Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak dunia turun pada Selasa (13/10/2026). Namun, eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya akibat rentetan serangan kelompok Houthi ke Arab Saudi, bisa kembali memanaskan harga minyak.
Melansir data Trading Economics pada Selasa (13/10/2026) jam 18:50 WIB, harga minyak jenis WTI berada di level 92,508 per barel, melemah 1,232 poin atau turun 1,31%. Sementara harga minyak Brent tercatat di level 104,907 per barel, turun 1,743 poin atau melemah 1,63%.
Analis Komoditas sekaligus Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono mengatakan, dinamika di kawasan Timur Tengah berdampak langsung pada ongkos logistik dan asuransi.
Perusahaan pelayaran terpaksa menaikkan premi risiko perang (war risk premium) secara drastis atau mengambil rute memutar melalui Tanjung Harapan yang berujung pada tingginya ongkos angkut minyak.
"Di satu sisi, ancaman pasokan menopang harga di level tinggi. Namun di sisi lain, harga energi yang bertahan di atas US$ 100 per barel mulai memicu destruksi permintaan (demand destruction) dan memperlambat aktivitas manufaktur global," kata Wahyu, Selasa (13/10/2026).
Baca Juga: Harga Emas Berpeluang Menguat, Simak Support dan Resistance Berikut
Menghadapi pasar yang sangat reaktif terhadap sentimen berita (headline-driven market), investor disarankan untuk lebih cermat membedakan antara kerusakan fisik permanen pada fasilitas produksi dan sekadar klaim militer.
Strategi buy on weakness di area support teknikal dinilai jauh lebih terukur dibandingkan aksi panic buying, mengingat volatilitas harian di pasar bisa melonjak antara 2% dan 4%.
Wahyu memproyeksikan hingga akhir 2026 harga minyak WTI bergerak di kisaran umum US$ 75 – US$ 105 per barel, dengan potensi melambung ke US$ 85 – US$ 110 dalam skenario eskalasi berkelanjutan.
Sementara itu, minyak Brent diproyeksikan bergerak di rentang US$ 80 – US$ 110 per barel dan bisa menembus rentang US$ 95 – US$ 120 per barel jika serangan meluas ke fasilitas pemrosesan utama.
Sebaliknya, apabila jalur logistik maritim kembali beroperasi dengan aman, harga minyak Brent berpeluang melandai ke rentang US$ 75 – US$ 100 per barel.
Baca Juga: Setelah Tumbang, IHSG Punya Peluang Rebound pada Rabu (14/10)?
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














