kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45963,73   -4,04   -0.42%
  • EMAS1.310.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Volume Penjualan Vale (INCO) Berpotensi Tumbuh di Tengah Tekanan Harga Nikel


Rabu, 21 Februari 2024 / 20:19 WIB
Volume Penjualan Vale (INCO) Berpotensi Tumbuh di Tengah Tekanan Harga Nikel
ILUSTRASI. Karyawan menyiapkan nikel kering yang akan dikemas sebelum diekspor di pabrik pengolahan milik PT VALE Indonesia di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Jumat (28/7/2023). ANTARA FOTO/Jojon/Spt.


Reporter: Sugeng Adji Soenarso | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja PT Vale Indonesia Tbk (INCO) diproyeksikan turun di 2024. Meski begitu, prospek INCO dinilai tetap positif didorong industri kendaraan listrik.

Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Arinda Izzaty mengatakan, tren pertumbuhan kinerja INCO akan terkoreksi akibat adanya kelebihan pasokan yang menyebabkan tekanan pada harga nikel. 

Ia memperkirakan harga nikel tahun ini berkisar US$ 16.000 - 17.000 per ton setelah rata-rata tahun lalu di kisaran US$ 21.688 per ton.

"Kami menilai hal ini mungkin saja menjadi peluang bagi INCO, menurunnya harga nikel justru akan meningkatkan permintaan akan nikel terutama yang menjadi bahan baku baterai NMC," ujarnya kepada Kontan.co.id, Rabu (21/2).

Baca Juga: SSSG Ace Hardware (ACES) Naik 5,6% pada Januari, Intip Rekomendasi Sahamnya

Adapun, kata Arinda, selama ini kendaraan listrik yang menggunakan NMC adalah kendaraan listrik kelas atas, sehingga dengan menurunnya harga nikel, bukan tidak mungkin dapat menekan harga kendaraan listrik yang menggunakan baterai NMC dan dapat bersaing dengan kendaraan listrik yang menggunakan baterai LFP. 

"Prospek nikel sebagai bahan utama baterai NMC masih cukup menonjol mengingat NFC mendominasi pasar kendaraan listrik sebesar 50%-60% dibandingkan LFP," sambungnya.

Sehingga, di tengah tekanan harga nikel, Arinda memperkirakan adanya potensi pertumbuhan volume penjualan.

Terlebih pemerintah sangat mendukung industri tersebut melalui beberapa insentif, seperti pengurangan PPN 10% bagi pembelian kendaraan listrik yang memiliki Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) sebesar 100%.

Namun, Arinda juga mengingatkan adanya kemungkinan divestasi yang di bawah harga wajar menyebabkan harga saham INCO akan terus menurun hingga mencapai harga divestasi tersebut. 

 

Baca Juga: Kinerja Vale Indonesia (INCO) Diprediksi Melandai di 2024, Ini Pemicunya

Meski begitu, secara jangka panjang dengan MIND ID sebagai pengendali, ia menilai akan menjadikan INCO pemain utama di pasar nikel dan INCO akan mendapat support dari pemerintah seiring dengan adanya hilirisasi nikel.

"Kami merekomendasikan buy dengan target jangka panjang Rp 4.650," imbuhnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×