplomasi membatasi kenaikan harga.
Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters pada Senin (20/7) bahwa Teheran telah menerima proposal dari para mediator terkait gencatan senjata selama 10 hari sebagai upaya menyelamatkan kesepakatan sementara yang telah dicapai sebelumnya.
Baca Juga: IHSG Naik 1,74% ke 6.340, Asing Lepas Saham ASII hingga TLKM, Selasa (21/7)
Pada pukul 11.46 waktu setempat, indeks Dow Jones Industrial Average naik 358,11 poin atau 0,69% menjadi 52.197,37. Sementara itu, indeks S&P 500 menguat 58,11 poin atau 0,78% ke level 7.501,39 dan Nasdaq Composite melonjak 316,86 poin atau 1,24% menjadi 25.824,93.
Penguatan tersebut terjadi setelah tiga sesi perdagangan berturut-turut berakhir di zona merah.
Investor Menunggu Laporan Keuangan Emiten Teknologi
Fokus investor pekan ini akan tertuju pada laporan keuangan Alphabet dan Intel. Kinerja kedua perusahaan tersebut dinilai dapat menjadi penentu apakah reli saham yang ditopang optimisme terhadap AI masih memiliki ruang untuk berlanjut di tengah tingginya ekspektasi keuntungan.
"Saat ini, pasar tidak lagi hanya memperhatikan besarnya belanja modal secara agregat. Fokus berikutnya adalah tingkat pengembalian investasi dan kualitas pengeluaran, dan kami menilai hal tersebut akan semakin menjadi perhatian pada paruh kedua tahun ini," kata Turnquist.
Ketidakpastian pasar juga bertambah setelah Presiden AS Donald Trump pada Senin mengumumkan tarif impor sebesar 50% untuk berbagai produk asal Kanada.
Financial Times melaporkan bahwa Trump juga diperkirakan akan memberlakukan tarif baru terhadap puluhan negara lainnya mulai pekan ini, menjelang berakhirnya tarif global sebesar 10% pada Jumat mendatang.
Baca Juga: IHSG Menguat 9 Hari Berturut-turut, Intip Saham yang Diborong Asing, Selasa (21/7)
Pergerakan Saham Individual
Di antara saham yang bergerak signifikan pada awal perdagangan, saham 3M melonjak 9,2% setelah perusahaan industri tersebut menaikkan proyeksi laba sepanjang tahun.
Sebaliknya, saham Danaher anjlok 13,7% setelah perusahaan ilmu hayati itu memangkas proyeksi pertumbuhan pendapatan inti dan membukukan pendapatan bisnis bioteknologi yang lebih lemah dari perkiraan pasar.
Saham MSCI turun 8,9% setelah penyedia indeks tersebut menaikkan proyeksi beban operasional tahunan meskipun pendapatan kuartalannya melampaui ekspektasi analis.
Sementara itu, saham Genuine Parts merosot 6% setelah distributor suku cadang otomotif tersebut menurunkan prospek laba sepanjang tahun.
Secara keseluruhan, jumlah saham yang menguat mengungguli saham yang melemah dengan rasio 1,38 banding 1 di Bursa Efek New York (NYSE) dan 1,57 banding 1 di Nasdaq.
Indeks S&P 500 mencatat sembilan saham yang menyentuh level tertinggi dalam 52 minggu terakhir dan enam saham yang mencapai titik terendah baru. Di sisi lain, Nasdaq Composite membukukan 35 saham pada level tertinggi baru dan 88 saham pada level terendah dalam setahun terakhir.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
