Reporter: Akhmad Suryahadi, Yuliana Hema | Editor: Wahyu T.Rahmawati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah mempersiapkan peluncuran Single Stock Futures (SSF) dalam waktu dekat ini. Berbeda dengan efek lainnya, SSF termasuk dalam produk derivatif.
Pada dasarnya, produk derivatif merupakan efek atau kontrak yang nilainya tergantung pada nilai dari aset yang mendasarinya atau underlying asset. Dalam hal ini, SSF menggunakan underlying saham.
BEI telah memiliki produk derivatif dengan underlying indeks dan surat utang, yaitu IDX LQ45 Futures, IDX30 Futures, Indonesia Government Bond Futures dan Basket Bond Futures.
Namun transaksi keuangan derivatif di BEI sendiri masih sangat sepi bahkan minim sekali. Jika ditelisik, sepanjang tahun ini belum ada transaksi futures sama sekali.
Baca Juga: Indonesia Sharia Stock Index Turun 1,14% Sejak Awal Tahun, Intip Rekomendasi Sahamnya
Sepanjang 2023, transaksi di keuangan derivatif hanya mencapai Rp 47,43 miliar dengan total frekuensi 0,7 kali. Angka itu bahkan kalah dibandingkan transaksi waran terstruktur yang mencapai Rp 841,50 miliar.
Jeffrey Hendrik, Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia menjelaskan berdasarkan analisisnya produk derivatif selama ini tidak likuid disebabkan oleh dua hal utama.
Pertama, selama ini hanya ada satu anggota bursa (AB) yang memiliki mengantongi izin transaksi derivatif. Yakni, PT Universal Broker Indonesia Sekuritas.
"Hal ini tentu menyebabkan jangkauan produk derivatif kepada investor sangat terbatas," kata Jeffrey saat dihubungi Kontan.co.id, Senin (11/3).
Kedua, proses pembukaan rekening derivatif belum bisa sepenuhnya dilakukan secara daring seperti pembukaan rekening saham. Alhasil, investor harus membuka Rekening Dana Derivatif (RDD) secara manual.
Baca Juga: IHSG Diproyeksi Cenderung Menguat pada Rabu (13/3), Cermati Saham Rekomendasi Analis
Berkaca dari produk yang sudah ada, Jeffrey bilang pihaknya akan mengatakan lebih banyak anggota bursa untuk berpartisipasi. Hingga saat ini, sudah ada 16 AB yang menyatakan minatnya.
Kemudian ada enam AB yang siap melakukan uji coba produk SSF ini. Terakhir, sudah ada satu anggota bursa yang bersedia menjadi liquidity provider.
"Dengan demikian penawaran produk derivatif akan dilakukan banyak AB kepada banyak investor," ucap Jeffrey.
Tak hanya itu, Jeffrey mengatakan nantinya juga dapat jauh lebih cepat dan sepenuhnya daring. Ini sejalan dengan berlakunya Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 15 Tahun 2023.
"Dengan aturan tersebut, maka Sub Rekening Efek (SRE) di Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dapat berfungsi sebagai penampung dana sebagai alternatif RDN," katanya.
Baca Juga: Indonesia Sharia Stok Index (ISSI) Turun 1,14% Sejak Awal 2024 Saat IHSG Naik 1,5%
Kehadiran SSF juga memberikan kesempatan bagi investor untuk melindungi nilai portofolio dan mendapatkan keuntungan pada saat market bearish.
Nantinya, akan ada dua kontak yang dapat diikuti investor. Yakni, kontrak beli (long) dan kontrak jual (short). Biasanya kontrak long bisa diambil ketika pasar berpotensi bullish.
Sebaliknya, investor bisa mengambil kontrak jual ketika pasar diprediksi bearish. Kedua kontrak itu diharapkan bisa menjadi pilihan ketika pasar tak menentu.
Nantinya single stock future akan menggunakan underlying saham dari konstituen indeks LQ45 dengan periode kontrak bervariasi dari satu bulan hingga tiga bulan.
Jeffrey memastikan meluncurkan SSF masih sesuai dengan jadwal, paling lambat kuartal I-2024 atau tepatnya pada Maret 2023. Nantinya SSF akan diterbitkan langsung oleh BEI.
Baca Juga: Pasar Saham Buka Lagi Esok, Intip Rekomendasi Saham Untuk Rabu (13/3)
CEO Edvisor Profina Visindo, Praska Putrantyo menilai SSF masih relatif lebih menarik ketimbang indeks futures yang sudah diterbitkan oleh BEI sebelumnya.
"Karena memberikan opsi bagi investor untuk membeli atau menjual saham pada harga dan waktu tertentu. Jadi lebih mirip seperti derivatif kontrak opsi dari suatu saham," ucapnya kepada Kontan.co.id, Selasa (12/3).
Praska menyarankan edukasi kepada para investor untuk SSF perlu lebih ditekankan agar membuat investor lebih sadar sehingga pasar bisa menjadi likuid.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_23102611123400.jpeg)
