Reporter: Maggie Quesada Sukiwan | Editor: Havid Vebri
JAKARTA. Perdagangan obligasi korporasi di pasar sekunder selama November 2015 terbilang ramai.
Mengacu data Indonesia Bond Pricing Agency (IBPA) per November 2015, volume transaksi obligasi korporasi melambung 33,6% (mom) dari semula Rp 11,82 triliun menjadi Rp 15,79 triliun. Periode sama, frekuensi transaksi obligasi korporasi juga menggemuk dari 1.789 kali menjadi 1.828 kali.
Analis Sucorinvest Central Gani Ariawan menjelaskan, ada dua faktor yang mendorong kenaikan volume dan frekuensi transaksi obligasi korporasi selama November 2015.
Pertama, situasi pasar surat utang yang lebih kondusif dibandingkan kondisi pada akhir kuartal III 2015. Ketidakpastian global memang sudah mereda. Spekulasi kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Sentral Amerika Serikat (AS) alias The Fed sudah berpindah ke pertengahan Desember 2015 mendatang.
Katalis positif juga berasal dari dalam negeri. Inflasi domestik Januari 2015 – November 2015 tercatat 2,37%, lebih rendah ketimbang target Bank Indonesia (BI) yang dipatok 3% - 5%.
“Pada Oktober 2015, market mulai membaik dan berlanjut hingga November 2015. Pergerakannya cenderung lebih stabil,” tukasnya.
Kedua, adanya penerbitan obligasi korporasi anyar sebesar Rp 3,41 triliun sepanjang November 2015. Hal ini mendorong investor untuk bertransaksi di pasar sekunder. Apalagi obligasi korporasi memberikan return yang lebih tinggi ketimbang Surat Utang Negara (SUN).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)