Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Geliat suku bunga global yang agresif, lonjakan harga minyak mentah, serta meningkatnya premi risiko domestik menjadi kombinasi tekanan berat yang menyeret rupiah mendekati level psikologis Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan data Bloomberg pada Rabu (30/9/2026), rupiah spot berada di level Rp 17.894 per dolar AS atau melemah 87 poin (-0,48%), sementara kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia mencatat rupiah menguat 0,67% ke posisi Rp 17.877 per dolar AS dari hari sebelumnya di level Rp 17.998 per dolar AS.
Lead Economist Bank Danamon Indonesia Irman Faiz menjelaskan bahwa tren pelemahan rupiah ini tidak lagi dipicu oleh faktor tunggal.
Baca Juga: Potensi Rupiah Tembus Rp 18.000 per dolar AS Meningkat, Begini Proyeksi Analis
Tekanan eksternal dan domestik beririsan kuat di tengah dinamika pasar keuangan global yang kurang menguntungkan bagi mata uang emerging market.
Sebelumnya, rupiah sempat menikmati penguatan hingga kisaran Rp 17.500-an pada awal September berkat meredanya tekanan global serta intervensi mata uang regional.
Namun, situasi berbalik cepat setelah bank sentral AS (The Fed) menaikkan suku bunga ke kisaran 3,75%–4,00% dengan sinyal hawkish, diikuti oleh peningkatan US Treasury yield dan eskalasi geopolitik yang mengerek harga minyak dunia.
Dari sisi fundamental domestik, penopang likuiditas valas relatif mengetat menyusul surplus neraca perdagangan Juli yang tercatat sebesar US$ 0,12 miliar setelah mengalami defisit US$ 0,45 miliar pada Juni.
Kendati demikian, Bank Indonesia masih memiliki bantalan yang memadai melalui posisi cadangan devisa sebesar US$ 146,5 miliar per Agustus cukup untuk membiayai sekitar 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
"Menurut kami, ada empat faktor utama, yaitu higher US yields and stronger dollar; kenaikan harga minyak; kebutuhan valas domestik; serta risk premium Indonesia yang meningkat di tengah kekhawatiran pasar terhadap arah fiskal dan kebutuhan pembiayaan pemerintah," ujar Irman kepada Kontan, Rabu (30/9/3036).
Guna mendorong pemulihan (bounce back) nilai tukar, pasar menantikan tiga katalis utama, yakni penurunan yield dan dolar AS, normalisasi harga minyak, serta kembalinya arus modal masuk (foreign inflows) melalui SBN, saham, maupun investasi langsung (FDI).
Di samping itu, konsistensi kebijakan BI dan kedisiplinan fiskal pemerintah menjadi kunci penjaga kepercayaan pasar agar volatilitas tidak berlarut-larut.Menyongsong penujung tahun, pergerakan nilai tukar diproyeksikan masih akan diwarnai volatilitas tinggi pada kuartal IV.
Baca Juga: Samuel Kripto Resmi Jadi Anggota ICEx, Layanan Deposit Rupiah Ditutup Sementara
"Baseline kami untuk akhir 2026 berada di sekitar Rp 17,963/USD, dengan risiko pelemahan sementara dalam jangka pendek pada Oktober-November dapat melampaui level tersebut apabila Fed semakin hawkish, US yield dan minyak tetap tinggi, atau terjadi outflow yang lebih besar," kata Irman.
Kendati ruang penyesuaian suku bunga lanjutan seperti kenaikan BI-Rate menuju 6,25% tetap terbuka untuk mengantisipasi risiko imported inflation jika pelemahan menjadi persisten, peluang penguatan rupiah terbuka kembali apabila tekanan eksternal global melandai dan arus modal asing berbalik masuk ke pasar domestik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














